<data:blog.pageTitle/>

This Page

has moved to a new address:

http://duniaperpustakaan.com

Sorry for the inconvenience…

Redirection provided by Blogger to WordPress Migration Service
Dunia Perpustakaan | Informasi Lengkap Seputar Dunia Perpustakaan

Friday, June 5, 2020

Mengintip Kemegahan Perpustakaan Nasional Qatar sebagai Symbol Kemajuan dan Kemakmuran

Dunia Perpustakaan | Apa yang anda ingat saat mendengar negara Qatar?

Sebagian besar orang tentunya akan mengingat kalau negara tersebut merupakan negara yang kaya raya, maju, modern, yang intinya menggambarkan symbol kemakmuran dan kemajuan.

Namun dari banyaknya tulisan yang menggambarkan Qatar, masih sedikit kita jumpai yang mengupas dan mengulas terkait dengan keberadaan Perpustakaan di negara tersebut.

Kami secara bertahap ingin sekali membedahnya secara lebih rinci lagi, namun kami harus mengawalinya dengan sedikit mengupas terkait dengan profil Perpustakaan Nasional Qatar.

Profil Perpustakaan Nasional Qatar
Suasana ruangan utama di Perpustakaan Nasional Qatar yang sangat luas, nyaman, dan bikin ketagihan pengunjung untuk datang kesini


Perpustakaan Nasional Qatar atau Qatar National Library ( QNL ) merupakan salah satu organisasi nirlaba di bawah payung Qatar Foundation untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Pengembangan Masyarakat.

Perlu anda ketahui bahwa Qatar Foundation untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Pengembangan Masyarakat merupakan yayasan semi-swasta dan merupakan salah satu organisasi non-profit di Qatar, yang didirikan pada tahun 1995 oleh emir Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani dan istri keduanya Moza binti Nasser . Selain pendanaan swasta, yayasan ini didukung oleh pemerintah dalam beberapa hal didanai pemerintah.

Perpustakaan Nasional Qatar bertujuan untuk melayani 3 fungsi
  1. Sebagai perpustakaan nasional, 
  2. Perpustakaan universitas tingkat penelitian, 
  3. Perpustakaan umum pusat metropolitan yang dilengkapi untuk era digital. 
Dalam kapasitasnya sebagai perpustakaan nasional sebagaimana didefinisikan oleh UNESCO, perpustakaan ini mengumpulkan dan menyediakan akses yang mampu mengakses pengetahuan secara global, termasuk konten warisan dan bahan-bahan yang relevan dengan Qatar dan wilayah tersebut.

Selain tujuan diatas, Perpustakaan Nasional Qatar  juga difungsikan sebagai universitas dan perpustakaan penelitian, mendukung pendidikan dan penelitian di semua tingkatan; sekaligus sebagai perpustakaan umum pusat modern, perpustakaan menyediakan layanan dan sumber daya perpustakaan untuk memenuhi minat baca dan menumbuhkan literasi informasi masyarakat umum. 

Dengan dibukanya Perpustakaan Nasional Qatar  yang baru, perpustakaan terbesar di Qatar ini juga berfungsi sebagai tempat pertemuan komunitas.

Claudia Lux, seorang sarjana Jerman dan profesional perpustakaan, ditunjuk oleh Qatar Foundation untuk menjadi direktur proyek perpustakaan pada April 2012, dan pada awalnya mengawasi peluncuran Perpustakaan Nasional Qatar sebagai perpustakaan digital. 

Pada Oktober 2016, Dr. Sohair Wastawy diangkat sebagai Direktur Eksekutif Perpustakaan Nasional Qatar karena sudah memiliki pengalaman selama selama 30 tahun dalam mengelola perpustakaan.

Koleksi dan Layanan

Koleksi disini sangat lengkap, mulai dari buku-buku lokal, nasional, hingga international ada disini. Pelayanan sangat ramah dan fasilitas sangat memanjakan pengunjung.
Semua koleksi di Perpustakaan Nasional Qatar bisa digunakan secara gratis untuk semua warga negara Qatar atau warga pendatang yang sudah mendapatkan izin dari pemerintah Qatar.

Koleksi di Perpustakaan Nasional Qatar juga bisa diakses secara gratis dengan beragam koleksi, termasuk didalamnya basis data ilmiah internasional dan jurnal akademis terbaik dunia, serta literatur populer, majalah, sumber daya anak-anak, dan musik.

Perpustakaan Nasional Qatar menawarkan berbagai buku dan e-book, dalam bahasa Inggris, Arab, dan bahasa lainnya, termasuk fiksi dan non-fiksi, buku terlaris dan klasik, serta majalah dan jurnal, DVD, CD, dan buku audio. 

Jumlah koleksi di Perpustakaan Nasional Qatar pada tahun 2018, terdiri dari lebih dari 800.000 buku di raknya dan lebih dari 500.000 e-Book, terbitan berkala dan surat kabar, dan koleksi khusus. 

Dengan fasilitas yang super lengkap dengan dukungan koneksi internet yang super cepat, menjadikan anak-anak muda memaksimalkan semua fasilitas disini untuk mengembangkan usaha dan bisnis mereka serta skill masyarakat Qatar.
Sesuai dengan misi Perpustakaan Nasional Qatar untuk membantu mempersiapkan penduduk Qatar agar berpartisipasi dalam ekonomi pengetahuan global, berbagai program dan layanan pendidikan dan pengajaran telah direncanakan yang berfokus pada literasi informasi, literasi awal, keterampilan penelitian, dan menggunakan sumber daya digital.

Di Perpustakaan Nasional Qatar juga menjalankan kegiatan pemrograman pendidikan perpustakaan termasuk klub buku, kelas belajar bahasa, acara musik, dan lokakarya kerajinan, serta acara untuk anak-anak dan keluarga mereka, seperti mendongeng, kerajinan, dan pameran sains.

Perpustakaan Pusaka

Selain kepemilikan umum (Koleksi Utama) dan sumber daya online akademik, Perpustakaan Nasional Qatar juga menyimpan koleksi Perpustakaan Warisan, yang mencakup buku langka, manuskrip, dan bahan-bahan lain yang berkaitan dengan peradaban Arab-Islam. Beberapa koleksi ini sebelumnya dikenal sebagai Perpustakaan Warisan Arab dan Islam, koleksi ini awalnya dimiliki oleh Yang Mulia Sheikh Hassan bin Mohamed bin Ali Al Thani pada tahun 1979, yang kemudian di tahun 2012 diintegrasikan ke Perpustakaan Nasional Qatar.

Perpustakaan Warisan menyediakan berbagai sumber sejarah tentang Qatar dan wilayahnya, termasuk tulisan-tulisan yang ditulis oleh para pelancong dan penjelajah yang mengunjungi wilayah Teluk Persia selama berabad-abad, naskah Arab, peta sejarah dan bola dunia, serta instrumen ilmiah dan foto-foto awal.

Perpustakaan Nasional Qatar ini juga menampilkan sekitar 2.400 manuskrip berharga, di antaranya 'Mushaf' (Al-Qur'an) dan sastra Arab, dengan fokus utama pada ilmu-ilmu seperti geografi, astronomi, dan matematika. 

Koleksinya juga mencakup bahan cetakan mulai dari saat pencetakan pertama kali diperkenalkan di Eropa abad ke-15, termasuk terjemahan Latin yang berasal dari karya-karya abad ke 15 hingga 17 seperti Canon of Medicine of Avicenna (Ibnu Sina) yang terkenal.

Peta dan manuskrip dari Heritage Collection telah didigitalkan dan dapat diakses oleh pengguna terdaftar melalui katalog online perpustakaan. Bagian-bagian dari koleksi yang memiliki signifikansi internasional tertentu juga telah tersedia secara bebas bagi pengguna di seluruh dunia melalui World Digital Library (WDL), yang didukung secara finansial oleh pihak Perpustakaan Nasional Qatar.

Pada Agustus 2015, Perpustakaan Nasional Qatar oleh Federasi Internasional Asosiasi dan Lembaga Perpustakaan  ditunjuk sebagai Pusat Pelestarian dan Konservasi (PAC) wilayah MENA. Ada 13 PAC global lainnya pada saat pengangkatan tersebut.

