<data:blog.pageTitle/>

This Page

has moved to a new address:

http://duniaperpustakaan.com

Sorry for the inconvenience…

Redirection provided by Blogger to WordPress Migration Service
Dunia Perpustakaan | Informasi Lengkap Seputar Dunia Perpustakaan

Friday, June 5, 2020

Mengintip Kemegahan Perpustakaan Nasional Qatar sebagai Symbol Kemajuan dan Kemakmuran

Dunia Perpustakaan | Apa yang anda ingat saat mendengar negara Qatar?

Sebagian besar orang tentunya akan mengingat kalau negara tersebut merupakan negara yang kaya raya, maju, modern, yang intinya menggambarkan symbol kemakmuran dan kemajuan.

Namun dari banyaknya tulisan yang menggambarkan Qatar, masih sedikit kita jumpai yang mengupas dan mengulas terkait dengan keberadaan Perpustakaan di negara tersebut.

Kami secara bertahap ingin sekali membedahnya secara lebih rinci lagi, namun kami harus mengawalinya dengan sedikit mengupas terkait dengan profil Perpustakaan Nasional Qatar.

Profil Perpustakaan Nasional Qatar
Suasana ruangan utama di Perpustakaan Nasional Qatar yang sangat luas, nyaman, dan bikin ketagihan pengunjung untuk datang kesini


Perpustakaan Nasional Qatar atau Qatar National Library ( QNL ) merupakan salah satu organisasi nirlaba di bawah payung Qatar Foundation untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Pengembangan Masyarakat.

Perlu anda ketahui bahwa Qatar Foundation untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Pengembangan Masyarakat merupakan yayasan semi-swasta dan merupakan salah satu organisasi non-profit di Qatar, yang didirikan pada tahun 1995 oleh emir Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani dan istri keduanya Moza binti Nasser . Selain pendanaan swasta, yayasan ini didukung oleh pemerintah dalam beberapa hal didanai pemerintah.

Perpustakaan Nasional Qatar bertujuan untuk melayani 3 fungsi
  1. Sebagai perpustakaan nasional, 
  2. Perpustakaan universitas tingkat penelitian, 
  3. Perpustakaan umum pusat metropolitan yang dilengkapi untuk era digital. 
Dalam kapasitasnya sebagai perpustakaan nasional sebagaimana didefinisikan oleh UNESCO, perpustakaan ini mengumpulkan dan menyediakan akses yang mampu mengakses pengetahuan secara global, termasuk konten warisan dan bahan-bahan yang relevan dengan Qatar dan wilayah tersebut.

Selain tujuan diatas, Perpustakaan Nasional Qatar  juga difungsikan sebagai universitas dan perpustakaan penelitian, mendukung pendidikan dan penelitian di semua tingkatan; sekaligus sebagai perpustakaan umum pusat modern, perpustakaan menyediakan layanan dan sumber daya perpustakaan untuk memenuhi minat baca dan menumbuhkan literasi informasi masyarakat umum. 

Dengan dibukanya Perpustakaan Nasional Qatar  yang baru, perpustakaan terbesar di Qatar ini juga berfungsi sebagai tempat pertemuan komunitas.

Claudia Lux, seorang sarjana Jerman dan profesional perpustakaan, ditunjuk oleh Qatar Foundation untuk menjadi direktur proyek perpustakaan pada April 2012, dan pada awalnya mengawasi peluncuran Perpustakaan Nasional Qatar sebagai perpustakaan digital. 

Pada Oktober 2016, Dr. Sohair Wastawy diangkat sebagai Direktur Eksekutif Perpustakaan Nasional Qatar karena sudah memiliki pengalaman selama selama 30 tahun dalam mengelola perpustakaan.

Koleksi dan Layanan

Koleksi disini sangat lengkap, mulai dari buku-buku lokal, nasional, hingga international ada disini. Pelayanan sangat ramah dan fasilitas sangat memanjakan pengunjung.
Semua koleksi di Perpustakaan Nasional Qatar bisa digunakan secara gratis untuk semua warga negara Qatar atau warga pendatang yang sudah mendapatkan izin dari pemerintah Qatar.

Koleksi di Perpustakaan Nasional Qatar juga bisa diakses secara gratis dengan beragam koleksi, termasuk didalamnya basis data ilmiah internasional dan jurnal akademis terbaik dunia, serta literatur populer, majalah, sumber daya anak-anak, dan musik.

Perpustakaan Nasional Qatar menawarkan berbagai buku dan e-book, dalam bahasa Inggris, Arab, dan bahasa lainnya, termasuk fiksi dan non-fiksi, buku terlaris dan klasik, serta majalah dan jurnal, DVD, CD, dan buku audio. 

Jumlah koleksi di Perpustakaan Nasional Qatar pada tahun 2018, terdiri dari lebih dari 800.000 buku di raknya dan lebih dari 500.000 e-Book, terbitan berkala dan surat kabar, dan koleksi khusus. 

Dengan fasilitas yang super lengkap dengan dukungan koneksi internet yang super cepat, menjadikan anak-anak muda memaksimalkan semua fasilitas disini untuk mengembangkan usaha dan bisnis mereka serta skill masyarakat Qatar.
Sesuai dengan misi Perpustakaan Nasional Qatar untuk membantu mempersiapkan penduduk Qatar agar berpartisipasi dalam ekonomi pengetahuan global, berbagai program dan layanan pendidikan dan pengajaran telah direncanakan yang berfokus pada literasi informasi, literasi awal, keterampilan penelitian, dan menggunakan sumber daya digital.

Di Perpustakaan Nasional Qatar juga menjalankan kegiatan pemrograman pendidikan perpustakaan termasuk klub buku, kelas belajar bahasa, acara musik, dan lokakarya kerajinan, serta acara untuk anak-anak dan keluarga mereka, seperti mendongeng, kerajinan, dan pameran sains.

Perpustakaan Pusaka

Selain kepemilikan umum (Koleksi Utama) dan sumber daya online akademik, Perpustakaan Nasional Qatar juga menyimpan koleksi Perpustakaan Warisan, yang mencakup buku langka, manuskrip, dan bahan-bahan lain yang berkaitan dengan peradaban Arab-Islam. Beberapa koleksi ini sebelumnya dikenal sebagai Perpustakaan Warisan Arab dan Islam, koleksi ini awalnya dimiliki oleh Yang Mulia Sheikh Hassan bin Mohamed bin Ali Al Thani pada tahun 1979, yang kemudian di tahun 2012 diintegrasikan ke Perpustakaan Nasional Qatar.

Perpustakaan Warisan menyediakan berbagai sumber sejarah tentang Qatar dan wilayahnya, termasuk tulisan-tulisan yang ditulis oleh para pelancong dan penjelajah yang mengunjungi wilayah Teluk Persia selama berabad-abad, naskah Arab, peta sejarah dan bola dunia, serta instrumen ilmiah dan foto-foto awal.

Perpustakaan Nasional Qatar ini juga menampilkan sekitar 2.400 manuskrip berharga, di antaranya 'Mushaf' (Al-Qur'an) dan sastra Arab, dengan fokus utama pada ilmu-ilmu seperti geografi, astronomi, dan matematika. 

Koleksinya juga mencakup bahan cetakan mulai dari saat pencetakan pertama kali diperkenalkan di Eropa abad ke-15, termasuk terjemahan Latin yang berasal dari karya-karya abad ke 15 hingga 17 seperti Canon of Medicine of Avicenna (Ibnu Sina) yang terkenal.

Peta dan manuskrip dari Heritage Collection telah didigitalkan dan dapat diakses oleh pengguna terdaftar melalui katalog online perpustakaan. Bagian-bagian dari koleksi yang memiliki signifikansi internasional tertentu juga telah tersedia secara bebas bagi pengguna di seluruh dunia melalui World Digital Library (WDL), yang didukung secara finansial oleh pihak Perpustakaan Nasional Qatar.

Pada Agustus 2015, Perpustakaan Nasional Qatar oleh Federasi Internasional Asosiasi dan Lembaga Perpustakaan  ditunjuk sebagai Pusat Pelestarian dan Konservasi (PAC) wilayah MENA. Ada 13 PAC global lainnya pada saat pengangkatan tersebut.

Perpustakaan Digital Qatar

Perpustakaan Nasional Qatar terus mendigitalkan koleksi mereka agar bisa diakses secara online
Qatar Digital Library (QDL) adalah puncak dari kemitraan antara Qatar Foundation , Qatar National Library, dengan British Library pada tahun 2012.

Kemitraan tersebut berupaya untuk mendigitalkan harta benda warisan yang mendokumentasikan sejarah Arab dan Islam serta untuk membuatnya dapat diakses secara bebas untuk umum melalui Qatar Digital Library (QDL), yang diluncurkan online pada Oktober 2014. 

Qatar Digital Library (QDL), dengan antarmuka bilingual bahasa Inggris dan Arab, mencakup 1,5 juta halaman item yang dipegang oleh British Library yang berkaitan dengan sejarah wilayah Teluk Persia. Ini termasuk dokumen yang berasal dari pertengahan abad ke-18 hingga 1950-an dari India Office Records dan Private Papers(termasuk arsip Perusahaan India Timur dan lembaga penerusnya); dan 25.000 halaman adalah manuskrip ilmiah Arab abad pertengahan. 

