<data:blog.pageTitle/>

This Page

has moved to a new address:

http://duniaperpustakaan.com

Sorry for the inconvenience…

Redirection provided by Blogger to WordPress Migration Service
Dunia Perpustakaan | Informasi Lengkap Seputar Dunia Perpustakaan

Tuesday, January 21, 2020

Becak Pustaka ini Siap Melayani Warga Kota Medan

Dunia Perpustakaan | Becak Pustaka | Sering kami sampaikan bahwa "Kebaikan itu Menular dan Wajib Ditularkan", sebagaimana setiap hari orang-orang yang kurang baik diluar sana masih banyak menyebarkan kabar bohong, hoax dan fitnah, maka orang-orang baik sewajibnya ikut membantu share kebaikan, supaya kebaikan itu menular.

Salah satu kabar baik ini datang dari sebuah yayasan non profit yang secara khusus bergerak pada bidang pendidikan politik, sosial kemanusiaan, kesehatan dan lingkungan, yang baru-baru ini meluncurkan "Becak Pustaka" di kota Medan, tepatnya di Taman Ahmad Yani Medan, Minggu (19/1/2020).

Sebagaimana dikutip dari tribun-medan.com (19/1/2020), peluncuran "Becak Pustaka" tersebut  tak hanya dihadiri pihak Yayasan Turun Tangan saja, melainkan dihadiri juga oleh perwakilan dari Pojok Media, Coin A Chance (CAC) Medan, Medan Youth Forum, dan Immedia. Kehadiran mereka tentunya untuk mendukung kegiatan yang sangat positif tersebut.

Diciptakanya Becak Pustaka di kota Medan ini, menurut Muhammad Azka selaku Ketua Project Program Becak Pustaka ini yaitu, agar anak gemar membaca sejak dini.  Azka berpendapat bahwa saat ini banyak anak mengalami penurunan dalam minat membaca.

"Becak Pustaka ini hadir melihat dari permasalahan sekitar dimana minat baca anak-anak menurun dan lebih memilih bermain dengan gadget ketimbang membaca buku. Disini Turun Tangan memikirkan bagaimana agar minat baca ya salah satunya dengan cara seperti ini," kata Azka.

Dalam kesempatan tersebut, Azka juga menjelaskan bahwa kegiatan dari Becak Pustaka ini akan dilaksanakan di setiap minggunya dengan membawakan buku-buku yang bersumber dari para donasi para relawan.

Dalam acara tersebut, tak hanya sebaas menyediakan buku saja, namun pihak penyelenggara juga membuat acara lain seperti mewarnai, bernyanyi, dan membaca yang semua kegiatan tersebut sangat didukung oleh orang tua yang anaknya senang atas diadakanya acara tersebut.

Salah satu peserta bernama Aufar Afri, yang merupakan Ibu dari seorang anak yang hadir menyatakan jika dirinya menyambut baik dengan adanya Becak Pustaka ini. Ia menuturkan bahwa program ini sebagai solusi mewadahi anak-anak untuk gemar membaca.

"Ini positif sekali untuk menambah wawasan anak dan mengalihkan dunia anak dari gadget ke dunia membaca. Karena kita tahu gadget saat ini sangat menguasai dunia anak, jadi harus segera diminimalisir," tuturnya.

Suasana saat diluncurkanya Becak Pustaka di kota Medan | gambar: tribun-medan.com
Tak hanya orang tua, komunitas Pojok Baca di kota Medan juga ikut senang dan mendukung adanya program Becak Pustaka ini.

Salah satu perwakiland ari Pojok Baca bernama Reza mengungkapkan,  bahwa Becak Pustaka ini sebagai satu diantara bentuk dalam giat berliterasi.

"Program ini patut disyukuri oleh warga kota Medan karena semakin banyak ruang produktif dalam literasi. Adanya Becak Pustaka ini juga membuat akrab kembali anak-anak untuk membaca buku secara fisik," ungkapnya.
Becak Pustaka saat launching di Yayasan Turun Tangan Medan | gambar: turuntangan.id

Diharapkan dengan adanya Becak Pustaka ini, semoga minat baca di kota Medan semakin meningkat.
Semoga saja dengan adanya Becak Pustaka ini juga bisa jadi inspirasi untuk yayasan, kelompok masyarakat, komunitas, hingga instansi terkait, bahkan pihak pribadi yang ikut tergerak untuk melakukan hal yang sama di daerah masing-masing, walaupun dengan format yang berbeda, namun dengan misi yang sama, yaitu menjadi bagian dari kegiatan mengkampanyekan budaya baca di sekitar kita.

Semoga!

Labels: ,

Tuesday, January 8, 2019

Demi Majukan Daerahnya, Pengusaha Ternama ini Rintis Mobil Perpustakaan Keliling

Dunia Perpustakaan | Inspirasi Literasi | Jika kita mendengar ada orang kaya yang hanya memamerkan kekayaanya untuk perkaya diri sendiri, mungkin akan dianggap sebuah kesombongan yang tak bernilai. Namun jika ada yang memang dikenal kaya, lalu mendonasikan sebagian harta kekayaanya untuk membantu sesama, itulah baru disebut sebagai orang kaya yang sesungguhnya dan layak kita puji atas kebaikanya.

Hal ini juga yang dilakukan beberapa tokoh orang-orang kaya di penjuru dunia, mulai dari Bill Gates, Warren Buffet, Amancio Ortega, dan masih banyak lagi lainya.

Namun di Indonesia juga sekarang sudah mulai banyak bermunculan orang-orang kaya yang peduli dengan sesama dengan mendonasikan sebagian kekayaan mereka untuk membantu sesama.

Salah satu diantaranya yaitu seorang pengusaha ternama bernama Rachmad Gobel.

Rahmad Gobel ingin anak-anak muda mampu memajukan Gorontalo dengan dimulai dari budaya membaca |Foto: Istimewa
Seorang pengusaha yang sekaligus dikenal sebagai tokoh masyarakat asli Gorontalo yang dikenal memiliki kepedulian besar pada generasi muda Gorontalo.

Hal terbaru yang baru-baru ini dia lakukan yaitu terkait dengan keinginanya supaya anak muda di Gorontalo bisa gemar membaca sejak dini sebagai bekal untuk mempersiapkan pembangunan Gorontalo ke depan.

Dikutip dari hargo.co.id (7/1/2019), Salah satu cara yang dilakukanya untuk mendorong minat baca anak muda yaitu dengan menyediakan mobil perpustakaan keliling. Perpustakaan keliling yang ia rintis tersebut akan berkeliling ke desa-desa di Gorontalo untuk memberikan bahan bacaan untuk anak-anak di wilayah Gorontalo dan sekitarnya.