Perpustakaan Digital Qatar

Perpustakaan Nasional Qatar terus mendigitalkan koleksi mereka agar bisa diakses secara online
Qatar Digital Library (QDL) adalah puncak dari kemitraan antara Qatar Foundation , Qatar National Library, dengan British Library pada tahun 2012.

Kemitraan tersebut berupaya untuk mendigitalkan harta benda warisan yang mendokumentasikan sejarah Arab dan Islam serta untuk membuatnya dapat diakses secara bebas untuk umum melalui Qatar Digital Library (QDL), yang diluncurkan online pada Oktober 2014. 

Qatar Digital Library (QDL), dengan antarmuka bilingual bahasa Inggris dan Arab, mencakup 1,5 juta halaman item yang dipegang oleh British Library yang berkaitan dengan sejarah wilayah Teluk Persia. Ini termasuk dokumen yang berasal dari pertengahan abad ke-18 hingga 1950-an dari India Office Records dan Private Papers(termasuk arsip Perusahaan India Timur dan lembaga penerusnya); dan 25.000 halaman adalah manuskrip ilmiah Arab abad pertengahan. 

Fase 3 dari proyek ini bertujuan untuk mendigitalkan 900.000 halaman lainnya yang dimulai pada Januari 2019.

Gedung Perpustakaan Baru

Dengan gedung barunya, Perpustakaan Nasional Qatar semakin lebih megah dan semakin nyaman dan luas.
Bangunan baru Perpustakaan Nasional Qatar dirancang oleh arsitek Belanda Rem Koolhaas sudah selesai dan dibuka untuk umum dalam soft opening pada bulan November 2017.

Fasilitas perpustakaan yang baru ini sangat canggih, mencakup berbagai pembelajaran kolaboratif dan individual. ruang, perpustakaan anak-anak, koleksi remaja dan dewasa muda, laboratorium komputer, fasilitas produksi media digital, ruang pertunjukan, restoran dan kafe, area teknologi bantu, dan pusat penulisan.

Pada 16 April 2018, Perpustakaan Nasional Qatar  mengadakan upacara pelantikan resminya yang terdiri dari upacara besar, di mana Yang Mulia Emir Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani menempatkan buku sejuta di rak-rak Perpustakaan Nasional Qatar. Satu juta koleksi buku perpustakaan termasuk 137.000 buku anak-anak dan 35.000 buku untuk remaja.

Perpustakaan mengeluarkan kompetisi di mana anggota Qatar Foundation dapat memberi nama kafe yang akan datang. Tiga pemenang terpisah memilih nama pemenang "Safahat," yang berarti halaman dalam bahasa Arab. Kafe dibuka dan mulai melayani publik pada akhir September 2018. Keanggotaan perpustakaan gratis bagi siapa pun yang memegang ID Qatar.

Acara dan Pameran

Tak hanya berfungsi sebagai tempat belajar dan riset, Perpustakaan Nasional Qatar juga berfungsi sebagai tempat rekreasi dan hiburan, dimana Perpustakaan Nasional Qatar juga menampilkan berbagai pameran yang berlangsung di berbagai tempat di sekitar gedung perpustakaan.

Salah satu musik favorit masyarakat Qatar diantaranya yaitu The Qatar Philharmonic Orchestra sehingga Perpustakaan Nasional Qatar rutin mengundangnya pentas disini. 
The Qatar Philharmonic Orchestra melakukan kegiatan rutin bulanan untuk masyarakat secara gratis. Lebih dari 80 acara gratis lainnya diadakan di perpustakaan setiap bulan, termasuk kegiatan kelompok rajutan, di mana wanita datang setiap Kamis dan duduk selama empat jam.

Setelah membaca ulasan singkat yang kami sertakan gambar-gambar terkait Perpustakaan Nasional Qatar diatas, bisa disimpulkan bahwa semua 6 Fungsi Perpustakaan sudah dijalankan oleh Perpustakaan Nasional Qatar.

Enam Fungsi Perpustakaan yang dimaksudkan yaitu sebagai tempat menyimpan koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam, untuk sarana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka.


Bagaimana di Indonesia?
.. Jika di setiap daerah punya perpustakaan selengkap dan senyaman ini, tapi masyarakatnya tetap malas baca dan malas datang ke perpustakaan, mungkin SANGAT BOLEH pustakawan sebut masyakat minat baca rendah dan gak tau nikmatnya berlama-lama di perpustakaan :-) .."

Tapi kalau kondisi perpustakaan masih banyak kekurangan tapi masyarakat divonis minat baca rendah dan malas datang ke perpustakaan, netizen +62 pasti akan berteriak begini,

...Ngapain ke perpustakaan?, pustakawanya gak ramah, koleksinya lawas, koneksi internet super lelet macem keong pincang, kursinya gak nyaman, toilet kotor banget, dan suara negatif lainya
Semoga di Indonesia semakin banyak perpustakaan yang mampu menjalankan 6 Fungsi Perpustakaan sebagaimana yang sudah dijalankan oleh perpustakaan-perpustakaan besar di penjuru dunia.



Labels: ,

Monday, May 18, 2020

15 Perpustakaan dengan Koleksi Terbanyak di Dunia (2)

Dunia Perpustakaan | Kami selalu menekankan dan ingin memastikan bahwa negara-negara yang besar dan maju, selalu dan selalu didalamnya ada peran pemerintah yang sangat support serta mengedepankan keberadaan perpustakaan, yang didukung tingginya minat baca masyarakat di negara-negara maju tersebut.

Fakta-fakta ini juga yang akan anda lihat dan temukan dalam tulisan ini, dimana negara-negara maju dipastikan selalu memiliki perpustakaan yang luar biasa keren, termasuk memiliki perpustakaan dengan koleksi terbanyak di dunia.

Bahkan nanti anda akan melihat bahwa negara besar seperti Amerika Serikat bisa sebesar seperti sekarang ini karena faktanya negara AS ditopang dan memiliki dua perpustakaan yang masuk 3 besar (1 dan 3) Perpustakaan dengan koleksi terbanyak di dunia.

Karena ada total 15 perpustakaan dengan koleksi terbanyak di dunia, agar tulisan tidak terlalu panjang akan kami bagi menjadi 3 bagian (1, 2, dan 3), dimana masing-masing bagian kami ulas 5 perpustakaan dengan koleksi terbanyak di dunia.

(Baca juga: 15 Perpustakaan dengan Koleksi Terbanyak di Dunia (1)

Berikut ini 15 Perpustakaan dengan Koleksi Terbanyak di Dunia bagian kedua yang kami sertakan anggaran tiap tahunya, dikutip dari rankred.com.

#6. Perpustakaan Nasional Jepang

Katalog : 41,9 juta koleksi
Anggaran Tahunan : ¥ 21,8 miliar

Penduduk Jepang dikenal sangat rajin membaca, tak heran perpustakaan di negara tersebut masuk ke dalam daftar ke-6 sebagai perpustakaan dengan koleksi terbanyak di dunia.

National Diet Library atau NDL merupakan Perpustakaan Nasional Jepang. Perpustakaan Nasional Jepang ini didirikan tahun 1948 setelah dilakukan penggabungan dua entitas milik negara, yaitu perpustakaan Dewan Perwakilan Rakyat dan House of Peers (sekarang Dewan Dewan), untuk melayani anggota legislatif Jepang yang terpilih dengan lebih baik.

Perpustakaan Nasional Jepang ini memiliki koleksi publikasi nasional dan internasional dengan koleksi bahasa asing yang luas. Perpustakaan terbesar di Jepang ini mampu menampung 30 juta dokumen mengejutkan dari pendudukan pasukan Sekutu pasca-perang di Jepang, sekitar setengah juta buku sains canggih, dan hampir 500.000 peta.

Perpustakaan Nasional Jepang ini memiliki dua fasilitas utama, satu di Tokyo dan lainnya di Kyoto. Beberapa yang lebih kecil tersebar di seluruh Jepang.