Fase 3 dari proyek ini bertujuan untuk mendigitalkan 900.000 halaman lainnya yang dimulai pada Januari 2019.

Gedung Perpustakaan Baru

Dengan gedung barunya, Perpustakaan Nasional Qatar semakin lebih megah dan semakin nyaman dan luas.
Bangunan baru Perpustakaan Nasional Qatar dirancang oleh arsitek Belanda Rem Koolhaas sudah selesai dan dibuka untuk umum dalam soft opening pada bulan November 2017.

Fasilitas perpustakaan yang baru ini sangat canggih, mencakup berbagai pembelajaran kolaboratif dan individual. ruang, perpustakaan anak-anak, koleksi remaja dan dewasa muda, laboratorium komputer, fasilitas produksi media digital, ruang pertunjukan, restoran dan kafe, area teknologi bantu, dan pusat penulisan.

Pada 16 April 2018, Perpustakaan Nasional Qatar  mengadakan upacara pelantikan resminya yang terdiri dari upacara besar, di mana Yang Mulia Emir Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani menempatkan buku sejuta di rak-rak Perpustakaan Nasional Qatar. Satu juta koleksi buku perpustakaan termasuk 137.000 buku anak-anak dan 35.000 buku untuk remaja.

Perpustakaan mengeluarkan kompetisi di mana anggota Qatar Foundation dapat memberi nama kafe yang akan datang. Tiga pemenang terpisah memilih nama pemenang "Safahat," yang berarti halaman dalam bahasa Arab. Kafe dibuka dan mulai melayani publik pada akhir September 2018. Keanggotaan perpustakaan gratis bagi siapa pun yang memegang ID Qatar.

Acara dan Pameran

Tak hanya berfungsi sebagai tempat belajar dan riset, Perpustakaan Nasional Qatar juga berfungsi sebagai tempat rekreasi dan hiburan, dimana Perpustakaan Nasional Qatar juga menampilkan berbagai pameran yang berlangsung di berbagai tempat di sekitar gedung perpustakaan.

Salah satu musik favorit masyarakat Qatar diantaranya yaitu The Qatar Philharmonic Orchestra sehingga Perpustakaan Nasional Qatar rutin mengundangnya pentas disini. 
The Qatar Philharmonic Orchestra melakukan kegiatan rutin bulanan untuk masyarakat secara gratis. Lebih dari 80 acara gratis lainnya diadakan di perpustakaan setiap bulan, termasuk kegiatan kelompok rajutan, di mana wanita datang setiap Kamis dan duduk selama empat jam.

Setelah membaca ulasan singkat yang kami sertakan gambar-gambar terkait Perpustakaan Nasional Qatar diatas, bisa disimpulkan bahwa semua 6 Fungsi Perpustakaan sudah dijalankan oleh Perpustakaan Nasional Qatar.

Enam Fungsi Perpustakaan yang dimaksudkan yaitu sebagai tempat menyimpan koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam, untuk sarana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka.


Bagaimana di Indonesia?
.. Jika di setiap daerah punya perpustakaan selengkap dan senyaman ini, tapi masyarakatnya tetap malas baca dan malas datang ke perpustakaan, mungkin SANGAT BOLEH pustakawan sebut masyakat minat baca rendah dan gak tau nikmatnya berlama-lama di perpustakaan :-) .."

Tapi kalau kondisi perpustakaan masih banyak kekurangan tapi masyarakat divonis minat baca rendah dan malas datang ke perpustakaan, netizen +62 pasti akan berteriak begini,

...Ngapain ke perpustakaan?, pustakawanya gak ramah, koleksinya lawas, koneksi internet super lelet macem keong pincang, kursinya gak nyaman, toilet kotor banget, dan suara negatif lainya
Semoga di Indonesia semakin banyak perpustakaan yang mampu menjalankan 6 Fungsi Perpustakaan sebagaimana yang sudah dijalankan oleh perpustakaan-perpustakaan besar di penjuru dunia.



Labels: ,

Saturday, May 19, 2018

Saat Kejayaan Islam, Umat Islam Sinari Eropa dari Perpustakaan dan Buku

Dunia Perpustakaan | Sejarah Islam | Kejayaan Islam | Jika anda sudah pernah menonton film pendek berjudul  "1001 Inventions and The Library of Secrets", karya Sutradara Alan Deakins, anda akan faham banget bahwa banyak sains di jaman kejayaan islam yang terkesan "dihilangkan/disembunyikan".

Walau film tersebut hanya dibuat singkat sekitar 13 menit, tapi film yang diluncurkan 2010 yang lalu mampu membuka ingatan dan sejarah kita bahwa Islam pernah jaya dari jazirah Arab, Eropa, Afrika, Asia, hingga ke Rusia.

Dan sejarah mencatat, kejayaan tersebut tidak didapat dengan cara aksi teror, sibuk berdebat, sibuk mencela, dan perbuatan buruk sejenis lainnya, melainkan Islam berjaya karena umat Islam saat itu RAJIN MEMBACA, rajin menulis buku, dan rajin membangun perpustakaan, serta menunjukan Islam yang Rahmat untuk semua.

Bagaimana dengan Islam hari ini?

Dari perpustakaan dan buku-buku yang ditulis oleh ilmuwan muslim saat itulah, Islam mampu menembus berbagai pelosok benua di muka bumi ini.

Kami juga sepakat dengan apa yang ditulis oleh republika.co.id yang membuat tulisan berjudul "Dari Buku, Umat Islam Menyinari Eropa".

Menurut kami judul tersebut tidak berlebihan karena sudah sesuai dengan fakta sejarah yang ada.

Untuk anda yang belum membaca tulisan tersebut, berikut tulisan singkatnya,

Peradaban Barat modern justru sepantasnya berterima kasih terhadap upaya- upaya umat Islam yang menyinari Eropa dengan kecintaan terhadap buku. Definisi buku itu sendiri menjadi terfiksasi sejak orang-orang Arab berhasil mengembangkan penemuan penting dari bangsa Cina:teknik membuat kertas.

Pabrik kertas pertama di negeri Muslim ada di Baghdad pada 800. Sejak saat itu, wujud naskah tidak lagi berupa lembaran-lembaran daun, tulang, atau benda apa pun yang diragukan keawe tannya bila disimpan lama di rak-rak. Efeknya, jumlah perpustakaan tumbuh subur di seantero kerajaan-kerajaan Islam.

Sebagai contoh, koleksi Baytul Hikmah di Baghdad saja membeludak menjadi satu juta buku pada 815. Berpuluh tahun kemudian, pada 891 seorang sejarawan mencatat ada lebih dari 100 perpustakaan umum hanya di Baghdad.Kota kecil semacam Najaf punya rumah baca dengan koleksi 40 ribu buku.

Pada abad ke-10, Sultan al-Hakim dari Kordoba, Andalusia, punya koleksi pribadi sebanyak 400 ribu buku. Astronom Muslim asal Persia, Nashruddin al- Tusi (lahir 1201) punya 400 ribu buku.Sultan al-Aziz dari Dinasti Fatimiyyah punya 1,6 juta buku, yang sebanyak 16 ribu dan 18 ribu di antaranya membahas tentang matematika dan filsafat.

Bandingkanlah angka-angka itu dengan kepemilikan buku Charlemagne alias Karel yang Agung, sosok yang dinobatkan sebagai penguasa oleh Paus pada 800.Menurut Garaudy, dia hanya memi liki 900 buku. Kendati begitu, seluruh Eropa menggelarinya sebagai Penguasa yang Pandai.

Semoga saja dari fakta-fakta sejarah tersebut diatas, di bulan ramadhan yang suci ini, dan di tengah kondisi umat islam yang masih rendah minat bacanya, marilah jadikan moment ramadhan ini untuk bangkit dengan dimulai dari meningkatkan aktivitas membaca dan menulis.

Harapanya, semoga umat Islam di penjuru dunia mampu menjadi umat islam yang berpendidikan, berakhlaq mulia, dan menjadi orang-orang yang berperan aktif memberikan manfaat untuk kemajuan ilmu pengetahuan dunia.

Silahkan bantu Like dan SHARE, semoga bacaan ini bisa jadi renungan di bulan Ramadhan.

Mari kita isi bulan Ramadhan dengan perbanyak baca Al-Qur'an, memahami Al-Qur'an, dan MENGAMALKAN Al-QUR'AN.

Jangan SEPELEKAN AL-QUR'AN! Kejayaan ISLAM terdahulu bisa berjaya juga karena ulama dan umatnya saat itu yang MAU  BACA, MEMAHAMI, dan MENGAMALKAN AL-QUR'AN dari satu AYAT IQRA! BACALAH!

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa.

Labels: ,

Friday, April 27, 2018

Kejayaan Islam Karena Literasi, Kemunduran Islam karena Umatnya Tinggalkan Literasi

Dunia Perpustakaan | Di hari jum'at ini sangat cocok untuk yang muslim jika ingin merenung. Salah satu bahan renungan yang perlu kami tekankan adalah terkait betapa pentingnya budaya membaca jika umat muslim ingin kembali meraih masa keemasanya.

"Jangan pernah lupakan Sejarah!"

Pernyataan diatas sangat cocok untuk mengawali renungan kali ini. Sebagai bahan bacaan untuk mengawali renungan kali ini, ada baiknya anda membaca tulisan sebelumnya berjudul "Kemunduran Umat Islam Karena Umatnya Malas Membaca!".