Penanggungjawab perpustakaan keliling Rustam Akili mengatakan bila mobil perpustakaan tersebut merupakan bukti kepedulian Rachmad pada anak muda. Rustam pun menyebut, Rachmad ingin menyiapkan generasi muda Gorontalo, sebagai pemegang tongkat estafet, untuk membangun Gorontalo di masa depan.
“Mobil perpustakaan keliling ini merupakan salah satu bukti kepedulian Pak Rachmad pada anak muda Gorontalo. Pak Rachmad melihat bila semakin hari, minat baca anak semakin menurun. Karenanya, Pak Rachmad ingin meningkatkan kembali minat baca anak-anak,” kata Rustam, Senin (7/1/2019).
Rustam menuturkan, Rachmad juga melihat bahwa dengan keadaan geografis Gorontalo yang banyak pegunungan serta infrastruktur jalan yang belum merata, menambah sulit anak-anak Gorontalo untuk mendapatkan bahan bacaan. Padahal, lanjutnya, anak muda harus mendapatkan banyak referensi pengetahuan.
“Apalagi Gorontalo ini kan banyak pegunungan, jalan juga belum semua di aspal, ini membuat anak-anak di desa-desa susah mendapatkan bacaan. Nah, Pak Rachmad hadir untuk membantu mereka guna mendapatkan bahan bacaan,” tutur Rustam. 
“Bagi Pak Rachmad, anak-anak muda harus dipersiapkan untuk ke depan guna membangun Gorontalo dan Indonesia,” lanjutnya.
Sementara Rachmad juga pernah menyatakan bila dirinya memiliki harapan besar pada anak muda Gorontalo. Rachmad mengatakan mereka harus banyak diberikan informasi dan pengetahuan tentang kemajuan teknologi.
“Perpustakaan keliling diadakan agar anak-anak Gorontalo bisa belajar dan tahu tentang dunia serta tahu apa saya teknologi terbaru yang ada di dunia,” kata Rachmad Gobel.
Bagi Rachmad, anak-anak Gorontalo harus disiapkan untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi di dunia. Agar, sambung Rachmad, Gorontalo tidak tertinggal dalam hal pengetahuan dan teknologi.

“Kita harus siapkan anak-anak kita dalam mengantisipasi perubahan dunia. Agar Gorontalo ini tidak tertinggal di pengetahuan dan teknologi,” tuturnya.

Rachmad juga mengatakan bila dirinya akan terus memperbaharui buku-buku yang ada di perpustakaan keliling. Dirinya menyebut paling tidak dalam 2 kali dalam setahun akan ada buku-buku baru yang bisa dibaca oleh mereka.

“Dalam 2 kali dalam setahun akan ada buku-buku baru yang bisa dibaca oleh anak-anak,” ucap mantan Menteri Perdagangan tersebut.

“Ini agar mereka bisa terus mendapat pengetahuan dan referensi baru,” sambungnya.

Dirinya berharap bila semua anak di Gorontalo bisa kebagian membaca di perpustakaan keliling. Karenanya, Rachmad ingin mobil tersebut bisa menjangkau hingga desa-desa di Gorontalo.

“Ini akan keliling ke seluruh desa-desa di Gorontalo,” pungkasnya.

Labels:

Friday, August 31, 2018

Bandung Street Library, Perpustakaan di Jalanan yang Keren Abis!

Dunia Perpustakaan | Bandung Street Library | Bandung, Sungguh terpujilah para pemimpin dan kepala daerah yang peduli dan mendukung adanya program yang mendukung gerakan literasi di tanah air.

Salah satu tokoh yang perlu kita berikan apresiasi hal tersebut diantaranya adalah Ridwan Kamil, Walikota Bandung sekaligus Gubernur terpilih Jawa Barat.

Baru-baru ini melalui akun instagramnya, Ridwan Kamil membuat status yang memajang foto dirinya sedang duduk asyik membaca, dan di sebelahnya terlihat ada bangunan kecil yang diketahui ternyata bernama "Bandung Street Library".

Dalam status tersebut berbunyi,
Ada 100-an benda mungil ini akan hadir di jalanan Kota Bandung dengan warna-warni permen ala Bus Bandros. Program "Community Swap" : Warga yang punya buku bagus bekas atau tidak terpakai, daripada nganggur berdebu, silakan sumbangkan dan drop bukunya di rak buku ini. Kecuali buku nikah dan buku hutang. Semoga warga Bandung naik tingkat budaya literasi membaca agar jadi bangsa juara. Nanti hadir di seluruh Jawa Barat. Karena Buku adalah jendela dunia.
Konsep "Bandung Street Library" ini tentunya cukup keren karena diharapkan dengan adanya "Bandung Street Library" ini mampu menumbuhkan tingkat minat baca masyarakat warga Bandung khususnya atau siapapun yang memang ada di sekitar "Bandung Street Library" tersebut.

"Bandung Street Library"dari penampilan dan konsepnya cukup simple dan rapi serta sangat "instagramable" sehingga diharapkan bisa jadi lokasi dan tempat favorit baru untuk narsis para netizen.

Hal yang jauh lebih penting lagi tentunya tidak hanya dijadikan sebagai tempat narsis saja, tapi juga benar-benar dimanfaatkan koleksi bukunya yang ada di "Bandung Street Library"sehingga minat baca masyarakat sekitar benar-benar bisa semakin tinggi.

Kabar baiknya lagi, ternyata dalam status di instagram Ridwan Kamil tersebut, dirinya menyatakan jika "Bandung Street Library"ini kedepanya akan dibuat juga di seluruh wilayah Jawa Barat. Janji tersebut tentunya harus kita apresiasi dan kita dukung, apalagi saat ini posisi Ridwan Kamil memang sudah terpilih dalam Pemilukada beberapa waktu yang lalu.

Dengan adanya "Bandung Street Library"diharapkan juga bisa menginspirasi kepala-kepala daerah lain di Indonesia, sehingga keberapaan perpustakaan jalanan tersebut mampu meningkatkan minat baca masyarakat di Indonesia.

Semoga!

Labels:

Tuesday, August 14, 2018

Pejuang Literasi NTT Siap Adakan Gerakan #NTTKembaliBaca

Dunia Perpustakaan | Pejuang Literasi | Gerakan Literasi | Kupang, NTT - Bagi para pejuang literasi, mengenalkan budaya baca ke masyarakat sudah menjadi nadi mereka. Sehingga tak perlu menunggu komando atau undang-undang, mereka akan terus bergerak dan berjuang demi budaya baca di Indonesia.

Hal ini juga yang dilakukan oleh Solidaritas Merah Putih Nusa Tenggara Timur (NTT) atau Solmet NTT, yang akan melakukan gerakan #NTTKembaliBaca pada tanggal 16-18 Agustus 2018 di Kota Kupang.

Dalam kegiatan ini Solmet NTT menggandeng para pemuda secara individu yang memiliki visi sosial dan kemanusiaan membentuk Komunitas Literasi NTT. Selain itu kegiatan ini didukung secara penuh oleh Piter Pitoby.
ilustrasi gambar: brilio.net

Gerakan #NTTKembaliBaca ini akan dilaksanakan di depan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Pitoby, Kuanino, Kota Kupang.

Gerakan #NTTKembaliBaca akan diisi dengan perpustakaan jalanan, diskusi tentang pentingnya membaca, kopi bersama, dan bagi souvenir.