#7. Perpustakaan Nasional Prancis

Katalog : 40 juta koleksi
Anggaran Tahunan : € 254 juta

Sebagai perpustakaan nasional Perancis, Perpustakaan ini berhak atas salinan setiap publikasi di negara tersebut.

Repositori digital di perpustakaan ini memberikan penggunanya akses ke lebih dari 4,2 juta dokumen, 500.000 buku, dan hampir 2 juta artikel dan majalah surat kabar.

Asal usul Perpustakaan Nasional Prancis ini dapat ditelusuri kembali ke Perpustakaan Kerajaan yang didirikan di Istana Louvre oleh Charles V pada tahun 1368. Sebagian besar bangunan modern perpustakaan dibangun selama ekspansi tahun 1998 di bawah Presiden François Mitterrand.

#8. Perpustakaan Nasional China

Katalog : 37,7 juta koleksi

Perpustakaan Nasional China (NLC) merupakan perpustakaan terbesar di Asia (berdasarkan ukuran katalog) dan salah satu yang terbesar di dunia. Meskipun perpustakaan awalnya didirikan pada 1909 di bawah dinasti Qing, perpustakaan itu secara resmi diresmikan tiga tahun kemudian di tahun 1912.

Tahun 1928, namanya diubah menjadi Perpustakaan Peiping Nasional sebelum secara resmi diganti namanya menjadi Perpustakaan Nasional China pada tahun 1987.

Perpustakaan Nasional Chin menaungi banyak karya sastra Cina yang sangat berharga. Perpustakaan Nasional Chin juga juga memiliki koleksi yang sangat langka seperti tulang dan cangkang yang berasal dari abad ke-16 SM, jurnal tertua yang masih ada tentang pengobatan Tiongkok, dan berbagai peta dan diagram kuno.

Sebagian besar publikasi terkini mencakup karya-karya Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pemerintah asing lainnya yang terdiri dari ratusan bahasa berbeda.

#9. Perpustakaan Nasional Rusia

Katalog : 36,5 juta koleksi.
Anggaran Tahunan : 570 juta Rubel

Perpustakaan Nasional Rusia terletak di St. Petersburg merupakan perpustakaan umum pertama dan tertua di Rusia (meskipun itu bukan yang terbesar). Perpustakaan Nasional Rusia bersama dengan Perpustakaan Negara Rusia (Moskow) serta Perpustakaan Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, berfungsi sebagai deposit hukum untuk publikasi di negara tersebut.

Perpustakaan Nasional Rusia menyimpan sejumlah besar dokumen, jurnal, dan manuskrip mengenai warisan budaya dan nasional bangsa. Dari 36 juta item, 15 juta hanya berupa buku. Koleksi lain termasuk majalah, surat kabar, dokumen resmi, rekaman suara, database, peta, dan media lainnya.

#10. Perpustakaan Kerajaan Denmark

Katalog: 35.4 Juta koleksi
Anggaran: 385.9 juta Krona

Perpustakaan Kerajaan Denmark merupakan perpustakaan yang terbesar di wilayah Nordik (negara-negara Nordik). Didirikan oleh Raja Frederik III pada abad ke-17. Sejak saat itu, salinan dari hampir setiap karya cetak di negara ini disimpan di sini.

Karena beberapa sumbangan besar selama bertahun-tahun, perpustakaan sekarang memiliki hampir setiap publikasi yang dikenal dalam sejarah Denmark, termasuk buku cetak pertama (sekitar tahun 1482) oleh Johann Snell.

Pada 2015, koleksi perpustakaan berjumlah 35,4 juta item, yang hampir 20 juta adalah dokumen dan gambar, 6,4 juta buku dan jurnal sisanya adalah pamflet bersejarah, publikasi perusahaan, dan artefak lainnya. Koleksi digital perpustakaan ini sudah mencapai 791 terabyte dan masih terus bertambah.

bersambung......

Labels:

Tuesday, October 29, 2019

Perpustakaan Beijing Jingshan School yang Memukau

Dunia Perpustakaan | Sudah lama kami tidak memberikan referensi terkait dengan perkembangan perpustakaan-perpustakaan di berbagai negara.

Betapa kami agak terkejut dalam perkembanganya saat ini, kami mendapatkan informasi dari banyak sumber, tentang betapa masif dan cepat perkembangan perpustakaan di banyak negara.

Kemajuan-kemajuan yang kami maksud tersebut diantaranya terkait dengan renovasi besar-besaran terkait dengan design dan fasilitas perpustakaan di banyak negara.

Kali ini kita akan mengupas salah satu renovasi perpustakaan sekolah di Beijing Jingshan School yanga ada di China.

Baru-baru ini Beijing Jingshan School  melakukan renovasi total terkait dengan fasilitas perpustakaan di sekolah mereka.

Fasilitas perpustakaan sangat nyaman dan lengkap | gambar: archdaily.com
Perlu kita ketahui, Beijing Jingshan School merupakan sekolah menengah dan dasar, yang terletak di jalan Dengshikou di Beijing, Cina.

Beijing Jingshan School didirikan pada tahun 1960, dan merupakan pusat koneksi untuk Rencana Pendidikan Baru Asia UNESCO.

Untuk menopang kenyamanan siswanya, Beijing Jingshan School merenovasi total perpustakaan sekolah mereka dengan sangat megah, nyaman, dan sudah pasti sangat instagramable sehingga perpustakaan ini benar-benar menjadi tempat paling favorit di sekolah tersbut.

Perpustakaan ini terletak di dalam bangunan utama sekolah, sehingga semua siswa sangat mudah untuk menjangkau perpustakaan ini.

Untuk lebih lengkapnya, mari kita ulas setiap sisi dari bangunan di Perpustakaan Beijing Jingshan School sebagai berikut;

Bagian depan dari Perpustakaan Beijing Jingshan School | gambar: archdaily.com
Design dari depan, perpustakaan ini cukup simple tapi sangat modern, sehingga membawa kesan luas, nyaman, dan sangat menonjol dibandingkan dengan ruangan sekolah yang lain.

Ruang Informasi untuk pustakawan | gambar: archdaily.com
Saat masuk ke dalam, pengunjung akan disambut ruang informasi pustakawan. Melalui ruang informasi ini para siswa bisa menanyakan kepada pustakawan terkait dengan semua hal yang terkait dengan perpustakaan ini.

Rak buku tersusun dengan sangat rapi dan memudahkan siswa menemukan buku yang mereka cari | gambar: archdaily.com

Semua rak buku yang ada disini disusun dengan sangat rapi dan sangat menyesuaikan dengan bentuk ruangan sehingga sangat nyaman untuk para siswa yang hendak baca buku disini.

Siswa bisa memilih tempat baca sesuai dengan yang disuka | gambar: archdaily.com
Siswa bisa baca dengan santay dan nyaman | gambar: archdaily.com
Disediakan banyak busa yang bisa anda pakai duduk dimanapun yang anda suka | gambar: archdaily.com
Para siswa bisa memilih berbagai pilihan untuk membaca buku sesuai dengan yang mereka suka. Ada yang lesehan dengan disediakanya busa untuk duduk, ada juga siswa yang duduk diatas berdekatan dengan buku-buku yang ada di rak, yang pasti mau baca buku dimanapun, semua merasa nyaman.

Pencahayaan di setiap rak cukup terang. | gambar: archdaily.com

Pencahayaan di setiap rak buku cukup terang sehingga sangat memudahkan para siswa menemukan buku-buku yang mereka cari.

Ukuran rak juga disesuaikan dengan tinggi rata-rata siswa disana, sehingga dipastikan para siswa akan dengan mudah menjangkau buku yang terletak di setiap rak buku yang ada.
Kegiatan Belajar Mengajar bisa dilakukan di dalam perpustakaan | gambar: archdaily.com
Dengan fasilitas perpustakaan yang sangat lengkap dan nyaman ini, para guru dan siswa bisa juga melakukan kegiatan belajar mengajar di dalam perpustakaan.

Hal ini memudahkan guru dan siswa untuk betah di perpustakaan, atau sekedar membuang kejenuhan karena siswa dan guru terlalu jenuh jika harus melakukan kegiatan belajar mengajar di kelas terus.