Jika anda sudah membaca tulisan tersebut diatas, mari kita lanjutkan uraian dari ulasan republika.co.id pada 2 tulisan berjudul "Menjamurnya Perpustakaan di Masa Kejayaan Islam" dan juga "Ketika Dinasti-Dinasti Islam Membangun Perpustakaan".

Dari kedua tulisan tersebut, akan kami kupas disini dengan sedikit berbeda namun tanpa mengubah pesan di dalamnya.

Kejayaan Islam Ditopang Perpustakaan


Jika kita membaca sejarah kejayaan serta puncak keemasan, maka hal yang tidak boleh dan tidak bisa ditinggalkan adalah, adanya peran perpustakaan, serta banyaknya ilmuwan muslim yang suka menulis.

Bahkan seorang Prof Raghib as-Sirjani dalam Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia (2009) sampai-sampai berpendapat, tidak ada yang satu masyarakat pun di atas kaum Muslimin dalam hal kecintaan terhadap buku dan perhatian terhadap perpustakaan.

Hal itu membuktikan, betapa umat islam saat itu merupakan umat yang paling suka membaca dan menulis, singkatnya sangat mencintai ilmu pengetahuan [secara umum], tidak hanya ilmu agama saja.

Lebih lanjut, Prof Raghib as-Sirjani mengatakan bahwa, dunia literasi yang ada pada zaman modern sekarang ini merupakan hasil perkembangan yang telah lebih dahulu dirintis oleh umat Islam sebelumnya.

Hal ini bisa dibuktikan bahwa para sultan Muslim di masa lalu sudah lebih dahulu menghadirkan pelbagai macam perpustakaan di Asia, Eropa, dan Afrika, yang pada akhirnya menginspirasi bangsa-bangsa non-Muslim.

Saat kejayaan umat Islam, hampir di penjuru kerajaan dan pusat pemerintahan hingga ke masjid-masjid, semua berlomba-lomba membangun perpustakaan, serta menggerakan umatnya untuk suka membaca dan menulis.

Saat itu, pusat ilmu pengetahuan tak hanya disandang Baghdad saja, melainkan hampir semua dinasti-dinasti Islam lainnya berlomba-lomba membangun perpustakaan guna menjadi yang terbaik.

Darul `Ilmi, Universitas al-Azhar, yang dipelopori Dinasti Fatimiyyah di Kairo, Mesir, misalnya. Sejak awal, para sultan Fatimiyyah hendak meletakkannya dalam konteks persaingan dengan Dinasti Abbasiyah. Bila Baghdad mampu menjadi permata peradaban umat manusia, mengapa Kairo tidak?

Kunci kemenangan fastabiqul khairatini terletak pada peningkatan mutu perpustakaan. Maka, berdirilah Masjid al-Azhar pada 971 sebagai pusat aktivitas keagamaan dan keilmuan.

Mercusuar lainnya adalah perpustakaan warisan Dinasti Umayyah di Andalusia (Spanyol). Perintisnya adalah raja kedua wangsa tersebut di Andalusia, Sultan al-Hakam II. Dia memang terkenal sebagai pencinta ilmu pengetahuan.Sebuah sumber menyebutkan, koleksi pribadinya mencapai lebih dari 600 ribu buku. Sosok yang memimpin dalam periode 961-976 ini lantas membangun perpustakaan besar di Kordoba dengan meniru model Bayt al-Hikmah Baghdad.

Saat itu koleksinya melampaui jumlah 400 ribu buku. Letaknya termasuk dalam kompleks istana, tetapi segera menjadi pusat berkumpulnya para ilmuwan dari penjuru dunia, terutama atas undangan Sultan al-Hakam II sendiri.

Kecintaannya terhadap literasi dibuktikan dengan upayanya membeli begitu banyak buku dari Baghdad, Kuffah, Basrah, Damaskus, Konstantinopel (kini Istanbul), Kairo, Mekah, dan Madinah. Lantaran meniru cara Bayt al-Hikmah Baghdad, Sultan al- Hakam juga menggiatkan aktivitas penerjemahan teks-teks dari bahasa Latin dan Yunani ke bahasa Arab.Untuk memuluskan proyek penerjemahan ini, dia membentuk tim yang terdiri atas ilmuwan Muslim dan Katolik. Bahkan, dia sendiri ikut menulis sebuah historiografi tentang Andalusia.

Membuat Jenis-jenis Perpustakaan


Jika saat ini anda tahu adanya berbagai jenis perpustakaan, maka anda harus ingat bahwa di masa keemasan Islam, perpustakaan juga sudah dibuat pengelompokan.

As-Sirjani membuat klasifikasi tentang perpustakaan dalam konteks peradaban Islam sebagai berikut;

Perpustakaan Akademi


Sepemahamannya, jenis inilah yang paling masyhur. Contohnya adalah Baytul Hikmah di Baghdad.

Sifat akademis tampak dari fungsi perpustakaan ini yang tidak sekadar mengoleksi beragam buku-buku atau artefak-artefak berharga, tetapi juga pusat studi dan aktivitas penerjemahan yang dilakukan para sarjana dari beragam bangsa, baik Muslim maupun non-Muslim.Perpustakaan akademi dapat dianggap sebagai bukti keberpihakan penguasa Muslim setempat terhadap dunia literasi.

Perpustakaan Khusus


Jenis ini lebih bersifat swasta, alih-alih publik. As- Sir jani menjelaskan, di era kejayaan Islam, banyak ilmuwan Muslim yang memiliki perpustakaan dengan koleksi yang berlimpah.

Tidak sedikit pula tokoh-tokoh Muslim yang meyakini derajat sosialnya terangkat bilamana mendirikan perpustakaan besar. Di antara mereka adalah Khalifah al-Muntashir dari Dinasti Abbasiyah, al-Fatah bin Khaqan, Ibnu al-Amid, dan Abu Matraf.

Meskipun hanya berkuasa enam bulan lamanya, Khalifah al-Muntashir merupakan pemimpin populer di tengah rakyat.Dukungannya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan begitu besar, termasuk dengan mendirikan perpustakaan.

Selanjutnya, Ibnu Khaqan dikenal sebagai politikus ulung dan juga pencinta ilmu pengetahuan. Mantan gubernur Mesir dan Suriah pada zaman Abbasiyah itu memiliki perpustakaan megah di pusat kota Samarra (Irak).

Sementara itu, Ibnu al-Amid merupakan pakar tata kota dari Persia. Sosok yang wafat pada 970 itu mendirikan perpustakaan besar di Ray yang pengelolanya antara lain adalah filsuf Ibnu Miskawaih. Adapun Abu Matraf mempunyai perpustakaan pribadi di Andalusia dengan banyak koleksi langka pada zamannya.

Perpustakaan Umum


Perpustakaan umum ini merupakan kebalikan dari jenis yang kedua.Dengan sokongan pemerintah setempat, perpustakaan umum di zaman keemasan Islam berdiri untuk melayani masyarakat, baik Muslim maupun non-Muslim. Dalam hal ini, umat Islam meletakkan dasar-dasar manajemen perpustakaan modern.

Sebagai contoh, Perpustakaan Kordoba yang berdiri sejak tahun 961 di Andalusia.As-Sirjani menuturkan, di sana negara mempekerjakan sejumlah pegawai sesuai spesialisasinya. Ada yang bertugas memelihara buku-buku, mengumpulkan naskah- naskah, atau menentukan kapasitas rak dan penggolongan genre. Dengan demikian, publik dapat mengakses semua koleksi yang terdapat di dalamnya dengan mudah.

Perpustakaan Sekolah


Keempat, perpustakaan sekolah. As-Sirjani menerangkan, di negeri-negeri Islam semua sekolah dilengkapi dengan fasilitas perpustakaan. Sultan Nuruddin Mahmud dari Dinasti Zengid, misalnya, membangun 42 unit madrasah di Suriah. Setengah dari jumlah tersebut bahkan didanai dari uang nya sendiri.

Pembangunan madrasah-madrasah itu seiring dengan penguatan jaringan perpustakaan. Contoh lainnya adalah seorang menteri Sultan Shalahuddin, al-Fadilah. Di Kairo, Mesir, dia menyumbang 200 ribu buku untuk penyelenggaraan perpustakaan yang terintegrasi dengan madrasah.

Perpustakaan Masjid Universitas


Kelima, perpustakaan yang tumbuh dari masjid-universitas. Untuk diketahui, universitas pertama di dunia adalah Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko, yang berdiri sejak tahun 859. Sejarah Al-Qarawiyyin bermula dari sebuah masjid dan perpustakaan yang didirikan Fatimah al-Fihri. Setelah menerima warisan dari ayahnya, seorang pedagang sukses, dia berinisiatif mengukuhkan masjid sebagai pusat kegiatan keilmuan masyarakat.

Perempuan ini pun mengundang para sarjana terkemuka dari penjuru negeri ke Fez untuk mengajar. Selanjutnya, perpustakaan Al-Qarawiyyin dilengkapinya dengan buku-buku koleksi pribadi. Belakangan, tiap sultan penguasa Fez terus menyokong warisan keluarga Al-Fihri itu sehingga tumbuh besar. Langkah-langkah yang ditempuh Al-Qarawiyyin belakangan ditiru pelbagai lembaga pendidikan Islam dan Eropa Kristen.