Ketut Rudi Utama Ketua Solmet NTT yang memiliki sekretariat di Jln Gereja Moria RT25 RW 06 Kelurahan Liliba Kupang ini menjelaskan jika Solmet NTT ingin secara nyata turun ke masyarakat dan berbuat hal-hal yang positif serta bermanfaat.

"Kami tidak sekedar ormas yang tujuan didirikan untuk menjaga Pancasila, merawat Kebhinekaan, dan mendukung pemerintah akan tetapi kami ingin memperkuat akar rumput dalam hal ini masyarakat agar kembali pada budaya membaca buku. Minimal sehari itu luangkan waktu 30 menit untuk membaca buku. Ini penting sekali sebab dengan membaca buku otak kita dilatih untuk berpikir dan menambah pengetahuan," katanya.

Dikatakannya, tradisi membaca buku saat ini sudah mulai punah akibat dengan perkembangan tekhnogi informasi.

"Ini sangat instant dan membuat generasi milenial menjadi manja walaupun di sisi lain hidup manusia terbantu," jelas Rudi saat dihubungi, Minggu (12/8/2018).

Sedangkan Frids Wawo Lado dan Vera Oja Koordinator Komunitas Literasi NTT mengatakan bahwa gerakan #NTT Kembali Baca digagas dari hasil diskusi bersama Solmet NTT dan secara bersama-sama akan melakukan kegiatan perpustakaan jalanan dan kampanye NTT Kembali Baca.
-------------------------------------------
Artikel ini telah tayang di pos-kupang.com dengan judul Akan Ada Perpustakaan di Pinggir Jalan, Masyarakat NTT Diajak Membaca Buku, http://kupang.tribunnews.com/2018/08/13/akan-ada-perpustakaan-di-pinggir-jalan-masyarakat-ntt-diajak-membaca-buku.
Penulis: Ricardus Wawo
Editor: Kanis Jehola

Labels: , ,

Saturday, March 31, 2018

Motor Bhabinkamtibmas di Brebes Jadi Perpustakaan Keliling Raih Rekor MURI!

Dunia Perpustakaan | Terkadang kalau nonton di televisi maupun di medsos, kita sering mendengar perilaku buruk polisi, mulai dari menerima suap saat penilangan, pungli, dan yang lainya.

Namun anda perlu tahu juga bahwa saat ini POLRI semakin terus berbenah dan ingin memperbaiki citra buruk mereka menjadi citra yang baik dan positif.

Niat baik tersebut tentunya tidak boleh hanya dalam ucapan semata tapi wajib dilakukan POLRI dengan langkah-langkah nyata.

Salah satu langkah nyata tersebut dilakukan oleh banyak kepolisian di berbagai daerah, mulai dari membentuk satgas pungli, bahkan yang menarik hingga menciptakan banyak perpustakaan keliling.

Perpustakaan keliling yang sudah diciptakan oleh pihak kepolisian bahkan sudah meraih penghargaan dari MURI, khususnya Program perpustakaan Keliling Bhabinkamtibmas yang diciptakan oleh Polres Brebes.

Rekor tersebut tentunya cukup memberikan inspirasi untuk kepolisian di daerah lain, atau bahkan mungkin untuk instansi lain agar melakukan hal yang sama.

Dikutip dari halaman resmi website polri.go.id, Rekor tersebut tercatat dalam piagam Museum Rekor Indonesia-Dunia nomer 8220/R.MURI/XI/2017. Pemberian penghargaan MURI diberikan langsung oleh Manajer eksekutif MURI Indonesia Sri Widyawati, usai pelaksanaan Launching Perpustakaan Keliling Bhabinkamtibmas dan program Anak Asuh Polres Brebes oleh Kapolda Jateng Irjen Pol drs Condro Kirono dihalaman Mapolres Brebes, Rabu (15/11/2017).

Kapolres Brebes AKBP Sugiarto menyampaikan, program gemar membaca yang dilakukan Polres Brebes ini dilakukan Bhabinkamtibmas dengan menggunakan kendaraan roda dua milik operasional Bhabhinkabtimas yang tersebar di 17 Polsek se-Kabupaten Brebes. Perpustakaan motor ini menyasar sekolah-sekolah dan tempat berkumpulnya masyarakat umum.

“Dengan jumlah motor Bhabinkamtibmas terbanyak yakni 103 motor, maka MURI memberikan penghargaan ini kepada Kapolda Jateng dan Kapolres Brebes,” ujar Sri Widyawati.

Apa yang dilakukan oleh POLRES Brebes ini juga langsung mendapatkan respon positif dari Kapolda Jateng Irjen Pol Cindro Kirono, dimana  dalam keterangan pers dirinya sangat mengapresiasi program tersebut.

Menurutnya  Bhabinkamtibmas di desa desa akan sangat membantu program pemerintah daerah terkait program gemar membaca.

“Selain berpatroli dengan motor dinas agar wilayahnya aman kondusif, Bhabin ini juga mendukung pemerintah dalam program gemar membaca,” kata Condro.

Kabar baiknya lagi, ternyata Kapolda juga menegaskan, program tersebut akan diadopsi agar bisa diterapkan diseluruh jajaran Polres/Polresta jajaran Polda Jawa Tengah. Program tersebut juga akan disinergikan dengan program layanan publik lainya, seperti layanan STNK, SKCK dan SIM.

Didalam box yang ditempatkan dibagian belakang kendaraan dinas tersebut, berisi ratusan buku bacaan yang bisa dimanfaatkan warga maupun pelajar saat kegiatan itu berlangsung. Buku-buku bacaan tersebut, disebutkan Kapolres berasal dari sumbangan berbagai pihak, Pemkab Brebes, pengusaha, dan juga dari personel polisi.

Setidaknya sampai saat ini sudah ada 12.500 buku yang telah dibagikan kepada 103 personel Bhabinkamtibmas yang mengawaki perpustakaan keliling tersebut,” kata Sugiarto.

“Mudah-mudahan melalui Perpustakaan Keliling tersebut para Bhabin lebih termotivasi terjun ke desa binaan sekaligus mengajak kepada warga untuk gemar membaca,” pungkasnya.

Semoga saja kita akan mendengar kabar baik lainya, sehingga jika semua instansi ikut bergerak melakukan inovasi dalam pengembangan minat baca, maka yakinlah secara bertahap namun pasti, tingkat minat baca masyarakat Indonesia semakin meningkat.

Semoga!

Labels: ,

Thursday, July 27, 2017

Kisah Perjuangan Dedek: Pejuang Literasi, Bikin Perpustakaan di Garasihingga Dikucilkan

Dunia Perpustakaan | Ada banyak kisah inspirasi terkait pejuang literasi di Indonesia. Diantara mereka ada yang mungkin bernasib baik karena sudah diliput media sehingga banyak pihak mengenalnya.

Namun masih banyak para pejuang literasi di negeri ini yang terkadang berjuang dalam "sunyi" tapi mereka terus berjuang untuk terus kampanyekan minat baca di daerah mereka masing-masing.