Singkatnya, perpustakaan di Beijing Jingshan School ini disipakan untuk para siswa agar mereka nyaman di perpustakaan, sehingga mereka tidak punya alasan untuk tidak datang ke perpustakaan.

Apa yang kita lihat dari fasilitas di Beijing Jingshan School ini menunjukan betapa negara China sangat serius untuk meningkatkan mutu Sumber Daya Manusia (SDM) warga negaranya, sehingga sebagai bukti keseriusan mereka yaitu dengan cara menyediakan berbagai fasilitas perpustakaan terbaik di setiap sekolah di China.

Jadi tidak berlebihan, dengan keseriusan yang dilakukan oleh pemerintah China tersebut, hari ini dan yang akan datang, China memiliki impian untuk bisa menjadi negara terbaik di dunia.

Bagaimana dengan Indonesia?

Semoga saja cepat atau lambat, negara kita juga sedang berjuang untuk menuju ke arah sana, Semoga!

Labels: ,

Tuesday, March 19, 2019

15 Perpustakaan dengan Koleksi Terbanyak di Dunia (1)

Dunia Perpustakaan | Kami selalu menekankan dan ingin memastikan bahwa negara-negara yang besar dan maju, selalu dan selalu didalamnya ada peran pemerintah yang sangat support serta mengedepankan keberadaan perpustakaan, yang didukung tingginya minat baca masyarakat di negara-negara maju tersebut.

Fakta-fakta ini juga yang akan anda lihat dan temukan dalam tulisan ini, dimana negara-negara maju dipastikan selalu memiliki perpustakaan yang luar biasa keren, termasuk memiliki perpustakaan dengan koleksi terbanyak di dunia.

Bahkan nanti anda akan melihat bahwa negara besar seperti Amerika Serikat bisa sebesar seperti sekarang ini karena faktanya negara AS ditopang dan memiliki dua perpustakaan yang masuk 3 besar (1 dan 3) Perpustakaan dengan koleksi terbanyak di dunia.

Karena ada total 15 perpustakaan dengan koleksi terbanyak di dunia, agar tulisan tidak terlalu panjang akan kami bagi menjadi 3 bagian (1, 2, dan 3), dimana masing-masing bagian kami ulas 5 perpustakaan dengan koleksi terbanyak di dunia.

Berikut ini 15 Perpustakaan dengan Koleksi Terbanyak di Dunia bagian pertama yang kami sertakan anggaran tiap tahunya, dikutip dari rankred.com.


#1. Library of Congress | Amerika Serikat

Library of Congress tak hanya terbesar di Amerika Serikat saja tapi merupakan perpustakaan terbesar sekaligus memiliki koleksi buku terbanyak di dunia. Library of Congress memiliki koleksi buku dalam 450 bahasa dari penjuru dunia.

Dalam website resminya, disebutkan jika ada sekitar dua pertiga dari total buku yang diperoleh di setiap tahunnya menggunakan bahasa asing (non Inggris).

Karena ukuranya yang besar, Perpustakaan Library of Congress hingga akhir 2018 sudah memiliki koleksi 38 juta bahan cetak, sekitar 3,6 juta rekaman suara, 14 juta lebih dalam koleksi gambar, 70 juta naskah langka, serta memiliki koleksi 5,5 juta peta.

Koleksi : Lebih 164 juta 

Anggaran Tahunan : USD642,4 juta


#2. British Library | Inggris

British Library merupakan perpustakaan terbesar di Inggris, dan terbesar kedua di dunia setelah Library of Congress di Amerika Serikat. Lokasinya yang strategis di wilayah Euston Road, London ini disebut juga sebagai salah satu perpustakaan riset utama di dunia yang sudah berdiri sejak 1973.
British Library sendiri memiliki koleksi-koleksi bersejarah terpenting perpustakaan, termasuk diantaranya memiliki banyak naskah langka Sir Hans Sloane dan Robert Jarley, yang itu sekaligus juga termasuk King's Library (koleksi-koleksi buku yang dikumpulkan King George III) dan Old Royal Library.

Perpustakaan ini juga memiliki koleksi online yang sangat lengkap. Anda bisa melihat koleksi-koleksi Galeri gambar online hingga ke lebih dari 30.000 gambar dari buku-buku kuno dan abad pertengahan, termasuk diantaranya fasilitas khusus "putar halaman virtual" dari beberapa buku dan dokumen terkenal seperti notebook Leonardo da Vinci.

Koleksi : Lebih dari 150 juta

Anggaran Tahunan : 141 juta Poundsterling


#3. New York Public Library | Amerika Serikat

Jangan heran jika Amerika Serikat menjadi negara besar dengan berbagai kemajuanya. Salah satu rahasianya karena negara tersebut ditopang perpustakaan di setiap daerahnya, dan memiliki 2 perpustakaan terbesar di dunia.

New York Public Library masuk sebagai perpustakaan terbesar ketiga di dunia dan terbesar kedua di Amerika Serikat.

New York Public Library memiliki bangunan yang megah dan sangat nyaman, sehingga tidak heran jika New York Public Library ini dikunjungi lebih dari 18 juta orang pengunjung setiap tahunnya sekaligus menjadikanya perpustakaan paling banyak dikunjungi di dunia.

New York Public Library memiliki 87 cabang yang tersebar di seluruh kota. Lokasinya tersebar dengan titik lokasi 39 di Manhattan, 35 di Bronx dan sisanya di Staten Island.

Koleksi Digital di perpustakaan New York Public Library berisi lebih dari 700.000 gambar dari berbagai koleksi perpustakaan. Pada tahun 2006, situs web ini terdaftar sebagai salah satu dari 50 Situs Website Paling Keren 2005 oleh Time Magazine.

Koleksi : 55 juta

Anggaran Tahunan : USD250 juta


4. Library and Archives Canada | Kanada

Library and Archives Canada (LAC) hingga akhir tahun 2018 terhitung sudah menampung lebih dari 20 juta buku, diantaranya ada 24 juta koleksi gambar dan memiliki data digital lebih dari 1.000 terabyte. Sebagian besar data online yang tersedia adalah tesis doktoral, buku-buku populer dan barang rapuh dan rentan. Beberapa dokumen penting dalam penyimpanan data online perpustakaan adalah proklamasi Undang-Undang Konstitusi Kanada dan Undang-Undang Amerika Utara Inggris.

Koleksi : 54 juta

Anggaran Tahunan : 116,9 juta dollar Kanada


5. Russian State Library | Rusia

Perpustakaan Negara Rusia di Moskow adalah yang terbesar di negara ini. Didirikan pada 1 Juli 1862, Russian State Library merupakan perpustakaan tertua di Moskow. Perpustakaan menampung 44 juta item yang menakjubkan.

Koleksinya sendiri terdiri dari 17 juta koleksi buku, 13 juta jurnal, dan memiliki koleksi dokumen yang terdiri dari 247 bahasa yang berbeda.

Koleksi : 44 juta

Anggaran Tahunan : 1,6 miliar Rubel

bersambung .....

Labels:

Tuesday, August 14, 2018

Arkeolog Temukan Perpustakaan Romawi Kuno di Tengah Kota Jerman

Dunia Perpustakaan | Sejarah Perpustakaan | Perpustakaan Kuno | Cologne, Jerman - Penemuan-penemuan terkait keberadaan perpustakaan kuno di banyak negara sering terjadi. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa peradaban dan keberadaan perpustakaan di suatu zaman merupakan bagian terpenting dalam suatu peradaban.

Baru-baru ini ditemukan sebuah perpustakaan kuno di Cologne Jerman, Dikutip dari kompas.com [8/8/2018] ditemukan sebuah perpustakaan kuno, tepatnya di bawah tanah di kota Cologne, Jerman.

Setelah dipelajari, ternyata perpustakaan kuno tersebut diduga sebuah perpustakaan Romawi kuno yang saat itu pernah menyimpan koleksi naskah hingga 20.000.

Dalam galian tersebut, para arkeolog menemukan struktur epik secara tidak sengaja sejak 2017. Saat itu mereka sedang melakukan penggalian tanah di gereja Protestan yang bertujuan untuk membangun pusat komunitas baru.