Kondisi Umat Islam saat ini


Inilah yang menurut kami sangat menyedihkan, saat membaca uraian diatas terkait dengan kejayaan islam, kita sangat bangga dan bahagia membacanya.

Namun saat kita melihat hari ini di sekitar kita, sungguh teramat sangat memprihatinkan.

Memprihatinkan karena begini,

Dahulu, umat islam belum kenal yang namanya teknologi mesin ketik dan kertas sebagus sekarang apalagi komputer, mereka hanya mengenal tinta dan kulit hewan, daun kurma, kain, tapi mereka begitu bersemangat menulis banyak buku.

Anda bisa membayangkan, orang dahulu saat buat buku yang sama, mereka harus tulis ulang berkali-kali sesuai dengan jumlah yang ingin mereka gandakan.

Sungguh jauh berbeda dengan sekarang, dimana orang mau nulis begitu mudah, bisa tulis di ekrtas, komputer, bahkan menulis dimanapun dari handphone juga mudah, yang selanjutnya juga sangat mudah dicopas dan dicetak ribuan kali juga mudah.

Namun anehnya, kita masih sulit menemukan tulisan-tulisan dari umat muslim yang mendunia. Memang ada, tapi jumlahnya tak sebanding dengan yang seharusnya.

Hal ini mungkin dikarenakan sesuai yang dikatakan orang Yahudi, bahwa umat islam saat ini memang MALAS MEMBACA. Bahkan saat sudah dihina oleh orang Yahudi sebagai orang yang malas membaca sekalipun, bukanya sadar dan koreksi, kita justru tetap adem ayem tak mau perbaiki diri.

Bahkan yang menyedihkan lagi jika kita melihat ada orang yang mengaku sebagai muslim, tapi justru lebih suka membuat tulisan HOAX, atau provokasi di sosial media. Sudah begitu, yang lainya juga tanpa mau teliti dan baca kebenaranya, sudah langsung main komentar dan share, yang akhirnya menimbulkan saling cela di sosial media.

Sungguh kondisi yang sangat memprihatinkan.

SOLUSI


Bicara solusi atas kondisi ini, maka tidak ada cara lain selain kita harus BERGERAK dengan tindakan nyata, supaya umat islam kembali suka membaca dan menulis sebagaimana saat kejayaan islam di masa lalu.

Tanamkan Kecintaan Membaca dari Keluarga


Langkah-langkahnya bisa dimulai dari menanamkan budaya baca dari keluarga kita tercinta. Sebelum orang tua menanamkan budaya baca kepada anak, maka orang tua harus memberikan contoh bahwa dirinya adalah teladan bagi anak bahwa orang tua juga suka membaca.

Jangan sampai menyuruh anak membaca buku, namun orang tuanya justru terlalu asyik main sosmed dan nonton TV saat di rumah.

Bangun Perpustakaan di Masjid dan Mushola


Jika saat kejayaan umat Islam ada perpustakaan di setiap masjid, bahkan mereka selalu berlomba-lomba untuk menjadikan perpustakaan masjid di tempat mereka adalah perpustakaan terbaik.

Jika di setiap masjid dan mushola sudah ada perpustakaan, maka buatlah kegiatan-kegiatan yang positif yang bisa bangkitkan kemajuan ilmu pengetahuan.

Bentuk Komunitas Baca dan Tulis


Saat perpustakaan sudah ada di setiap masjid dan mushola, maka buatlah komunitas atau kelompok di masyarakat mulai dari komunitas baca hingga komunitas menulis.

Kegiatan dari komunitas tersebut juga harus dibuat semenarik mungkin, dan kalau bisa lakukan aktivitas yang lebih berbau aplikatif atau tindakan nyata sehingga manfaatnya bisa langsung terasa.

Misalnya saja membuat pelatihan menulis, membuat pelatihan yang terkait skill sehingga bisa diterapkan saat bekerja, pelatihan komputer, pelatihan bercocok tanam, les bahasa asing gratis, dan aktivitas yang bermanfaat lainya.

Mungkin masih banyak lagi solusi untuk memajukan kembali kejayaan islam, namun dari beberapa solusi diatas, jika bisa dilakukan dengan konsisten dan terus menerus, maka bukan tidak mungkin kejayaan islam bisa kembali diraih oleh umat islam.

Wallohu'alam .....
____________________
Redaksi

Labels: ,

Saturday, June 17, 2017

Sejarah Peradaban Buku Umat Islam dan Kemerosotannya

Dunia Perpustakaan | Peradaban Buku Umat Islam | Sunguh menyenangkan jika membaca tulisan-tulisan yang mengangkat masa keemasan Islam saat itu, dimana hampir semua penulis selalu mengagungkan betapa penting dan strategisnya peran buku dan perpustakaan saat itu.

Seperti halnya sebuah tulisan yang ditulis oleh slah satu alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Muhammad Iqbal, yang baru-baru ini tulisanya dimuat di portal nu.or.id [31/5/2017].

Dalam tulisan berjudul "Sejarah Peradaban Buku Umat Islam dan Kemerosotannya", betapa bangganya kita mengingat masa kejayaan-kejayaan islam saat itu.

Namun sayangnya, saat kita membuka mata di hari ini, kebanggaan itu seolah sirna dan berganti dengan kekecewaan, dimana kita begitu mudah sesama muslim justru saling cela di sosial media. Saling sebar hoax dan sebarkan kebencian atas nama agama.

Sungguh! begitu jauh dari nilai-nilai ajaran agama islam itu sendiri.

Hari ini umat islam seolah terbuai dengan kejayaan Islam di masa lalu, namun enggan dan malas mengikuti cara dan bagaimana islam bisa meraih kejayaanya di masa lalu. Dimana kita tahu, kejayaan islam di masa lalu diantaranya karena umat islam dan ulama serta ilmuwanya sangat suka MENULIS dan MEMBACA serta melakukan RISET, bukan saling cela dan saling hina.

   [Baca juga: Kemunduran Umat Islam Karena Umatnya Malas Membaca!]

Bagaimana dengan islam hari ini?

Sebagai renungan, mari kita baca ulasan tulisan berikut ini,

Sejarah Peradaban Buku Umat Islam dan Kemerosotannya


Selain sebagai pusat pendidikan, masjid berfungsi sebagai tempat penyimpanan buku. Buku-buku itu didapat dari hadiah-hadiah yang diberikan kepada pengurus masjid atau hasil pencarian dari pelbagai sumber. Karenanya, masjid-masjid pada periode Dinasti Abbasiyah memiliki khazanah buku-buku keagamaan yang sangat kaya.

Salah seorang donatur buku-buku itu adalah seorang sejarawan mahsyur bernama al-Khathib al-Baghdadi (1002-1071), yang menyerahkan buku-bukunya sebagai wakaf untuk umat Muslim. Hanya saja buku-buku itu disimpan di rumah seorang kawannya.

Perpustakaan-perpustakaan lainnya dibangun oleh kalangan bangsawan atau orang kaya sebagai lembaga-lembaga kajian yang terbuka untuk umum, menyimpan sejumlah koleksi buku logika, filsafat, astronomi, dan bidang ilmu lainnya.

Perpustakaan juga menjadi pusat pendidikan kaum Muslim. Para sarjana Muslim dari berbagai jenis tradisi keilmuan: agama (naqliyyah), sastra, filsafat, matematika, fisika, kedokteran, botani, hingga tasawuf, masing-masing menyumbangkan kekayaan khazanah ilmu pengetahuan Islam yang patut dibanggakan. Kekayaan khazanah intelektual Islam klasik itu berasal dari dua sumber.


Pertama, bersumber dari terjemahan-terjemahan manuskrip kuno dari berbagai peradaban pra-Islam beserta komentar-komentar yang diberikan oleh ilmuwan Muslim.

Kedua, bersumber dari karya-karya ilmiah. Umumnya tokoh-tokoh sarjana Muslim itu melahirkan anak-anak rohaninya, berupa ratusan karya ilmiah pelbagai jenis imu pengetahuan selama hidupnya, seakan-akan mereka hidup hanya untuk membaca, meneliti dan menulis belaka.

Ibn Hazm misalnya, diriwayatkan menulis empat ratus buku yang totalnya mencapai 80.000 halaman.

Pada pertengahan abad kesepuluh, kota Mosul memiliki perpustakaan yang dibangun oleh salah seorang penduduknya. Di dalam perpustakaan itu, para pelajar yang mengunjunginya bisa mendapatkan kertas dan alat tulis lainnya secara gratis.

Perpustakan (khizanat al-kutub) dibangun di Syiraz oleh penguasa Buwaihi, ‘Adud al Dawlah (977-982) yang semua buku-bukunya disusun di atas lemari-lemari, didaftar dalam katalog, dan diatur dengan baik oleh staf administratur yang berjaga secara bergiliran.

Pada abad yang sama, kota Bashrah memiliki sebuah perpustakaan yang di dalamnya para sarjana bekerja dan mendapatkan upah dari pendiri perpustakaan. Dan, di kota Rayy terdapat sebuah tempat yang dijuluki “Rumah Buku”. Dikatakan bahwa tempat itu menyimpan ribuan manuskrip yang diangkut oleh lebih dari empat ratus ekor unta. Seluruh naskah-naskah itu kemudian didaftar dalam sepuluh jilid katalog.