Namun semuanya sama-sama hebat dan luar biasa, mau diliput media ataupun tidak, mereka adalah pejuang dan pahlawan di bidang literasi.

Salah satu kisah inspirasi yang kami hadirkan kali ini adalah Dedek, pendiri dari TBM Ar-Rasyd di Baitussalam, Aceh Besar.

Kisah perjuanganya sudah diliput di beebrapa media, dan terbaru kami baca di kompas.com yang dipublikasikan 26/7/2017.

Untuk anda yang belum sempat membacanya, berikut ini kami lampirkan kisahnya, semoga bisa menginspirasi untuk pembaca.

------------------------------------

Udara cukup panas mencapai 35 derajat celcius berdasarkan catatan pengukur suhu. Namun perempuan dengan kostum blazer orange ini seolah tak merasakan panasnya udara. Dia tetap berdiri sambil mengawasi aktivitas sejumlah anak.

“Mereka sedang latihan penyelamatan diri jika bencana gempa disusul tsunami tiba-tiba melanda. Kalau sudah latihan, setidaknya mereka paham apa yang harus dilakukan saat bencana tiba,” jelas Alfiatunnur, pendiri Taman Bacaan Ar-Rasyid, Baitussalam, Aceh Besar.

Perempuan yang akrab disapa Dedek ini mengatakan, TBM Ar-Rasyid tidak hanya menyediakan buku bacaan bagi anak-anak saja, tetapi juga memberikan program kursus gratis, seperti kursus Bahasa Inggris, kursus matematika dan beberapa pelajaran sekolah lainnya.

“Yang mengajar ya relawan kita di sini, dan mereka semua masih mahasiswa dan setiap sore menjadi relawan di TBM sekaligus menjadi guru untuk kegiatan kursus, dan anak-anak di sini sangat senang ikut kursus dan bisa mendapat buku bacaan yang tidak ada di sekolah,” jelas Dedek.

Bagi Dedek, mendirikan TBM adalah cita-citanya sejak lama. Sejak tahun 2000, Dedek sudah aktif menjadi relawan dan bergerak di bidang pendidikan, perempuan dan anak.

“Kita tahu saat itu masyarakat Aceh hidup dalam konflik dan imbas terbesarnya adalah terhadap kehidupan perempuan dan anak, dan lebih miris lagi anak-anak terampas haknya, terutama hak pendidikan," jelasnya.

"Nah, sejak saat itulah kemudian saya bertekad untuk membantu anak dan perempuan di Aceh bersama teman-teman. Kami melakukan apa yang bisa kami lakukan, termasuk mengumpulkan aneka buku dan membagikannya kepada anak-anak di kamp pengungsian dan desa-desa,” kenang Dedek.

Hingga suatu saat, kisah Dedek, dia mendapat kesempatan dan peluang pasca-bencana gempa dan tsunami di Aceh untuk mewujudkan cita-citanya mendirikan sebuah Youth Centre di Aceh, yang di dalamnya terdapat sebuah taman bacaan masyarakat.

“Perjuangan yang panjang dan cukup melelahkan, saya dan beberapa teman berhasil mendirikan sebuah yayasan bernama Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Aceh (Yakesma) dengan perjalanan yang cukup berliku, dan kemudian juga mendirikan TBM,” jelas lulusan program beasiswa fullbright Amerika Serikat ini.

Energi Dedek sempat terkuras habis dalam proses pendirian Yayasan Yakesma, namun mendapat dukungan moral yang kuat dari komunitas Taman Bacaan Masyarakat Indonesia (TBMI).

Menyulap garasi

Pada tahun 2012, Dedek pun berhasil menyulap sebuah garasi di komplek Yakesma menjadi taman bacaan masyarakat.

“Perjalanan TBM tak semulus perkiraan saya. Meski dapat dukungan dari masyarakat sekitar, namun tidak sedikit juga yang menentang sehingga melarang anak-anak mereka datang ke TBM untuk menikmati buku," kenang Dedek.

"Belum lagi pengucilan yang kami terima dari pihak pemerintah, terutama dinas pendidikan yang tidak mengakui keberadaan TBM Ar-Rasyid, tapi saya tidak menyerah begitu saja. Bahkan kita sempat di-blacklist. Tapi justru dengan situasi seperti ini semakin membuat saya untuk terus bekerja keras agar bisa mandiri dan survive,” ungkapnya.

Gedung Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Ar-Rasyiid Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar.

Gedung Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Ar-Rasyiid Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar.(Daspriani Y Zamzami)

Di Yakesma sendiri, kata Dedek, mereka juga menampung anak-anak yang kurang mampu untuk bisa melanjutkan pendidikan.

“Ada 30-an anak di sini, dan sebagian mereka itulah yang kita berdayakan untuk menjadi relawan di TBM, khususnya yang sudah mahasiswa. Hal ini bertujuan agar mereka bisa mengaplikasikan semua ilmu yang diterima di kampus dalam kehidupan sehari-hari,” sebut pengajar di Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh ini.

Para relawan dilatih dan dididik dengan intens, untuk tidak hanya bisa berinteraksi dengan anak-anak yang berkunjung ke TBM, tetapi juga harus memiliki kreativitas yang bisa dikembangkan dan bermanfaat bagi diri mereka sendiri dan orang lain.

“Salah satunya adalah kreativitas mereka yang dituangkan dalam kisah singkat perjalanan TBM Ar-Rasyid, yang kemudian diikutkan dalam kompetisi GRCC Gramedia, dan alhamdulillah TBM ini terpilih menjadi terbaik di regional Sumatera. Selain itu, para relawan ini juga sudah berkesempatan melawat ke luar negeri untuk mengunjukkan kemampuan mereka seperti menampilkan kreasi seni. Pastinya ini sebuah kebanggaan bagi mereka,” katanya.

Dengan kreativitas para relawan ini, kini TBM Ar-Rasyid pun sudah mendapat tempat di hati masyarakat sekitar, bahkan juga di lingkungan pemerintah, terutama Dinas Pendidikan.

“Alhamdulillah kini TBM sudah terus dilirik untuk bisa menjadi mitra terutama bagi banyak pihak bahkan pemerintahan. Kita mulai banyak kerja sama, satu di antaranya adalah melakukan kegiatan program Gerakan Membaca Indonesia (GMI) yang akan dilakukan awal Agustus mendatang. Ini tak terlepas dari kiprah para relawan yang ada di TBM,” jelas Dedek, yang ditemui Kompas.com, Selasa (25/7/2017).

Ita, seorang relawan di TBM Ar-Rasyid mengaku mendapat kesempatan luar biasa bisa berada di lingkungan TBM Ar-Rasyid.

“Saya tidak pernah bermimpi bisa mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan dan kemudian bisa mengabdikan ilmu saya di TBM dengan mengajarkan anak-anak di sini,” ungkapnya.

Berada di Yakesma sejak tahun 2012, Ita mengaku sedikit banyaknya juga mengalami asam garamnya perjalanan TBM Ar-Rasyid.