Temuan ini memang tidak terlalu mengejutkan, mengingat Cologne merupakan salah satu kota tertua di Jerman yang didirikan pada tahun 50. Sehingga tidak mengherankan juga jika ia masih menyimpan struktur yang berasal dari zaman Romawi.

Namun menariknya, saat pertama kali ditemukan para arkeolog tidak menyadari struktur itu merupakan perpustakaan. Hingga akhirnya mereka menemukan lubang misterius di dinding yang masing-masing berukuran sekitar 80 x 50 sentimeter.

"Lubang di dinding itu kemungkinan lemari yang digunakan untuk gulungan atau naskah," kata Dirk Schmitz, arkeolog dari Roman-Germanic Museum di Cologne. "Dinding seperti itu khusus digunakan di perpustakan. Anda juga bisa menemukan yang serupa di perpustakaan di Efesus, Turki," ujarnya lagi.

Schmitz menduga jika perpustakaan itu berisi setidaknya 20.000 gulungan. Meskipun perpustakaan yang baru saja ditemukan ini ukurannya lebih kecil dibandingkan perpustakaan Celsus di Efesus yang dibangun pada tahun 117, namun ini merupakan temuan yang luar biasa.

"Ini merupakan perpustakaan paling awal di Jerman dan sekaligus di provinsi Romawi bagian barat laut. Mungkin juga masih ada banyak kota-kota Romawi yang juga memiliki perpustakaan, tetapi belum diekskavasi," jelas Schmitz.

Lanjutnya, Romawi kuno juga sangat mahir memilih tempat yang pas untuk sebuah perpustakaan. Perpustakaan terletak di jantung Cologne, di pusat perbelanjaan, tempat umum yang ada di pusat kota. Perpustakaan juga dibangun dengan material yang sangat kuat," tambahnya.

Perpustakaan kemungkinan berlantai 2 dengan luas 20 x 9 meter. Selain itu, juga ada tambahan sebuah ruang kecil di mana patung Minerva, dewi Athena Yunani ditempatkan. Setelah penemuan ini, reruntuhan perpustakaan rencananya akan diintegrasikan dengan pusat komunitas gereja baru, yang di kemudian hari bisa memudahkan akses pengunjung dan arkeolog ke situs peninggalan Romawi ini.

Arkeolog Temukan Perpustakaan Romawi Kuno di Tengah Kota Jerman

Dengan temuan ini menunjukan bahwa kemajuan-kemajuan dari peradaban sangat ditentukan adanya perpustakaan dan budaya baca di setiap zamanya.

Kalau di zaman yang katanya serba modern ini Perpustakaan dan budaya baca justru ditinggalkan, sungguh celaka generasi sekarang!

Gejala-gejala sudah mulai terlihat sekarang, dimana mereka yang meninggalkan budaya baca sangat mudah diadu-domba, mudah menerima dan sebarkan hoax, dan mudah melakukan berbagai "kebohonan-kebodohan" lainya.

-----------------------------------------------------------
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Perpustakaan Zaman Romawi Kuno Ditemukan di Pusat Kota Jerman", https://sains.kompas.com/read/2018/08/08/193800423/perpustakaan-zaman-romawi-kuno-ditemukan-di-pusat-kota-jerman. 
Penulis : Kontributor Sains, Monika Novena
Editor : Shierine Wangsa Wibawa

Labels: ,

Saturday, March 31, 2018

Mengintip Kemegahan dan Kenyamanan Perpustakaan Nasional China

Dunia Perpustakaan || “Tuntutlah Ilmu sampai ke negeri China”, kalimat tersebut tentunya tidaklah asing di telinga kita. Dan mungkin tidak ada salahnya juga jika ungkapan tersebut dikaitkan dengan kemajuan China yang menjadi negara besar di dunia khususnya dalam penguasaan bidang Ekonomi dan teknologinya.

Terkadang kita terlalu membenci kemajuan China karena China mampu merajai produk di negeri kita sendiri. Mulai dari produk elektronik, tekstil, bahkan hingga produksi pertanian, produksi dari China mudah kita temukan di negeri kita ini, bahkan di negara lain di penjuru bumi.

Karena alasan itulah terkadang kita membenci China, bahkan bisa dikatakan ada yang sampai megklaim diri mereka anti China, walaupun mungkin di dalam rumahnya banyak produk China.

Padahal akan lebih bijak, sudah seharusnya kita berkaca dan bercermin dari keberhasilan China tersebut, kita harus berani bertanya, Bagaimana bisa, China bisa semaju seperti sekarang?

Bukankah setiap negara pasti bermimpi, bagaimana supaya produk-produk mereka bisa kuasai Dunia?

Misalnya kita berandai-andai, jika produksi buatan Indonesia mampu kuasai pasar dunia, emangnya anda sebagai warga Indonesia tidak bangga?

Terkadang saat kita mendengar dan membaca jika produk Indonesia terkenal di dunia, kita bangganya minta ampun. Saya pikir begitu juga China dan negara lain.

Jadi sehrusnya kita memang harus langsung berani untuk belajar dari China, bagaimana China bisa sehebat itu, bukan justru malah hanya sibuk mencaci-maki dan membenci China, akan tetapi kita tidak ingin perbaiki diri bagaimana supaya bangsa kita bisa maju seperti [melebihi] China?

Jika anda percaya, kemajuan setiap negara pasti selalu di topang oleh fasilitas pendidikan yang baik termasuk salah satunya fasilitas perpustakaan. Di China sendiri memilki perpustakaan Nasional yang sangat besar dan lengkap yang memberikan pelayanan dan fasilitas ilmu pengetahuan untuk menopang warganya.

National Library of China terletak di Zhongguancun S St, Haidian, Beijing, China. Perpustakaan ini memiliki koleksi yang sangat lengkap dan memiliki ruang baca yang sangat nyaman.

National Library of China memang terlihat sangat besar dan megah. Hal ini bisa dilihat dari luas bangunan serta kemegahan bentuk interior bangunanya yang begitu mengagumkan. Setiap pengunjung yang datang kesini akan dimanjakan dengan kenyamanan yang sangat luar biasa.
Jika dilihat dari luar, bentuk bangunan sudah terlihat besar dan kokoh srta sangat menonjol jika dibandingkan dengan yang lainya.

Saat kita memsuki bagian dalam perpustakaan nasional di China ini, maka kita akan terkagum-kagum lagi dengan kemegahan yang luar biasa.
Berbeda dengan di Indonesia, di perpustakaan nasional China ini, pengunjungnya selalu membludak dan dipenuhi warga.

Berbagai status sosial menyatu di perpustakaan nasional China untuk membaca buku, diskusi, memanfaatkan fasilitas internet, tempat bermain, tujuan wisata dan yang lainya.
Rak-rak buku di Perpustakaan Nasional China dibuat dengan dukungan high quality dan di setiap rak sudah terbuat dari bahan berkwalitas terbaik.

Perpustakaan Nasional China yang berlokasi di Beijing ini juga selalu buka hingga larut malam, hal ini dikarenakan untuk melayani dan memberi kesempatan warga China yang saat siang hari sibuk bekerja dan beraktivitas.

Singkatnya, perpustakaan nasional di China ini memang sudah menjalankan fungsi mereka sebagai perpustakaan yang mulai dari untuk tujuan belajar, riset, hingga sebagai sarana rekreasi dan tujuan wisata untuk keluarga.

National Library of China berdiri sejak tahun 1909. Perpustakaan Nasional ini melayani semua masyarakat dari berbagi status sosial, dari kalangan pelajar, karyawan, pejabat, peneliti, dan masih banyak laghi jenis status sosial yang lain. Perpustakaan ini memiliki luas lantai total 170.000 meter persegi, peringkat kelima di antara perpustakaan dunia.

Pada akhir tahun 2003, Perpustakaan memiliki koleksi kaya 24,1100,000 volume / item, juga peringkat kelima di antara perpustakaan dunia. Dalam koleksi terdapat 270.000 jilid buku langka, 1.600.000 volume buku-buku kuno umum, 35.000 potongan cangkang kura-kura scripted dan tulang hewan.