Perpustakaan-perpustakaan itu digunakan sebagai tempat-tempat pertemuan untuk diskusi dan debat ilmiah. Ulama Yaqut al-Hamawi, misalnya, menghabiskan waktu selama tiga tahun untuk mengumpulkan bahan-bahan yang ia perlukan untuk menulis kamus geografinya.

Bahan-bahan itu ia dapatkan dari berbagai perpustakaan di Marwa dan Kharizm. Ia pun harus menghentikan upayanya itu pada 1220, ketika pasukan Mongol di bawah pimpinan Jengis Khan mulai menyerang negeri-negeri muslim dan membumihanguskan seluruh perpustakaan itu.

Pada abad ke-13, perpustakaan Fathimiyyah di Kairo memiliki koleksi sejumlah dua juta judul buku. Perpustakaan di Tripoli juga tak kalah banyaknya. Secara umum, pada abad ke-13 itu telah tersedia sekitar lima juta judul buku; suatu jumlah buku yang amat banyak untuk zaman ketika itu.

Ketika Dinasti Fathimiyyah mengangkat citra Mesir sebagai pusat peradaban Islam terkemuka sejagat, ada seorang penguasa keturunan Umayyah di Kordoba, al-Hakam, yang pada akhir abad ke-10 mendirikan sebuah perpustakaan besar. Dia mengumpulkan para ilmuwan dan pemimpin masjid, dan masjid besar di Kordoba dibuat menjadi pusat studi. Perpustakaan yang berada di dalam istana Kordoba itu diurus oleh petugas perpustakaan; juga mempekerjakan para penyalin dan penjilid buku. Al-Hakam mempunyai agen-agen di setiap provinsi yang menyediakan buku untuknya dengan cara membeli dan menyalin. Perpustakaan itu terbuka untuk publik.

Sayangnya, ketika Khalifah al-Manshur terpengaruh oleh para ulama ortodoks yang kurang atau tidak berkenan kepada buku-buku ilmu, seperti karya filsafat, astronomi, dan ilmu-ilmu umum lainnya yang dianggap sekuler (sains awa’il), banyak buku ilmu-ilmu tersebut yang dibakar. Pembakaran atau permusuhan buku-buku itu merupakan awal malapetaka etos keilmuan Islam yang sampai detik ini kita rasakan akibatnya, yakni sedemikian rendahnya semangat keilmuan di negeri-negeri kaum Muslim.

Selain perpustakaan, lukisan perihal budaya baca pada periode ini bisa juga dilihat dari banyaknya toko buku. Toko-toko itu, yang berfungsi sebagai agen pendidikan, mulai muncul sejak awal kekhalifahan Abbasiyah. Al-Ya’qubi meriwayatkan bahwa pada masanya (sekitar 891), ibu kota negara diramaikan oleh lebih dari seratus toko buku yang berderet di satu ruas jalan yang sama. Sebagian toko-toko itu, sebagaimana toko-toko yang kemudian muncul di Damaskus dan Kairo, tidak lebih besar dari ruangan samping masjid, namun ada juga toko-toko yang berukuran sangat besar, cukup besar untuk pusat penjualan sekaligus sebagai pusat aktifitas para ahli dan penyalin naskah.

Para penjual buku itu sendiri banyak yang berprofesi sebagai penulis kaligrafi, penyalin dan ahli sastra yang menjadikan toko mereka tak hanya sebagai tempat jualan, tetapi juga sebagai pusat kegiatan ilmiah. Mereka mendapatkan kedudukan terhormat di tengah masyarakat.

Yaqut memulai kariernya sebagai pegawai di sebuah toko buku. Ibn al-Nadim (w. 995) yang juga ditahbiskan sebagai al-Warraq (“lembar kertas”), menjalani kariernya sebagai pustakawan dan penjual buku yang kemudian menulis sebuah karya besar berupa katalog berjudul al-Fihrist yang diakui oleh kalangan cendekiawan dan ilmuwan sebagai karya yang sangat baik.

Dalam buku itu, kita bisa membaca tentang sebuah pusat pemeliharaan naskah Iraqi yang memiliki rumah besar menyimpan sejumlah naskah termasuk yang ditulis di atas lembaran-lembaran kain perca, papirus Mesir, kertas Cina, dan gulungan kulit. Pada jilid masing-masing naskah itu tercantum nama penulisnya, dan di pinggir-pinggir halaman (marjin) terdapat pelbagai catatan yang ditulis oleh para pelajar mulai lima atau enam generasi sebelumnya.

Hingga awal abad ke-3 Hijriah, bahan yang umum digunakan untuk menulis ialah kain perca dan papirus. Dokumen-dokumen resmi yang ditulis di atas kain perca dan disimpan ketika terjadi perang sipil antara al-Amin dan al-Ma’mun, dicuci bersih kemudian dijual lagi.

Kertas Cina mulai masuk ke Irak pada abad ketiga Hijriah. Segera setelah itu, industri kertas tumbuh menjamur. Industri itu pertama kali muncul di Samarkand. Beberapa orang tawanan Cina pada 751 memperkenalkan seni pembuatan kertas dari flax, linen atau kain rami. Kata kuno Arab untuk kertas, kaghad, kemungkinan berasal dari bahasa Cina, dan kemudian diserap ke dalam bahasa Arab.

Dari Samarkand, industri itu menyebar ke Irak. Pada masa pemerintahan al-Fadhl ibn Yahya al-Barmaki, yang pernah menjadi Gubernur Khurasan pada 794, pabrik kertas pertama berdiri di Baghdad. Saudaranya, Ja’far, menteri pada Khalifah Harun menggantikan penggunaan kain perca dengan kertas untuk menuliskan dokumen-dokumen resmi negara.

Kota-kota Muslim yang lain membangun pabrik-pabrik kertas mengikuti rancangan pabrik yang berada di Samarkand. Sebuah pabrik dibangun di Tihamah untuk membuat kertas dari serat tumbuhan. Pada masa al-Maqdisi, kertas produksi Samarkand masih dianggap sebagai kertas yang terbaik kualitasnya. Namun pada abad berikutnya, abad kesebelas, kertas-kertas dengan kualitas yang sangat bagus juga diproduksi di kota-kota Suriah dan di Tripoli.

Dari daratan Asia Tengah, industri itu mulai menyebar hingga ke Delta Mesir sejak akhir abad kesembilan. Beberapa kota di sana dalam jangka waktu yang cukup lama selalu mengekspor papirus dari negara-negara berbahasa Yunani untuk media menulis. Produk ekspor itu mereka sebut qarathis (dari bahasa Yunani: chartes). Pada akhir abad ke-10, kertas telah menggantikan perca dan papirus di seluruh wilayah umat Muslim.

Arkian, jalan kaum Muslim (era kekinian) menuju pengetahuan terintangi oleh dogma, sikap apologetis, kemalasan, dan kebodohan yang sebenarnya tidaklah rumit. Namun kebanyakan, jalan kaum Muslim itu terintangi oleh sikap acuh tak acuh yang nyaris sempurna terhadap nilai akal dan peran yang dimainkannya dalam mencari ilmu pengetahuan. Kaum Muslim dewasa ini lebih suka membangun gedung-gedung ketimbang pikiran. Padahal, di zaman sekarang ini, siapa saja yang menguasai arus informasi, berarti menguasai wacana.

Labels: ,

Tuesday, January 17, 2017

Sejarah Perpustakaan Islam : Perintisan, Peranan, Puncak Kejayaan,Hingga Kemunduran!

Dunia Perpustakaan | Terkadang sangat miris jika melihat kondisi umat Islam sekarang.

Dahulu, saat puncak kejayaan Islam, para ulama dan ilmuwan muslim saat itu meyakini untuk bisa memajukan Islam, mereka para ulama meyakin dengan cara berjuang menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan.

Akibat keyakinan para ulama terdahulu tersebut, maka saat kejayaan islam saat itu banyak perpustakaan di bangun oleh para ulama, yang kemudian diikuti oleh masyarakat muslim.

Masjid-masjid dipenuhi orang belajar ilmu pengetahuan tidak hanya ilmu agama melainkan berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan.

Effect positif dari cara ini yaitu lahirnya ilmuwan-ilmuwan muslim yang diakui dunia internasional hingga sekarang. Nama-nama besar seperti Ibnu Rusdy, Imam Ghozali, dan puluhan bahkan ratusan ilmuwan muslim ternama dikenal dunia.

Atas kondisi ini pula Islam menyebar ke penjuru dunia dan dikenal agung dan besar namanya serta ditakuti juga dikagumi dunia.

Namun sekarang!

Silahkan anda lihat sendiri, ulama saat ini ada yang sebagian [tidak semuanya] justru lebih meyakini untuk memajukan Islam harus dengan cara berpolitik aktif.

Kita bisa melihat ini dengan apa yang kita lihat beberapa ulama-ulama Islam di timur tengah, mungkin juga di Indonesia [tidak semuanya].

Akibatnya kita melihat misalnya di timur tengah, terkadang beberapa tokoh ulama saling bunuh, dan menghalalkan darah sesama muslim dan sesama saudara mereka untuk dibunuh atas nama berebut kekuasaan dan politik wilayah, suku, aliran, ras, golongan dan sejenisnya.