“Awalnya kami hanya memiliki jumlah buku yang sedikit, namun kini sudah mencapai puluhan ribu. Bahkan buku-buku di TBM juga membantu saya dalam pendidikan,” ujar Ita.

Pojok baca

Ketua TBM Ar-Rasyid Periode 2017, Eni Darlia, menyebutkan, demi mengembangkan sayap TBM ke tengah masyarakat, TBM Ar-Rasyid pun membentuk empat pojok baca di empat dusun di sekitarnya. Masing-masing Dusun Lambateung, Dusun Rekompak, Dusun Keude Aron dan Dusun Gampong Meurah.

“Di sini kami bertujuan untuk melibatkan masyarakat sebagai pengelola TBM sehingga keberadaan TBM semakin dekat dengan masyarakat, dan ini juga sekaligus bertujuan untuk meningkatkan kebiasaan warga untuk membaca. Jadi ada alasan untuk orangtua mengarahkan anak-anaknya untuk memilih TBM sebagai tempat bermain dan belajar,” jelas Eni.

Para Relawan TBM Ar-Rasyid dan anak-anak pengunjung TBM

Para Relawan TBM Ar-Rasyid dan anak-anak pengunjung TBM(Daspriani Y Zamzami)


Bagi Eni, menjadi relawan di TBM adalah sebuah tantangan yang menyenangkan. Setiap hari dia dituntut untuk bisa selalu menciptakan suasana baru yang penuh inovasi agar masyarakat bisa menjadikan membaca sebagai sebuah kebiasaan.

“Pojok-pojok baca tidak hanya kami tempatkan di tempat-tempat pengajian Al Quran dimana anak-anak beraktivitas sore hari, tetapi juga satu lemari buku kami tempatkan di sebuah warung kopi. Jadi jika ada warga yang duduk sambil ngopi, mereka bisa menikmati bacaan yang bisa menambah wawasan mereka,” sebut Eni.

Bahkan, kata Eni, ada juga satu pojok baca yang pengelolaannya dipercayakan kepada kelompok ibu-ibu pengajian, sehingga para ibu bisa mengarahkan anak-anak mereka untuk menjadikan buku sebagai teman bermain sehari-hari.

“Inovasi-inovasi seperti ini yang setiap hari kita kembangkan agar TBM bisa menjadi kebutuhan di masyarakat dan kreativitas serta inovasi ini selalu kita coba gali dalam setiap diskusi dan evaluasi dari para relawan di gedung TBM yang sebelumnya hanya sebuah garasi ini,” ungkap perempuan yang murah senyum ini.

Eni pun kemudian melanjutkan kegiatannya memandu anak-anak pengunjung tetap TBM melakukan simulasi penyelamatan diri saat menghadapi bencana gempa dan tsunami.

Labels: , ,

Friday, May 5, 2017

Dirikan Perpustakaan Keliling, 4 Polisi ini Raih Penghargaan Kapolri!

Dunia Perpustakaan | Polisi selama ini identik hanya mengurusi terkait kemanan, namun tidak salah juga ketika diluar tugas utama, ada polisi yang berjuang sebarkan budaya baca di lingkungan sekitar.

Setidaknya ada empat orang polisi yang melakukan aksi sebarkan budaya baca untuk masyarakat sekitar, keempat polisi tersebut diantaranya,
  1. Brigadir Hudson Siahaan, Bhabinkamtibmas Polsek Sekayam, Polres Sanggau-Kalbar

  2. Brigadir Dahmanto, Bhabinkamtibmas Desa Taman Indah, Polres Lombok Tengah-NTB

  3. Brigadir Arthur Hurulean, Bhabinkamtibmas Polres Maluku Tenggara-Maluku

  4. Brigadir Almuhalid, Bhabinkamtibmas Polres Buton-Sulawesi Tenggara.
Karena misi sosial mereka itulah maka polisi-polisi tersebut diundang Presiden Jokowi ke Istana. Tidak hanya itu saja, empat anggota Polri tersebut juga diberi penghargaan oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Penghargaan diberikan kepada anggota Bhabinkamtibmas itu karena ikut berperan serta salam memajukan pendidikan.

"Pemberian penghargaan tersebut sebagai wujud apresiasi dari Pak Kapolri karena 4 anggota Bhabinkamtibmas yang dalam kesehariannya di samping bertugas sebagai seorang Bhabinkamtibmas, juga berperan dalam memajukan taraf pendidikan di wilayah tugasnya," terang Kepala Biro Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rikwanto dikutip dari detikcom, Jumat (5/5/2017).

Pemberian penghargaan itu digelar tepat di Hari Pendidikan tanggal 2 Mei lalu. Keempat (sebelumnya ditulis 3-red) anggota itu juga menjadi tamu di Istana Negara dan diundang makan siang secara khusus oleh Presiden RI Joko Widodo pada Rabu 3 Mei lalu.

Brigadir Hudson menyelenggarakan perpustakaan keliling bagi anak-anak di perbatasan Indonesia-Malaysia dengan menggunakan motor dinas dari desa ke desa. Sementara Brigadir Dahmanto dinilai berhasil dalam meningkatkan minat baca warga Kecamatan Pringgarata, Lombok Tengah dengan menjadikan mobil Suzuki Escudo miliknya sebagai perpustakaan keliling bagi warga setempat.

Hal yang sama, Brigadir Arthur juga membuat perpustakaan mini di Pos Yanmas Bhabinkamtibmas dan Satpol PP pada Pasar Langgun, Maluku Tenggara. Sedangkan Brigadir Almuhadid mendirikan rumah baca bagi anak-anak di Desa Bajo Bahari, Buton.

Undangan peesiden atas keempat anggota Polri ini berdasarkan penilaian yang dilakukan secara tertutup oleh Kemendikbud dan Staf Presiden, yang dianggap telah berhasil melakukan peningkatan mutu baca masyarakat melalui Perpustakaan Keliling yang mereka gagas.

"Mereka dinilai telah berbuat melebihi panggilan tugas, karena disampaing melaksanakan tugas pokoknya sebagai anggota polri, mereka juga turut berperan aktif dalam mencerdaskan kehidupan bangsa," imbuh Rikwanto.

Atas prestasi dan pengabdian tersebut, keempatnya diberikan penghargaan berupa ticket holder untuk mengikuti Pendidikan Sekolah Inspektur Polisi mendatang, walau secara administratif mereka seharusnya belum bisa untuk mengikuti jenjang pendidikan tersebut.

"Pak Kapolri sangat menghargai ketulusan para bhabinkamtibmas ini dalam melayani masyarakat, dan penghargaan yang diberikan diharapkan dapat memotivasi para bhabinkamtibmas lainnya di seluruh Indonesia untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan," tutup Rikwanto.

Labels: ,

Wednesday, April 5, 2017

Kisah Hendarti dan Inovasi Limbah Pustaka dari Purbalingga

Dunia Perpustakaan | Selalu ada kekaguman jika melihat inovasi para pejuang literasi di daerah-daerah di Indonesia.