Melihat kemegahan National Library of China ini sepertinya akan membuat kita iri jika dibandingkan dengan perpustakaan nasional di negara kita. Tentunya hal ini perlu dijadikan inspirasi dan motivasi untuk pihak terkait untuk selalu dan terus memperbaiki diri dalam memberikan pelayanan dan fasilitas terbaik untuk masyarakat melalui perpustakaan yang baik juga.

sumber gambar: archdaily.com

Labels:

Wednesday, July 5, 2017

Kemegahan dan Kenyamanan Perpustakaan Umum Seattle Amerika Serikat

Dunia Perpustakaan | Perpustakaan Umum Seattle Amerika Serikat | Perpustakaan sudah sewajibnya selalu mengikuti perkembangan zaman dan selalu mengutamakan kebutuhan dan keinginan masyarakat. Termasuk saat dunia berubah dengan begitu cepatnya dalam hal teknologi.

Dalam kondisi ini perpustakaan tidak boleh tertinggal apalagi menutup diri dan menolak perubahan.

Walaupun harus terus mengikuti kemajuan teknologi, yang harus dicatat tentunya perpustakaan tetap menjaga nilai-nilai penting dalam bidang perpustakaan.

Kemajuan teknologi yang begitu pesat membuat berbagai perpustakaan di negara maju terus lakukan inovasi. Salah satu perpustakaan tersebut yaitu Perpustakaan Umum di Seattle Amerika Serikat.

Saat dibuka pada tahun 2004, perpustakaan umum baru di Seattle, Amerika Serikat, dipublikasikan sebagai model yang mewakili era digital dan semangat warga dalam menyambut milenium baru.

Dikutip dari kompas.com [29/6/2017], Gedung empat lantai itu terhubung dengan tangga berbentuk spiral sehingga orang bisa naik turun melalui tangga yang landai. Desain yang disebut membanggakan itu dibuat oleh Rem Koolhaas dan Joshua Prince-Ramus dari rumah produksi OMA.

Buku dan E-Book

Di sisi lain, banyak orang menduga bahwa buku-buku yang tersimpan di dalam perpustakaan itu akan masuk ke katalog kartu dan rekaman kaset.

Namun, setelah lebih dari satu dekade, permintaan terhadap buku yang masih bisa ditemukan di perpustakaan itu tetap kuat.

"Ide bahwa setiap orang akan membaca tulisan di layar belum terbukti benar. Tetap ada tempat untuk buku-buku kuno. Industri penerbitan mengerti soal itu. Hal ini bisa dilihat dari desain berkualitas tinggi perpustakaan tersebut," ujar Meredith TenHoor, sejarawan arsitektur dan profesor di Pratt Institute School of Architecture.

Desain paling inovatif di perpustakaan itu, menurut TenHoor, yaitu deretan buku yang bukan hanya sebagai sumber informasi, melainkan juga sebagai sumber praktik sosial dan intelektual yang berkembang di seputar dunia bacaan dan penelitian.

Sementara itu, Wakil Presiden Bidang Perencanaan Modal di Perpustakaan Umum New York atau New York Public Library (NYPL) Risa Honig mengatakan, saat itu pihaknya menganggap bahwa buku tidak hanya soal eksistensi arsitektural.

Waktu itu, sekitar 20 persen dari keseluruhan sirkulasi NYPL adalah buku elektronik (e-book).

"Buku menciptakan suatu penampilan dan memberi rasa dalam suatu ruangan. Jadi tidak hanya bagian dari desain, tetapi merupakan hal penting,” kata Honig.

Hal itu bisa dilihat di cabang perpustakan yang baru dibuka di 53rd Street dan yang segera direnovasi di Mid-Manhattan.

Tata Ruang

Ada suatu perubahan yang terjadi, yaitu perpustakaan semakin berperan untuk mengakomodasi banyak kegunaan, di antaranya untuk tempat menyimpan dan mengedarkan buku.

Hal itu seperti yang terlihat dari hasil rancangan ulang di Mid-Manhattan oleh Mecanoo dan Beyer Blinder Belle, arsitek dari perusahaan Belanda.

Mereka akan menambahkan tempat duduk, bagian pelayanan, dan ruang publik di perpustakaan yang terbesar di kota tersebut. Rencananya, pembangunan dimulai pada musim gugur.

"Ada ruang untuk penelitian dan berbagai tugas yang perlu dikerjakan di perpustakaan. Tersedia juga ruang sesuai penggolongan buku seperti di perpustakaan lama yang disukai orang," ucap TenHoor mengacu pada desain Mecanoo.

Menurut Honig, ketika merancang ulang perpustakaan, NYPL berusaha memadukan tempat duduk formal dan santai, ruang multiguna, lebih banyak akses internet dan keluar, serta cahaya alami.

Hal itu bisa dilihat di Washington Heights yang baru saja direnovasi dan di Stapleton, Staten Island.

"Kami menciptakan ruangan yang menginspirasi bagi komunitas di mana mereka bisa berinteraksi satu sama lain. Itu merupakan suatu hal penting," kata Honig.

Sehubungan dengan itu, saat merancang bangunan untuk masa depan, bagian yang paling penting mungkin bukanlah arsitekturalnya, melainkan bangunan itu sendiri.

Pendanaan

Dalam beberapa tahun terakhir, NYPL dan Perpustakaan Umum Brooklyn berusaha mengatasi masalah kekurangan dana dengan menjual sejumlah cabang di daerah yang bernilai jual tinggi, lalu menggantinya dengan perpustakaan yang lebih kecil.

Justin Davidson, kritikus arsitektur di New York, misalnya, menyebut perpustakaan baru di 53rd Street tersebut sebagai ruang bawah tanah yang ramping tetapi menyusut.

Menurut dia, perpustakaan itu bisa saja memiliki banyak elemen cerdas, tetapi kurang cahaya dan ruang bagi pendahulunya.

Beberapa tahun setelah penjualan perpustakaan di 53rd Street, NYPL pun mempertimbangkan penjualan lain di Mid-Manhattan, yang diharapkan akan membantu pendanaan renovasi cabang utama di Fifth Avenue.

Namun, dalam menghadapi pertentangan kuat dari masyarakat, NYPL memilih untuk merenovasinya.

Ruang yang terbuka bagi publik untuk kali pertama seharusnya merupakan ruang yang bisa menyesuaikan dengan perubahan teknologi di masa depan, yaitu teras di atap, satu-satunya bagian yang bebas di Midtown.

Labels:

Saturday, March 18, 2017

Perpustakaan di Kota Seinäjoki Finlandia yang Memukau!

Dunia Perpustakaan | Setelah kita melihat fasilitas dan profil mengenai Perpustakaan Finlandia, maka ada baiknya kita juga mencoba melihat-lihat perpustakaan di daerah/kota di Finlandia.

Karena sebagaimana kita sudah ketahui, Finlandia merupakan negara dengan kwalitas pendidikan terbaik di dunia, termasuk dalam hal minat bacanya.


Agar Indonesia bisa belajar dari Finlandia, tidak ada salahnya kita belajar dari Finlandia, khususnya dalam hal fasilitas perpustakaan di negara tersebut.

Kali ini duniaperpustakaan.com tertarik untuk membahas terkait dengan Perpustakaan di Kota Seinäjoki, Finlandia.

Perlu anda tahu, di Finlandia ada sebuah kota bernama Seinäjoki, dimana kota ini merupakan sebuah kota yang letaknya berada di bagian tengah. Tepatnya di Ostrobothnia Selatan.


Pada tahun 2012 yang lalu, kota ini memiliki jumlah penduduk sebesar 58.796 jiwa dan memiliki luas wilayah 1.469 km².  Kota ini memiliki angka kepadatan penduduk 41 jiwa/km².

Di tengah-tengah kesibukan warganya, pemerintah setempat selalu ingin menyediakan fasilitas perpustakaan yang terbaik untuk warganya.

Di Kota ini sebenarnya sudah berdiri sebuah perpustakaan yang di bangun sejak tahun 1965, namun karena pertumbuhan penduduk yang semakin banyak, ditambah perkembangan kemajuan teknologi dan informasi yang begitu pesat, maka pihak pemerintah setempat memutuskan untuk merenovasi perpustakaan tersebut.