Akibatnya, apakah kita melihat Islam jadi maju dengan cara berebut kekuasaan dan berpolitik praktis?

Entahlah, mungkin karena begitu banyaknya orang yang "mengaku dan merasa sebagai orang cerdas", maka setiap orang bisa berpendapat sesuai caranya.

Namun tentunya kami atas nama redaksi duniaperpustakaan.com tentunya mengajak kepada sejarah yang sudah MEMBUKTIKANYA.

Yaitu dimana ada sebuah sejarah yang pernah membuktikan bahwa memajukan Islam tidak harus dengan cara berebut kekuasaan dan berpolitik saja. Berpolitik dalam islam memang tidak dilarang.

Namun jangan karena sibuk berebut kekuasaan dan berpolitik praktis, maka umat islam sendiri justru melupakan, mengesampingkan, bahkan mengabaikan perintah ayat pertama turun dalam KITAB SUCI AL-QUR'AN YAITU, IQRA! BACALAH!

Berikut ini kami lampirkan tulisan yang ditulis oleh seorang pustakawan Moh Rif’an SIP, yang mengupas tuntas tentang Sejarah Perpustakaan Islam, mulai dari Perintisan, Peranan, Puncak Kejayaan, Hingga Kemunduran!

Pada masa kejayaan Islam, perpustakaan merupakan sarana untuk belajar, hingga ummat Islam mampu membangun peradaban besar yang bertahan beberapa abad lamanya. Banyak informasi dan ilmu pengetahuan yang tidak terdokumentasikan dengan baik oleh umat Islam dilupakan begitu saja.

Akibatnya tatanan umat Islam baik aspek ekonomi, politik, sosial, budaya dan aspek kehidupan yang lain mengalami stagnasi. Sehingga ahirnya umat Islam hanya menjadi umat pengikut dari bangsa maju, yang dalam hal ini adalah dunia barat.

Padahal kita menyadari bahwa kemajuan dunia barat dicapai dengan melalui penguasaan ilmu pengetahuan yang di ambil dari pusat-pusat ilmu pengetahuan musli seperti perpustakan.

Dari paparan diatas menunjukan betapa pentingnya perpustakaan dalam pengembangan suatu bangsa. Dalam hal ini banyak ilmu pengetahuan , informasi dan dokumentasi yang di sediakan perpustakaan memiliki peran yang sangat besar dalam pemberdayaan umat.

Banyak literatur yang mengungkapkan bahwa perpustakaan sebagai tempat aktivitas belajar, yang kegiatannya hampir sama dengan apa yang di lakukan di sekolah-sekolah. Fungsi dan peran perpustakaan ini banyak di adopsi oleh perpustakaan di negara maju seperti Inggris, Australia dan Kanada.

Banyak perpustakaan di ubah menjadi learning center atau resources center. Hal ini mengidentifikasikan bahwa perpustakaan yang di perankan pada masa kejaaan Islam sangat penting dan representatif untuk pengembangan dan memajukan masyarakat.
Perpustakaan baitul Hikmah, Perpustakaan Umum Islam pertama di dunia | gambar: ancient-origins.net

Masa Perintisan Perpustakaan

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka

Pada masa Nabi Muammad SAW dan para sahabatnya, perpustakaan dalam pengertian di atas tidak di temukan. Tapi cikal bakal atau rintisan perpustakaan sudah ada, yaitu sebagai berikut:
  1. Wahyu Allah yang pertama kepada Nabi Muhammad SAW ialah perintah kepada umat Islam untuk membaca (Iqra’).
  2. Rasulullah SAW mengangkat para sahabatnya, antara lain; Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, dan Khalid bin Walid sebagai penulis Al Qur’an.
  3. Perintah Rasulullah SAW kepada tawanan perang Badar untuk mengajari anak-anak Muslim membaca dan menulis.
  4. Pada masa Rasulullah SAW muncul keinginan menulis Al Qur’an dalam bentuk mushaf pribadi seperti Mushaf Ubay bin Ka’ab, Mushaf Ibnu Mas’ud, Mushaf Ibn Abbas dan pada ahirnya melahirkan Mushaf Utsmani yang di salin menjadi 4 Mushaf. Tetapi riwayat lain menebutkan lima salinan di sebarkan ke kota Madinah, Makkah, Kuffah, Basrah dan Damaskus. Dan Mushaf-mushaf tersebut di jadikan referensi oleh Umat Islam. Peristiwa diatas mendorong umat Islam gemar menulis dan membaca dan menulis dan semua itu merpakan semangat di dalam perpustakaan.

Masa Pembentukan dan Pembinaan Perpustakaan Islam

Ada beberapa hal yang melatar belakangi pembentukan dan pembinaan perpustakaan perpustakaan, di samping peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa perintisan, antara lain sebagai berikut.
  1. Setelah Al Qur’an dimodifikasi dalam bentuk mushaf timbul keinginan masyarakat muslim, terutama yang hidup jauh dari masa Rasulullah SAW untuk memahami Al Qur’an dan ajaran-ajaran Islam sesuai dengan yang di pahami dan dilaksanakan oleh Rasulullah SAW. Muncul keinginan dari sebagian ulama untuk membukukan sabda-sabda Rasulullah SAW, sekalipun pada awalnya mendapatkan tentangan karena berpegang kepada Hadits yang melarang penulisan bersumber dari Rasul selain Al Qur’an. Namun pada masa Umar bin Abdul Aziz (wafat 675 M) beliau dengan otoritasnya memerintah Muhammad bin Muslim bin Syihab az-Zuhri al-Madani (wafat 695 M) untuk menghimpun hadits dan menulisnya dalam sebuah buku. Dia beralasan bahwa Rasulullah melarang menulis hadits karena di khawatirkan akan tercampur dengan Al Qur’an. Padahal pada waktu ia memerintahkan menulis hadits tidak ada kehawatiran tercampur dengan Al Qur’an, karena Al Qur’an sudh di kodifikasikan dalam bentuk mushaf. Kemudian hadits-hadits tersebut ditulis dan disebarluaskan ke penjuru negeri untuk di jadikan referensi.
  2. Kepeloporan Ibn Syihab az-Zuhri di ikuti oleh ulama-ulma lainnya. Pada masa itu hadits menjadi primadona. Banyak ahli hadits yang rela melakukan perjalanan jauh dan melelahkan hanya demi mendapatkan sebuah hadits dan kemudian dihimpun dalam koleksi mereka masing-masing.ahirnya dikenal dengan koleksi Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan at-Trmudzi, dan koleksi-koleksi linnya. Setiap koleksi bisa terdiri dari tiga jilid atau lebih bhkan sampai belasan jilid, sehingga menambah bahan rujukan Islam.
  3. Gerakan penerjemahan yang di pelopori oleh Khalifa al-Mansur dari Daulah Abbasiyah telah membantu dalam penambahan jumlah koleksi pustaka pd waktu itu. Dia memperkejakan orang-orang Persia yang baru masuk Islam untuk menterjemahkan karya-karya berbahasa Persia dalam bidang astrolgi, ketatanegaraan dan politik, moral, seperti Kalila wa Dimma dan Sindhid di terjemahkankedalam bahasan Arab. Selain itu di terjemahkan dari bahasa Yunani seperti Logika karya Aristoteles, lmagest karya Ptolemy, Arithmetic karya Nicomashus, Geometri kary Euclid. Gerakan penterjemahan dilanjutkan khalifah berikutnya, yaitu al-Al Makmun. Ia membayar mahal hasil penterjemahan.
Bahan pustaka yang cukup banyak tadi berupa mushaf Al Qur’an maun hadits dan karya-karya terjemahan mendorong penguasa pada waktu itu ntuk mendirikan perpustakaan. Perpustakaan yang resmi berdiri pertama kali ntuk publik adalah Baitul Hikmah.

Perpustakaan itu bukan saja berfungsi sebagai tempat penyumpanan buku, tetapi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Pada masa Harun al-Rasyid intitusi perpustkaan bernama Khizanah al Hikmah berfungsi sebagai perpustakaan dan pusat penelitian.

Sejak tahun 815M, al-Makmun mengembangkan Lembga itu dengan mengubah namanya menjadi Bait al-Hikmah. Pada masa itu Bait al-Hikmh di gunakan secara lebih maju, yaitu sebagai tempat penyimpanan buku-buku kuno yang di dapat dari Persia, Bizantium, Etiopia, dan India.

Direktur perpustakaanya adalah seorang nasionalis persia dan ahli Pahlevi, yaitu Sahl ibn Harun. Pada masa al-Makmun, Bait al-Hikmah ditingkatkan lagi fungsinya menjadi pusat kegiatan studi, riset astronomi dan matematika.

Untuk mengetahui perpustakaan pada waktu itu kita tinjau sekilas berdasarkan jenisnya, yaitu sebagai berikut;

Perpustakaan Umum

Perpustakaan jenis ini biasanya didirikan di masjid–masjid agar orang–orang yang belajar di masjid dan pengunjung dapat membaca buku–buku yang mereka perlukan. Kadang – kadang perpustakaan didirikan di masjid dengan maksud agar lembaga pendidikan dapat menampung pelajar–pelajar yang dating untuk mencari ilmu pengetahuan.