Saat kita melihat banyak generasi muda, yang katanya orang "modern" dan "kekinian" justru sibuk sebarkan hoax dan fitnah juga kebencian di sosial media, di pelosok daerah justru ada sosok luar biasa yang berjuang sebarkan budaya baca.

Luar biasanya, inovasi tersebut justru selalu datang dan dilakukan oleh orang-orang yang terkesan biasa, namun aksinya sungguh luar biasa.

Salah satu sosok pejuang literasi tersebut yaitu Raden Roro Hendarti yang mendirikan perpustakaan keliling dengan nama "Limbah Pustaka".

'Limbah Pustaka' dibuat oleh wanita berusia 44 tahun tersebut di sebuah desa bernama Desa Muntang, Kecamatan Kemangkon, Purbalingga, Jawa Tengah.

Dikutip dari detik.com [2/4/2017], diberitakan jika di desa itu, terdapat perpustakaan keliling yang disinergikan dengan bank sampah bernama Limbah Pusataka.

Siang itu, Raden Roro Hendarti (44) terlihat sibuk menata satu persatu buku bacaan dari perpustakaan desa (Perpusdes) Pelita yang ada di rumahnya ke sebuah rak buku.

Dengan dibantu suaminya Agustinus Suryanto (44), buku-buku yang telah ditata tersebut kemudian dikaitkan ke motor roda tiga hibah dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Purbalingga.

Setelah menggunakan helm, Hendarti dengan penuh semangat tancap gas berkeliling desa. Dia menemui warga yang akan menyetorkan sampah anorganik sambil mempersilahkan warga yang ingin membaca buku dari perpustakaan keliling yang dibawanya.

"Untuk membaca tidak harus menyetor sampah. Kita cuma berusaha menumbuhkan kesadaran kepada mereka. Mereka suka membaca tetapi mereka belum (punya kesadaran) memilah sampah. Jadi dengan mereka membaca, nanti ada rasa tidak enak hati akhirnya mereka mau setor sampah," kata Hendarti kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Sinergi antara perpustakaan keliling dengan bank sampah ini berawal dari keprihatinannya terhadap menurunnya minat membaca. Tak hanya itu, dia melihat banyak sampah anorganik di desanya. Perpustakaan model tersebut ternyata mendapatkan sambutan yang sangat baik dari waga desa.

Dengan cara jemput bola tersebut, dia jadi mengetahui alasan warga enggan datang ke perpustakaan karena kesibukan mereka. Apalagi saat ini Limbah Pustaka juga sudah dilengkapi sejumlah unit komputer lengkap dengan layanan internet gratis untuk memudahkan warga mengakses informasi.

"Karena kami memang di desa, jauh ke kota, kasihan yang tidak sempat atau tidak punya kendaraan untuk ke sana makanya kita berikan layanan ini gratis," ucap Hendarti yang menjabat sebagai Kaur Kesra di desanya.

"Untuk bank sampahnya kita ingin warga jadi sadar dan peduli akan kebersihan, jangan sampai kita mewarisi sampah ke anak cucu kita," ungkapnya.

Saat ini koleksi buku dari Perpusdes yang dikelola di rumahnya sudah mencapai ribuan buku. Jenisnya juga beragam mulai dari buku agama, kesehatan, pendidikan, cerita anak, novel, pertanian, kerajinan dan olahraga.

"Alhamdulilah sudah lengkap. Paling banyak komunitas anak-anak di sini, itu buku kesusastraan paling diminati. Untuk ibu-ibunya biasanya buku kuliner dan untuk bapak-bapaknya biasanya buku tentang peternakan, pertanian dan agama," ujarnya.

Dia bercerita, awal perpustakaan desa tersebut dipindah kerumahnya pada 2007. Sebab saat itu buku-buku yang ada di perpustakaan desa tidak ada yang membaca, kotor hingga akhirnya dirinya mencoba berinovasi untuk melakukan jemput bola langsung kepada warga untuk menumbuhkan minat membaca dengan berbagai cara.

"Mulai dari situ saya tergugah bagaimana saya membawa amanah ini dan cara menumbuhkan minat baca, akhirnya dengan modal sendiri saat itu saya beli hadiah-hadiah kecil bagi pemustaka yang datang sebagai tahap sosoalisasi membaca. 10 kali mereka datang saya kasih hadiah, 20kali, 30 kali sampai 100 kali," ucapnya.

Sementara sampah anorganik, misalnya plastik, botol minuman, yang telah dikumpulkan warga di bank sampah kemudian dipilah oleh ibu-ibu PKK di desanya untuk dicatat, ditimbang dan sebagian dimanfaatkan sebagai kerajinan tangan atau dijual. Hasil penjualan berupa uang tabungan warga desa yang telah menyetorkan sampahnya.

"Tabungannya masih kecil, miniml Rp. 5-10 ribu per 6 bulan. Karena masih skala rumah tangga, jadi mungkin mereka belum terbiasa untuk memilah karena kadang sudah buat kayu bakar atau sudah dibakar, itu yang sedikit demi sedikit kita kikis," ujarnya.

Berbagai prestasi juga telah diraihnya dengan kepeduliannya meningkatkan minat membaca masyarakat di desanya. Di antaranya prestasi perpustakaan tahun 2013 yang mendapat juara 1 tingkat Kabupaten dan tahun 2014 mendapat juara harapan 1 tingkat Provinsi Jateng.

Sedangkan kepeduliannya terhadap lingkungan, idenya mensinergikan antara limbah dan perpustakaan juga sudah menjadi pilot projeck di Kabupaten Purbalingga. Tak hanya itu, di tahun 2017 mendapatkan bantuan 1 unit gedung pemilah sampah yang saat ini sedang dibangun.

"Adanya bank sampah dan perpustakaan keliling serta perpusdes di rumah saya, sebulan minimal saya bisa mengumpulkan 1 kuintal sampah. Ini sangat signifikan, karena mengurangi sampah dan meningkatkan budaya membaca dan minat baca," katanya.

Sementara menurut Sutarmi (43) ibu rumah tangga mengatakan jika dengan adanya Limbah Pustaka sangat membantu warga khususnya dirinya dalam bidang pengetahuan.

"Keuntungannya jadi berpengalaman membaca, sambil kita setor sampah terus pinjam buku. Seneng dapat pengetahuan," ujarnya.

Bukan hanya dirinya yang jadi gemar membaca, namun dia mempunyai harapan besar dengan adanya perpustakaan keliling tersebut, yakni anaknya Siti Giyantri (9) siswi SDN 1 Muntang, menjadi tambah pintar dengan membaca buku-buku yang di bawa oleh Hendarti.

"Selama ini yang ada hanya buku sekolahan. Dia (anaknya) memang senang membaca dan sering ranking 1. Yang pastinya senang ada kemajuan, anak saya jadi tambah wawasannya," jelasnya.