Pemerintah setempat menilai bahwa, untuk mendukung kemajuan masyarakat di kota tersebut dalam memberikan fasilitas perpustakaan yang terbaik, maka dalam proses perencanaan renovasi dilakukan dengan sangat teliti.

gambar: flickr[/caption]

Melalui mitra salah satu arsitek ternama Alvar Aalto, perpustakaan dibangun dengan konsep modern dengan mengutamakan kebutuhan masyarakat kota modern.

gambar: flickr[/caption]

Sang arsitek juga menyadari bahwa di era internet yang semakin canggih, ditambah semakin banyak orang lebih tertarik internet daripada buku, maka sang arsitek membuat desaign perpustakaan dengan fasilitas yang pasti sangat disukai warga kotanya.

Maka dibangunlah sebuah perpustakaan dengan konsep yang memadukan bangunan lama dan bangunan baru yang modern.

gambar: flickr[/caption]

Dalam membangun perpustakaan ini memiliki banyak sekali tantangan. Beberapa tantangan yang dimaksud tentunya, jangan sampai saat perpustakaan sudah direnovasi dengan dana besar, namun ternyata masyarakat di kota tersebut tidak mau dan enggan datang ke perpustakaan karena fasilitas dan suasananya yang tidak nyaman.

Tantangan lain yang jauh lebih penting untuk para desainer adalah dalam hal menentukan fasilitas yang seperti apa dan untuk kegiatan apa saja. Kalau hanya dibuat ruang baca saja, maka tentunya itu akan sangat membosankan.

Apalagi pihak arsitek juga pustakawan setempat juga sangat tahu dan menyadari, jika peran perpustakaan saat ini sedang mengalami transformasi sebagai akibat dari perubahan sosial yang cepat dan modus baru komunikasi.

Informasi yang begitu mudah diakses melalui internet dan media elektronik lainnya, maka bisa mengakibatkan masyarakat untuk malas berkunjung ke perpustakaan.

Dengan demikian maka perpustakaan tidak boleh hanya dibangun dengan hanya menyediakan buku dan internet saja, melainkan perpustakaan harus lebih menyediakan suasana lain, salah satunya yaitu perpustakaan sebagai sarana tempat untuk berinteraksi antar warga di kota tersebut.

Namun pastinya, perpustakaan tetap menyediakan fasilitas buku, majalah, koran, film, dan tentunya koneksi internet yang super cepat.



Selain menyediakan fasilitas untuk membaca, berinteraksi warga kota, misi utama perpustakaan ini yang lainya yaitu menyediakan juga ruang pertemuan seperti rapat, atau untuk acara tertentu.

Dengan konsep tersebut maka diharapkan akan mendorong pengguna untuk aktif, bukan pasif menerima informasi dan layanan saja. Dengan kata lain, perpustakaan harus menjadi ruang publik serbaguna, fleksibel dan mudah beradaptasi.

Untuk menarik pengunjung, perpustakaan yang berfungsi dengan baik harus menyediakan ruang untuk berbagi pengalaman antar warga melalui acara maupun diskusi atau dari hasil interaksi [berkenalan] antara pengunjung yang satu dengan yang lainya.

Di Perpustakaan Kota Seinäjoki ini juga memberikan perhatian khusus yang difokuskan pada koleksi untuk anak-anak dan orang muda, yang dikembangkan dari perspektif kelompok pengguna yang lebih muda.

Dari sisi konsep design rak buku perpustakaanya juga dibuat dengan cara unik, karena dibuat seperti rak biasanya, hanya saja di bagian tengah antara rak-rak buku tersebut disediakan ruang baca yang nyaman, sehingga pembaca buku seolah berada di dalam ruang santai.

Pada bagian yang lain disediakan juga ruang baca yang santai yang di sediakan diantara rongga-rongga dinding, namun disediakan ruang baca yang sangat nyaman untuk baca buku, atau sekedar bersantai dengan keluarga atau teman dekat.

Ada juga dibuat ruang baca yang bentuk ruang bacanya membentuk seperti sudut yang di dalamnya ada meja dan kursi yang tertata rapi dengan pencahayaan yang soft dan menambah suasana nyaman dan mewah.


Pada ruangan yang lain ada juga sebuah lokasi yang sepertinya difokuskan untuk ruang santai keluarga dan tempat bermain anak-anak yang dibuat dengan sangat mewah dan nyaman.

Singkatnya, fasilitas di perpustakaan dengan luas 4.430 meter ini benar-benar sangat perfect dan memenuhi seluruh fungsi dari perpustakaan yaitu, Fungsi Penyimpanan, Fungsi Edukatif (pendidikan), Fungsi Penelitian, Fungsi Pelestarian [Kultural], Fungsi Informatif, dan juga Fungsi Rekreasi.


Semoga konsep ini kedepanya diikuti oleh perpustakaan-perpustakaan di Indonesia.

Kapan?

Semoga saja tidak dijawab dengan jawaban, "Kapan-kapan!"

Labels:

Mengintip Kemegahan dan Kenyamanan Perpustakaan Nasional Finlandia

Dunia Perpustakaan | Sebagaimana kita tahu, Finlandia merupakan negara terbaik di dunia dalam hal pendidikan dan literasinya.

Hal tersebut tidak terlepas adanya peran perpustakaan yang difungsikan oleh semua pihak untuk menunjang pendidikan di negara yang juga dikenal dengan tingkat korupsi terendah di dunia.

Salah satu peran penting dan menjadi pusat aktivitas riset, penelitian dan tujuan rekreasi, Perpustakaan Nasional Finlandia menjadi sangat penting peran dan keberadaannya.

Perpustakaan Nasional Finlandia merupakan perpustakaan utama sebagaimana perpustakaan nasional di Indonesia.

Agar lebih tahu lebih jauh terkait dengan Perpustakaan nasional Finlandia, berikut ini kami sertakan juga sejarah dari Perpustakaan Nasional Finlandia dari tahun ke tahun yang kami kutip dari situs resminya nationallibrary.fi/en,

Sejarah

1640-1809

  • Tahun 1640 operasi gymnasium berubah menjadi Royal Academy of Turku., Koleksi buku gimnasium, terdiri dari sekitar 20 volume, menjadi titik awal dari Perpustakaan Royal Academy of Turku.
  • Pada tahun 1707, sebuah surat dari Royal Kanselir memerintahkan percetakan di Swedia untuk memberikan universitas di kekaisaran dengan satu salinan dari setiap publikasi.
  • Setelah tahun 1809, Finlandia menjadi bagian otonom dari kekaisaran Rusia dan 1820-1917 perpustakaan diberikan dengan salinan penyimpanan publikasi yang diterbitkan di Rusia.

1828- 1893

  • Pada tahun 1828, universitas dipindahkan ke Helsinki dan mulai beroperasi di bawah nama "Imperial Alexander University".
  • Pada tahun 1832, gedung universitas yang dirancang oleh arsitek Carl Ludvig Engel diresmikan sedangkan bangunan perpustakaan baru di sebelah utara gedung universitas diresmikan pada tahun 1845.
  • Pada 1879-1881, gedung perpustakaan direnovasi di bawah pengawasan arsitek Frans Sjostrom.
  • Pada tahun 1893, pencahayaan listrik dipasang di perpustakaan, sehingga jam buka untuk diperpanjang. Baru ruang baca besar dengan perpustakaan referensi dibuka.

1906-1982

  • Pada tahun 1906, fasilitas perpustakaan tumbuh pesat begitu lampiran, Rotunda, yang dirancang oleh Gustaf Nyström selesai.
  • Pada tahun kemerdekaan Finlandia, tahun 1917, koleksi perpustakaan telah semakin banyak hingga 300.000 volume.
  • Pada tahun 1950, fasilitas perpustakaan telah semakin baik. Berdasarkan desain oleh Aarne Ervi, fasilitas repositori yang digali di bawah bangunan Porthania.
  • Pada 1977-1985, gedung perpustakaan direnovasi di bawah pengawasan arsitek Olof Hansson.
  • Dari tahun 1982, perpustakaan juga telah menerima salinan simpanan wajib dari rekaman audio. Koleksi tumbuh naskah lembaran musik melengkapi bahan audio.