Perpustakaan umum sangat banyak jumlahnya, barang kali untuk menemukan suatu masjid atau sekolah–sekolah yang tidak memiliki perpustakaan dengan koleksinya yang siap di tela’ah dan muraja’ah bagi pelajar dan peneliti yang sedang mengadakan penelitian.

Yang termasuk perpustakaan umum saat itu adalah sebagai berikut :
  1. Baitul Hikmah
  2. Al-Haidariyah di An-Najaf
  3. Ibnu Sawwar di Basrah
  4. Sabur
  5. Darul Hikamah di Kairo
  6. Perpustakaan-perpustakaan sekolah


Perpustakaan Semi Umum

Perpustakaan semi umum didirikan oleh para khalifah dan raja–raja untuk mendekatn diri kepada ilmu pengetahuan. Adupan perpustakaan semi umum antara lain;
  1. Perpustakaan An-Nashir Li Dinillah
  2. Perpustakaan Al-Muzta’sim Billah
  3. Perpustakaan Khalifah–Khalifah Fathimiyah

Perpustakaan Pribadi

Perpustakaan ini didirikan oleh ulama–ulama dan para sastrawan, khusus untuk kepentingan mereka sendiri. Perpustakaan ini sangat banyak karena hampir semua ulama dan sastrawan memiliki perpustakaan untuk menjadi sumber dan referensi bagi pembahasan dan penelitian mereka. Perpustakaan jenis ini antara lain;
  1. Perpustakaan Al-Fathu Ibnu Haqam
  2. Perpustakaan hunain Ibnu Ishaq
  3. Perpustakaan Ibnul Harsyab
  4. Perpustakaan Al Muwaffaq Ibnul Mathran
  5. Perpustakaan Al-Mubasysir Ibnu Fatik
  6. Perpustakaan Jamaluddin Al Qifthi

Peranan Perpustakaan pada Peradaban Islam

Perpustakaan pada awal kejayaan Islam menunukkan perannya dalam mennjang pendidikan umat.

Perpustakaan yang di kelola oleh orang-orang Islam tidak hanya memperhtikan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan keagamaan, seperti msalah ibadah dan teologi, tapi juga mengelola disiplin ilmu yang lain seperti kedokteran, sosial, politik dan sebagainya.

Berbagai peran perpustakaan pada masa peradaban Islam yaitu sebagai berikut,

#1. Pusat Belajar (Learning Center)

Setelah masa Khulafaur-Rasyidin, peradaban Islam berkembang dengan pesat. Perkembngan itu antara lain adalah proses pendidikan tertama pada masa Umaiyah dan Abbasiyah.

Pada masa ini gairah dan apresiasi umat pada perpustakaan sangat tinggi. Mereka membangun perpustakaan, baik umum, khusus maupun perpustakaan pribadi. Sehingga tidak heran banyak masjid dan sekolah memiliki perpustakaan. Mereka menganggap bahwa perpustakaan sama pentingnya dalam membangun ilmu pengetahuan.

Bahkan fungsi perpustakaan kadang-kadang tidak dapat di bedakan dengan fungsi lembaga pendidikan karena sama-sma memberikan smbangan dalam pengajaran kepada umat.

#2. Pusat Penelitian

Sesungguhnya peran penelitian yang dilakukan oleh perpustakaan pada masa awal Islam sangat signifikan. Hal ini dapat dilihat dari berbagai peristiwa, misalnya utusan khalifah-khalifah atau raja-raja untuk membahas suatu bidang ilmu tertentu di perpustakaan-perpustakaan yang terkenal memiliki koleksi yang cukup besar dan lengkap seperti Baitul Hikmah dan Darul Hikmah.

Disamping itu, para peneliti dan cendekiawan yang mencoba mengembangkan suatu ilmu yang berkaitan dengan keahliannya.

Banyak di antara mereka yang melakukan perjalanan dari suatu perpustakaan ke perpustakaan lain untuk merumuskan dan melakukan penemuan-penemuan baru. Tentu saja aktivitas semacam ini tidak pernah terhenti sampai sekarang dan begitu pula pada masa datang selama perpustakaan menjalankan fungsinya sebagai sumber informasi.

#3. Pusat Penerjemahan

Suatu hal yang amat menarik adalah di mana perpustakaan pada masa itu menjadi jembatan dari kebudayaan. Misalnya, kebudayaan dan ilmu pengetahuan Yunani Kuno diterjemahkan ke dalam bahasa Arab untuk dipelajari oleh masyarakat.

Dalam konteks ini perpustakaan menjadi sponsor atas semua kegiatan tersebut. Aktivitas semacam ini telah mendapatkan respon positif sehingga para penerjemah memperoleh status yang baik dalam masyarakat. Situasi ini mulai pada saat didirikannya perpustakaan yang pertama dalam dunia Islam.

Menurut Kurd Ali, orang yang pertama kali menekuni bidang ini ialah Chalid Ibnu Jazid (meninggal tahun 656 M). Di lain sumber dikatakan bahwa Ibnu Jazid telah mencurahkan perhatiannya terhadap buku lama, terutama dalam ilmu kimia, kedokteran dan ilmu bintang.

#4. Pusat Penyalinan

Salah satu hal yang dapat dibanggakan oleh kaum Muslimin yaitu sejak dari abad pertengahan telah dirasakan pentingnya bagian percetakan dan penerbitan dalam suatu perpustakaan.

Oleh karena itu alat-alat percetakan sebagaimana yang kita lihat di abad modern ini belum ada di masa itu, maka untuk mengatasi hal ini mereka adakan seleksi penyalinan pada tiap-tiap perpustakaan. Penyalinan buku itu diselenggarakan oleh penyalin-penyalin yang terkenal kerapihan kerja dan tulisannya.

Masa Kemunduran dan Kehancuran Perpustakaan Islam

Kemunduran dan kehancuran perpustakaan di era peradaban Islam mengikuti kejatuhan wilayah-wilayah muslim setelah pertarungan fisik melawan musuh-musuhnya.

Misalnya perpustakaan di Tripoli dihancurkan oleh tentara perang Salib atas komando seorang rahib yang tak senang saat melihat banyak Al Qur’an di perpustakaan tersebut.

Di samping itu perpustakaan terkenal lainya, seperti milik Sultan Nuh Ibn Mansur yang dibakar setelah filosuf besarnya menyelesaikan penelitiannya di tempat itu.

Kenyataan itu menimbulkan tuduhan bahwa cendikiawan sendiri yang membakar perpustakaan setelah menguasai isi keilmuan yang terkandung dalam perpustakaan tersebut. Peristiwa lainya terjadi pada tahun 1258M ketika sekelompok bangsa Mongol dan Tartar menjarah kota Baghdad dan membakar perpustakaanya.

Demikianlah umat Islam berkembang dengan pesat pada awalnya seiring dengan perkembangan perpustakaan dan mundurnya umat Islam bersamaan dengan mundurnya perpustakaan.

Dengan demikian cara untuk memajukan peradaban umat Islam adalah salah satunya dengan memajukan perpustakaan yaitu dengan membina perpustakaan dan meningkatkan kesadaran umat Islam akan pentingnya ilmu pengetahuan yang terkandung di dalamnya.

Dari berbagai sumber

Labels: ,

Wednesday, February 12, 2014

Rahasia Produktivitas Ulama dalam Bidang Buku, Tulisan, dan Ilmu Pengetahuan pada Masa Kejayaan Islam

Dunia Perpustakaan | Ulama-ulama saat puncak kejayaan islam, aktivitasnya selalu dekat terkait pelajari ilmu agama, sains, hingga teknologi. Bahkan manusia pertama yang bisa terbang adalah salah satu ilmuwan muslim.

Padahal saat itu belum ada internet, komputer, dan teknologi canggih seperti sekarang ini.

Itu kenapa pada masa kejayaan Islam, dunia mengagumi Islam dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan sains yang dikuasainya, termasuk dalam hal kedokteran, dll.

Itu semua diraih karena umat Islam saat itu, mulai dari ulama dan umatnya sangat menghargai ilmu pengetahuan dengan cara mempelajari, riset, dan mengamalkanya serta menuliskanya.

Kini...... ???

Saat teknologi semakin canggih, dan dunia semakin modern, namun apa yang kita lihat umat islam hari ini, khususnya di Indonesia dan di sosial media?

Ah sudahlah.... ! 

Satu hal yang sepertinya kurang diperhatikan dan ditinggalkan oleh umat muslim di belahan dunia saat ini yaitu terkait dalam hal budaya baca dan budaya menulis.

Padahal sejarah mencatat bahwa kejayaan islam saat itu salah satu penyebabnya dikarenakan saat kejayaan islam ada dipuncak, itu dikarenakan banyak ilmuwan-ilmuwan muslim yang begitu suka membaca dan menulis.

[BACA JUGA: Kemunduran Umat Islam Karena Umatnya Malas Membaca]

Salah satu kisah yang akan mengingat kejayaan Islam dan terkait dekat dengan budaya baca dan menulis yaitu kecintaan Ilmuwan muslim dunia bernama Ibnu Rusyd.

Dalam beberapa sejarah disebutkan betapa kecintaan Ibnu Rusyd dalam membaca buku dan menulis, Dirinya disebut tidak pernah meninggalkan membaca buku setiap malamnya kecuali saat ayahnya meninggal dan saat malam pengantin.