Semua kegiatan Hendarti tak lepas dari dukungan sang suami Agustinus Suryanto yang selalu membantu menata buku dan menemani saat dirinya berkeliling desa. Namun tak jarang, sang suami merasa kasihan dengan kesibukan istrinya tersebut, tapi dia selalu memberikan semangat untuk kemajuan masyarakat di desanya.

"Kadangkala waktu untuk istirahat kurang, malam ada yang lembur untuk mencatat apa yang kurang di perpus. Ya saya bantu, capek satu ya capek semua. yang penting disini kegiatan bareng-bareng untuk perkembngan desa apalagi kalau anggotanya semangat," ujar Agustinus.

Labels:

Monday, March 13, 2017

Hanya Jualan Buku Anak, Wanita ini Sukses Raih Milyaran Tiap Bulan!

Dunia Perpustakaan | Sepertinya jurusan ilmu perpustakaan memang perlu untuk menambahkan mata kuliah yang khusus mengkaji terkait peluang bisnis yang terkait dengan perpustakaan dan literasi.

Faktanya, banyak kisah orang-orang yang sukses berbisnis di bidang ini, mulai dari penerbitan, hingga cafe bertemakan buku, bahkan ada juga yang sukses raih milyaran rupiah tiap bulan hanya jualan buku.

Anda mungkin tidak percaya jika tidak membaca sendiri kisah mereka, anda akan beranggapan mustahil jika ada orang bisa raih milyaran hanya dari jualan buku.

Jika anda masih ragu dan tidak percaya, berikut kisah Devi Raissa Rahmawati yang sukses berjualan buku hingga milyaran rupiah setiap bulanya.

Sebagaimana Dunia Perpustakaan kutip dari detikFinance [12/3/2017], nama Devi Raissa Rahmawati, keluar sebagai pemenang untuk dua kategori program Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2016.

Dua kategori yang dimenangkannya ialah, kategori Best of theBest dan Kategori Industri kreatif kelompok alumni dan mahasiswa pascasarjana dari Universitas Indonesia.

Dari dua kemenangannya itu, Devi akhirnya membawa pulang uang tunai sebesar Rp 100 juta dari PT Bank Mandiri Tbk.

Usaha yang dijalani Devi sendiri hingga menjadi dua pemenang sekaligus, ialah usaha jual beli buku bayi dan anak, yang ditujukan untuk anak usia 6 bulan hingga 7 tahun. Ia pun menceritakan awal mula dirinya bisa memulai bisnis tersebut.

"Awalnya saya itu psikolog anak, terus habis itu banyak orang tua yang mengeluhkan sulitnya untuk berkomunikasi dengan anak. Dari situ saya kemudian riset, ternyata lewat membaca, saya kemudian meningkatkan hubungan komunikasi antara orang tua dan anak," cerita Devi saat ditemui detikFinance usai acara Gerakan Kewirausahaan Nasional dan Penganugerahan Penghargaan Wirausaha Muda Mandiri #WMMExpo2017 di Kampus IPB, Bogor, Sabtu (11/3/2017).

"Tapi orang tua di situ mengeluh lagi, buku bacaan Indonesia itu kurang bervariasi. Kalau ada buku bacaan yang bagus, itu buku bacaan impor, yang harganya ratusan ribu. Dan enggak banyak orang yang bisa menjangkaunya," sambungnya.

Dari sana, akhirnya Devi mulai mencoba kesempatan untuk bisa membuat buku sendiri dengan kualitas impor dan harga yang terjangkau. Ia bersama satu temannya, akhirnya memulai usaha menjual buku yang bernama 'Rabbit Hole'.

Devi yang senang menulis, bertugas untuk membuat jalan cerita. Sedangkan, temannya bertugas untuk menggambar. Kemudian, Devi pun mencoba untuk memproduksi buku pertamanya sebanyak 1.000 buah, dengan modal dari kantong pribadi sebesar Rp 10 juta.
"Itu awal mula tahun 2014 bulan Agustus. Modalnya pertama kali itu Rp 10 juta untuk mencetak 1.000 buku. Terus terbitin buku sendiri. Dan distribusi saya hanya melalui instagram, karena saya enggak mau ke toko buku besar, karena mereka mengambil profit yang cukup besar," cerita Devi.
Walau hanya dipasarkan melalui media sosial Instagram, namun ternyata, buku buatan Devi banyak diminati. Kini, dari bisnisnya itu, dalam satu bulan ia bisa mendapatkan omzet hingga Rp 1 miliar, dari buku yang dijual dengan kisaran harga Rp 25 ribu hingga Rp 185 ribu.

"Sekarang, untuk satu kali cetak 10 ribu buku. Jadi satu judul itu 10 ribu cetak dan satu bulan bisa dua sampai tiga judul. Perbulan bisa menjual rata-rata 14 ribu buku," terang Devi.

Walau telah sukses, Devi mengatakan, bisnis yang dijalani itu bukan berarti tanpa hambatan. Ia mengaku, beberapa kali mengalami kesulitan saat proses pencetakan buku. Namun, dengan kerja keras bersama, akhirnya Devi bisa berhasil menangani masalahnya. Hingga akhirnya, Devi bisa memiliki pegawai hingga 110 orang.

"Kesulitannya adalah di bagian percetakannya. Karena itu adalah dunia yang baru buat saya. Terus kami ingin buku kualitas impor, yang tebal-tebal seperti itu. Sementara buku Indonesia kan enggak ada yang begitu. Jadi menyesuiakan keinginan dengan percetakannya itu yang sulit. Sekarang karyawan saya sudah 110 orang. Dari awalnya hanya berdua," terang Devi.

Lebih lanjut Devi mengatakan, apa yang dikerjakannya itu bukan hanya bisnis untuk mencari keuntungan semata. Dari bisnisnya, Devi juga berupaya untuk bisa mencerdaskan anak bangsa, dengan membagikan buku-bukunya secara gratis.

"Jadi setiap 20 buku yang terjual. Satu buku itu di sumbangkan ke rumah baca, mau pun taman bacaan. Itu sudah ada sekitar 200 paket buku. Satu paketnya itu 10 judul buku. Jadi sudah sekitar 2.000 buku. Kami ingin buku kami untuk bisa dijangkau dan dibaca oleh semua kalangan," tutup Devi.

Labels:

Sunday, March 5, 2017

GO READ, AKSI BELA Budaya Baca!

Dunia Perpustakaan | Jika melihat kondisi minat baca di Indonesia, yang ada pastinya hanya kata keprihatinan yang bisa kita rasakan.

Dimana negara kita Indonesia, penduduknya berada diurutan ke 60 dari 61 negara dalam rangking budaya baca.

Hal tersebut diperparah lagi bahwa, minat baca yang begitu rendah tapi penduduknya dikenal paling cerewet di dunia.

(Baca juga: Minat Baca Rendah Tapi Cerewet Banget!)

Tidak heran jika orang Indonesia begitu mudah diprovokasi, dan jadi sasaran empuk untuk penyebaran Hoax, dan informasi sampah lainya.