1990-2000

  • Pada pertengahan 1990-an seluruh kuartal Seepra didedikasikan untuk perpustakaan, ketika Fakultas Farmasi pindah ke Viikki; kuartal perpustakaan diresmikan pada tahun 1998.
  • Pada 1998-2000, Rotunda direnovasi di bawah pengawasan dari LPR Arsitek Oy.

2000-2016

  • Pada tahun 2000, bawah tanah gua buku baru diresmikan.
  • Pada tahun 2005, kepemilikan gedung perpustakaan dipindahkan dari negara ke Universitas Helsinki '.
  • Pada tahun 2006, nama perpustakaan diubah menjadi Perpustakaan Nasional Finlandia dengan amandemen dari Universitas Act.
  • Pada tahun 2011-2012, façade bangunan utama direnovasi.
  • Pada 2013-2015, fasad Rotunda ini direnovasi dan renovasi dari bangunan utama perpustakaan dilaksanakan, baik di bawah pengawasan LPR Arsitek Oy. Gedung perpustakaan bersejarah Perpustakaan Nasional Finlandia pada Unioninkatu dibuka kembali untuk umum pada 1 Maret 2016.
Perpustakaan Nasional Finlandia merupakan salah satu pusat riset di Finlandia.

gambar: flickr

Ada salah satu hal yang menarik, dimana secara administratif , Perpustakaan Nasional Finlandia ini ternyata merupakan bagian dari University of Helsinki. Sampai 1 Agustus 2006, Perpustakaan Nasional Finlandia ini dikenal sebagai Perpustakaan Universitas Helsinki.

Hampir sama dengan fungsi Perpustakaan Nasional di Indonesia, Perpustakaan Nasional Finlandia juga bertanggung jawab untuk menyimpan warisan budaya Finlandia.

Berdasarkan hukum di Finlandia , Perpustakaan Nasional adalah deposito hukum perpustakaan dan menerima salinan dari semua barang cetakan, serta bahan audiovisual kecuali film, yang diproduksi di Finlandia, atau untuk distribusi di Finlandia. Salinan tersebut kemudian didistribusikan oleh Perpustakaan untuk koleksi nasional dan untuk memesan koleksi lima perpustakaan universitas lainnya.

Selain itu, Perpustakaan Nasional memiliki kewajiban untuk mengumpulkan dan melestarikan bahan yang dipublikasikan di Internet.

Dalam hal perekrutan keanggotaan, setiap orang yang tinggal di Finlandia dapat mendaftar sebagai pengguna dari Perpustakaan Nasional dan meminjam bahan pustaka.

Perpustakaan Nasional juga merupakan rumah bagi salah satu koleksi paling komprehensif dari buku yang diterbitkan di Kekaisaran Rusia dari setiap perpustakaan di dunia.

Lokasi dari Perpustakaan Nasional Finlandia ini terletak di Helsinki , dekat Senaatintori Square.

Bagian tertua dari kompleks perpustakaan Nasional Finlandia ini dirancang oleh Carl Ludvig Engel , sekitar tahun 1844.

Jika melihat bentuk bangunan dari luar, mungkin anda berfikir bangunanya terlihat kecil. Padahal bentuk dari Perpustakaan nasional ini memang ada yang dibuat di bagian bawah tanah hingga kedalaman mencapai 18 meter [59 kaki].


gambar: flickr

Kalau melihat ke dalam ruangan di Perpustakaan nasional Finlandia, anda akan melihat dekorasi dan furniturenya yang classic karena dibangun sejak 1640. Bentuknya sangat terlihat mewah dan seperti berada di dalam sebuah kerajaan.


gamabr: flickr

Perpustakaan Nasional Finlandia ini beebrapa saat yang lalu baru selesai direnovasi. Walaupun dilakukan renovasi, bentuk keaslianya tetap terjaga dan tidak merubah bentuk aslinya.

gambar: flickr

Pada bagian dalam terdapat ruangan dengan fasilitas komputer dengan merk Apple yang di dukung dengan fasilitas koneksi internet yang super cepat. Tempat duduknya juga dibuat sangat nyaman sehingga bisa memastikan pengunjung betah berada di dalam perpustakaan.

Dengan kenyamanan yang ada di Perpustakaan Finlandia ini, tidak heran jika masyarakat di neagra ini sangat rajin datang ke perpustakaan.

Hasilnya, negara Finlandia tercatat sebagai negara terbaik di dunia dalam hal pendidikan dan literasinya.

Labels:

Tuesday, February 14, 2017

Perpustakaan Unik di Australia ini Sedang Viral, Ini Penyebabnya!

Dunia Perpustakaan | Jika anda pegiat literasi atau pustakawan yang sedang kehabisan ide untuk kenalkan budaya baca.

Ada satu lagi inspirasi yang mungkin bisa di terapkan di Indonesia, tapi sepertinya memang ada resikonya.

Biasanya saat kita mendengar kata perpustakaan, biasanya yang terlintas di pikiran kita adalah sebuah bangunan yang berisi penuh dengan buku-buku.

Namun, ada yang berbeda dengan perpustakaan jalanan yang ada di Australia ini.

Bentuk perpustakaanya bukanlah seperti rak buku kebanyakan, melainkan hanya berbentuk kecil.

Perpustakaan unik ini mungkin jauh dari apa yang kita bayangkan sebelumnya.

Perpustakaan kecil ini lebih bisa disebut sebagai rak buku kecil yang dibentuk menyerupai seperti kotak surat, namun dibuat agar lebih besar supaya muat untuk menyimpan dan meletakan beberapa buku.

Kalau orang yang belum tahu, mungkin akan dianggap seperti kotak surat, namun ternyata di dalamnya berisi buku-buku.

Buku-buku tersebut merupakan buku siapapun tanpa terdata siapa pemiliknya.

Kalau boleh dibilang, ini semacam aktivitas masyarakat di Australia yang sedang berjuang supaya masyarakat disana suka membaca buku.

Bermodal sebuah kotak kecil yang ditaruh di depan rumah, kotak kecil itu pun kemudian diubah selayaknya menjadi sebuah perpustakaan.

gambar: streetlibrary.org.au
Yang menarik, siapapun boleh mengambil buku tersebut. Namun semacam ada aturan yang tak tertulis bahwa setiap mereka yang ambil buku disitu, maka disertai dengan membawa meletakan buku pengganti yang mereka ambil, begitu seterusnya.

Karena aksi yang begitu menarik dan memberikan manfaat untuk banyak masyarakat, akhirnya ide tersebut menjadi viral di sosial media, khususnya di wilayah Australia.

Dikutip dari ABCNews [14/2/2017], diberitakan jika di perpustakaan yang berbentuk kotak kecil tersebut, siapa pun bisa meminjam buku yang tersedia di dalamnya.

Salah satu pemiliki Street Library di Australia, Nic Lowe, mengaku jika perpustakaan tersebut diisi oleh berbagai buku.

“Orang-orang bisa datang dan menukar buku yang diinginkan,” ungkapnya di ABC News.

Uniknya lagi, tidak ada aturan khusus bahkan persyaratan bagi siapa saja yang ingin meminjam atau mengembalikan buku-buku tersebut. Menariknya, kotak tersebut selalu terisi dengan sendirinya.

Jika orang-orang memiliki kumpulan buku yang sudah dibaca, maka bisa ditaruh di perpustakaan jalan tersebut.
“Anda intinya mendaur ulang buku-buku tersebut ke tangan orang lain. Para pejalan kaki bisa melewati perpustakaan jalanan ini dan kamu juga bisa mendengar mereka jika membuka pintu perpustakaan tersebut dan menyapanya,” ungkap Lowe.
Saat ini telah ada sekira 150 perpustakaan jalanan yang tersebar di seluruh wilayah Australia.

Kalau cara tersebut dilakukan di Indonesia, kira-kira bisa berjalan tidak?

Atau jangan-jangan masyarakat hanya suka mengambil bukunya tanpa pernah mau berganti untuk mengisinya?

Labels: ,