Hal ini tentunya menggambarkan betapa sosok Ibnu Rusyd begitu sangat suka membaca sehingga bisa menghasilkan tulisan-tulisan yang hingga hari ini masih dijadikan rujukan.

Ada sebuah tulisan menarik dari Mahmud Budi Setiawan, Lc berjudul Ketika Pasukan Tartar Mejadikan Buku Para Ulama Sebagai Tempat Penyeberangan yang dimuat di salah satu media online hidayatullah.com [16/3/15].


Dari tulisan tersebut menggambarkan saat itu Islam begitu memiliki banyak karya buku. Begitu banyaknya buku-buku saat itu, dalam sebuah peperangan yang sangat terkenal yang menghancurkan buku-buku islam dibuang ke sungai Tigris oleh pasukan Tartar [Mongolia].

Begitu banyaknya buku-buku tersebut, diceritakan bahwa saat itu pasukan Tartar (Mongolia) yang dipimpin Hulagu Khan menaklukkan Baghdad (656H/1258 M), kavalerinya membuang buku-buku yang berada di perpustakaan Bagdhad ke sungai Tigris.

Buku yang berjumlah banyak tersebut, dijadikan jembatan penyebrangan dari arah Barat ke Timur [baca: Rāghib al-Sirjāni , Qisshatu al-Tatār min al-Bidāyah ila `Ain Jālūt, 161-162].

Bayangkan, luas sungai Tigris yang hampir sama dengan Nil [kedalamannya mencapai 10-11 meter] itu, dipenuhi buku untuk dijadikan jembatan.

Anda bisa membayangkan berapa besar jumlah buku yang ada saat itu. Ada satu kata kunci untuk memahami cerita tersebut, yaitu: produktivitas tulisan para ulama.

Banyaknya buku yang tersimpan di perpustakaan Baghdad adalah salah satu bukti prokdutivitas ulama dalam bidang kepenulisan.

Dalam sejarah Islam, begitu banyak contoh mengenai produktivitas ulama dalam hal menulis di antaranya:

Ilustrasi

Ibnu Jarir At-Thabari, karangannya berjumlah 358 ribu lembar, dalam sehari ia mampu menulis sebanyak 40 lembar [dalam Qīmatu al-Zaman `Inda al-`Ulamā, Abdu al-Fattah Abu Ghuddah, 43].

Imam Ibnu Jauzi meninggalkan karya sebanyak lima ratus buku [dalam Qimatu al-Zaman, 56]. Abu Bakar al-Bāqalāni tidak tidur hingga menulis 35 lembar [Qimatu al-Zaman, 86] dan ulama lainnya.

Itu hanya contoh kecil dari sekian banyak contoh produktivitas ulama dalam bidang tulisan.

Yang menjadi pertanyaan kemudian ialah,
“Mengapa mereka bisa produktif di zaman yang fasilitas untuk menulis begitu ala kadarnya, hanya tinta dan kertas. Pada zaman itu, untuk menggandakan buku saja harus ditulis ulang secara manual?”.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, berikut ini akan dijelaskan secara gambalang –melalui kaca mata historis peradaban Islam- tentang rahasia produktivitas ulama dalam bidang tulisan. Di antara rahasianya ialah:

Para ulama menulis didasari keikhlasan sebagai investasi akhirat (dakwah). Dalam hadits disebutkan, bahwa mereka adalah pewaris para Nabi [HR. Bukhari, Abu Daud, dan Turmudzi].

Bagi mereka menulis bukan sekadar urusan hobi, karena mereka adalah penerus estafeta perjuangan para Nabi, maka menulis adalah urusan investasi akhirat.

Manajemen waktu yang mantap dan brilian. Mereka sadar betul bahwa waktu adalah nafas kehidupan. Sehingga, memanfaatkannya adalah sebuah keniscayaan bagi orang yang ingin sukses. Sebagai contoh riil-tanpa bermaksud membatasi-, Ibnu Jarir At-Thabari yang mampu menulis 40 lembar tulisan dalam sehari sangat pandai dalam mengatur waktu.

Muridnya sendiri –al-Qadhi Abi Bakar bin Kamil-memberi kesaksian bahwa beliau mempunyai waktu khusus untuk menulis dari ba`da Dzuhur hingga Ashar [baca: Qīmatu al-Zaman, hal. 44]. Bahkan, menjelang meninggal pun ia menyempatkan diri untuk mencatat ilmu [hal. 44].

Ibnu Rusyd –dalam sejarah- tidak pernah meninggalkan mala-malamnya, kecuali membaca buku. Beliau selalu begitu, kecuali dua malam saja: Pertama, waktu ayahnya wafat. Kedua, waktu malam pengantin [baca: Kaifa Tushbinu `Āliman, Rāghib al-Sirjāni].

Lebih dari itu, ada cerita unik mengenai Tsa`lab al-Nahwi [Ahmad bin Yahya al-Syaibani], di antara sebab wafatnya ialah karena ditabrak kuda ketika membaca buku hingga jatuh ke jurang [baca: wafayātu al-A`yān, Ibnu Khillikan, 1/104].

Kakek Ibnu Taimiyah pun juga sangat bagus dalam manajemen waktu. Ia minta dibacakan buku ketika sedang buang hajat, supaya waktunya tidak sia-sia [baca: Dzailu Thabaqāt al-Hanābilah, Ibnu Rajab al-Hanbali, 2/249].

Cerita-cerita tersebut,  menunjukkan bahwa mereka sangan pandai mengatur waktu. Sehingga, wajar kalau mereka sangat produktiv menulis. Bagi siapa saja yang ingin produktiv menulis, maka tak ayal lagi harus menapaktilasi jejak mereka dalam manajemen waktu.

Apresiasi negara yang begitu tinggi pada penulis.

Khalifah Ma`mun –selaku Khalifah Daulah Abbasiyah-misalnya, memberi imbalan emas bagi para penerjemah buku [baca: `Uyūnu al-Anbā`, Ibnu Abi Ushaibah, 2/133].

Para penulis pada masa itu sangat didukung dan dihargai oleh negara, sehingga produktivitas menulis sedemikian tinggi. Salah satu bukti produktivitas mereka bisa dilihat dari banyaknya perpustakaan.

Pada masa keemasan Islam, perpustakaan sudah menjadi sebuah keniscayaan, baik di rumah, gedung pemerintahan, di desa, kota, di rumah sakit, masjid dan lain sebagainya.

Waktu itu perpustakaan dibagi menjadi lima bagian:

  1. Pertama, perpustakaan akademis.
  2. Kedua, pribadi.
  3. Ketiga, umum.
  4. Keempat, sekolah.
  5. Kelima, perpustakaan masjid dan universitas [baca: Rāghib al-Sirjāni, Mādza Qaddama al-Muslimūna li al-`Ālam Ishāmātu al-Muslimīn fī al-Hadhārah al-Insāniyah,hal. 224-225]

Di antara contoh perpustakaan besar dalam Islam ialah: Perpustakaan Baghdad [yang jumlahnya sangat banyak, sampai-sampai bisa dibuat jembatan oleh Tartar].

Perpustakaan Darul `Ilm Kairo [Setiap bagian berisi 18000 buku] lebih dari tujuh ratus ribu kitab. Perpustakaan Cordova [berisi setengah juta kitab] Perpustakaan Tripoli [baca: Kaifa Tushbihu `Āliman, Raghib al-Sirjani].

Ada juga perpustakaan koleksi pribadi. Sebagai contoh, Abu al-Fadhl bin al-`Amīd, ketika dia mau pindah dari satu tempat ke tempat lain, ia membutuhkan seratus unta untuk mengangkatnya.

Al-Shahib bin `Abbād, menurut penuturan Gustav Lobon atau Will Durent: “Perpustakaan al-Shahib bin `Abbād, pada abad keempat hijriah berisi lebih dari buku-buku yang ada di semua negara Eropa.

Dari paparan di atas, kita bisa mengetahu bahwa ada tiga hal mendasar di balik produktivitas ulama dalam bidang tulisan:


Pertama, keikhlasan

Mereka menulis dalam rangka investasi akhirat, bukan mencari sekadar dunia atau sanjungan umat.


Kedua, mereka sangat pandai dalam manajemen waktu.

Ketiga, adanya apresiasi dan kontribusi negara.

Bila ketiga hal tersebut saling bersinergi, maka produktivitas ulama dalam bidang tulisan akan kembali bangkit.

Kalau diamati secara cermat, problem umat Islam sekarang ini, terkait dengan lesuhnya produktivitas ulama dalam bidang tulisan, diakibatkan banyaknya orang menulis bukan dalam rangka investasi akhirat, tapi orientasi keduniaan.

Di samping itu, tidak pandai menghargai waktu. Dan yang terpenting, negara sebagai lembaga paling strategis dalam mengembangkan produktivitas, kurang apresiatif dalam menghargai karya-karya penulis.

Mudah-mudahan, dengan mengetahui rahasia produktivitas ulama dalam bidang tulisan, kita sebagai umat Islam, kembali bisa produktiv, sehingga nilai-nilai luhur Islam bisa tersebar ke seantero alam. Bukan saja tersebar secara lisan, namun juga tulisan. Apalagi di era perkembangan  teknologi-informasi seperti sekarang ini, keinginan itu sangat riil, bukan mustahil. 

Wallahu a`lam bi al-Shawab.

Labels: ,