Namun tentunya, kata "prihatin" tidaklah cukup untuk merubah semuanya itu menjadi lebih baik, jika kita hanya berdiam diri saja. Apalagi jika kita justru menjadi bagian dari "konsumsi hoax", tentunya itu akan memperburuk keadaan.

Yang harus kita lakukan tentunya dengan melakukan perubahan yang positif dalam mendukung kampanye budaya baca.

Hal ini juga yang dilakukan oleh Eko Cahyono dkk yang baru-baru ini meluncurkan Go READ.

Kalau melihat logonya, kesan yang kita lihat seperti logo "GoJek".

Namun ini bukanlah ojek online sebagaimana GoJek, melainkan gerakan untuk sebarkan budaya baca.

GO READ ini merupakan sebuah gerakan yang dilakukan oleh FKTBM (Forum Komunikasi Taman Bacaan Masyarakat) Malang Raya.

Mereka bukanlah para pustakawan apalagi pustakawan yang sudah PNS, melainkan hanyalah sekumpulan relawan yang berasal dari anggota FKTBM Malang Raya.

Tujuan mereka tentunya tak lain hanya ingin menjadi bagian dari misi yang sangat mulya, yaitu untuk memberikan fasilitas dan memobilisasi bahan bacaan bagi masyarakat.

Dalam sebuah akun youtube Om Sam, dirinya menuliskan bahwa, dirinya dan teman-teman relawan, awalnya hanya berfikir, bagaimana agar koleksi perpustakaan masyarakat atau TBM bisa memperoleh buku dengan mudah dan saling menukarkan bukunya dengan TBM lain.

Berawal dari keinginan mulya tersebut, akhirnya mereka membuat FKTBM dan mencoba menjawab keluhan teman-teman pengelola TBM yang kekurangan buku.

Pada tanggal 17 Mei 2016 Om San berani deklarasikan berdirinya FKTBM Malang Raya, yang saat itu dibantu oleh Eko Cahyono untuk memperbanyak anggota.

Selanjutnya Om San juga mendirikan BANK BUKU yang tujuannya mengumpulkan sumbangan buku dari masyarakat. Buku yang terkumpul rencana kita bagikan ke anggota FKTBM Malang Raya dengan cara meminjam.

Tidak berhenti sampai disitu saja, pada tanggal 6 Nopember 2016, lima bulan setelah FKTBM berdiri Om San bersama teman-temanya kemudian meresmikan GO READ.

Tujuan dibentuknya GO READ yaitu untuk memudahkan masyarakat yang ingin menyumbang buku, karena tinggal telepon, maka buku akan diambil oleh para relawan GO READ.

Tidak hanya mengambil buku dari para donatur buku, GO READ juga memfasilitasi kemudahan TBM dalam bertukar koleksi, sehingga mengurangi kejenuhan pembaca yang pada umumnya anak-anak.

Menurut Om San, dengan terbentuknya GO READ ini sekaligus bisa mewujudkan impianya untuk membangun "inter small library loan by collection.

Menurutnya, TBM adalah potensi besar dalam memajukan minat baca, jangan sampai pemustaka jenuh dan enggan membaca karena koleksinya hanya itu-itu saja.

Salah satu pesan Om San untuk seluruh masyarakat di Indonesia, khususnya kepada anda yang peduli terkait kemajuan budaya baca di Indonesia,
"So, ayo bersama peduli minat baca, SAYA TAK PEDULI DENGAN HASIL SURVEY MINAT BACA DI INDONESIA, SAYA HANYA PEDULI BAGAIMANA MEMBANGUN MINAT BACA SECARA EFISIEN. Kalau ada pilihan lebih murah mengapa harus pilih yang mahal?!", ucap Om San melalui Channels Youtubenya.
Sebagai bahan tambahan, anda juga perlu tahu, apa saja kegiatan dan tugas dari para relawan GO READ?

Dikutip dari blog resminya fktbm-malangraya.or.id, tugas para relawan GO READ diantaranya yaitu sebagai berikut,

Tugas Relawan GO READ

  1. Relawan Go Read bertugas mengambil bahan bacaan ke rumah donatur/penyumbang. Bahan bacaan terdiri dari buku, majalah, koran bekas, brosur, alat permainan edukatif.
  2. Relawan Go Read bertugas menyerahkan bahan bacaan yang diambil dari donatur/penyumbang ke Bank Buku
  3. Relawan Go Read bertugas mengantarkan bahan bacaan dari Bank Buku ke TBM yang telah ditentukan
  4. Relawan Go Read bertugas mencatat pinjaman bahan bacaan dari Bank Buku ke TBM dengan peminjaman selama 1 (satu) bulan. Relawan Go Read harus memiliki kontak person TBM yang dituju untuk mempermudah komunikasi. Jika TBM tersebut ingin meminjam lebih dari 1 (satu) bulan, maka harus ada kesepakatan dengan Relawan Go Read dahulu.
  5. Relawan Go Read bertugas menarik kembali bahan bacaan yang dipinjam TBM selama 1 (satu) bulan untuk dikembalikan lagi ke Bank Buku.
  6. Relawan Go Read bertugas membantu pertukaran koleksi antar TBM dengan catatan tersendiri (tidak tercampur dengan catatan Bank Buku)
  7. Relawan Go Read bertugas meminjamkan Koleksi Pribadi atau Koleksi TBM yang dimiliki untuk dipinjamkan ke lembaga sekitar, misalnya Panti Asuhan, Remaja Masjid, Karang Taruna, PAUD, TK, Posyandu atau kumpulan orang yang membutuhkan bacaan.
  8. Relawan Go Read bertugas menguatkan keinginan/memotivasi kepada pengelola TBM lain untuk tetap semangat dalam menumbuhkan minat baca
  9. Relawan Go Read bertugas membantu masyarakat yang ingin mendirikan TBM, supaya tumbuh TBM baru di Malang Raya
  10. Relawan Go Read bertugas buka lapak atau baca di tempat atau perpustakaan keliling baik secara perorangan atau bersama relawan Go Read lain sesuai kesepakatan bersama. Lokasi buka lapak dapat dibuka di area Car Free Day, Lomba, Acara bersih desa, pameran buku, acara bedah buku, di posyandu, di PAUD, di stadion dan ditempat-tempat yang dirasa perlu untuk buka lapak.
  11. Relawan Go Read dibekali dengan brosur tentang ketentuan peminjaman bahan bacaan dari Bank Buku untuk dijelaskan kepada TBM yang dituju.
  12. Relawan Go Read harus mentaati peraturan lalu lintas, menggunakan helm SNI, memiliki SIM C untuk kendaraan roda 2 dan SIM A untuk kendaraan roda empat
  13. Relawan Go Read didasari semangat kepedulian, komitmen menumbuhkan minat baca, dan berjiwa sosial.
  14. Relawan Go Read tidak digaji, tidak disediakan uang lelah, uang makan, uang saku harian, uang BBM maupun uang tips.
  15. Relawan Go Read memperoleh kartu anggota yang bentuk dan fungsinya sama dengan kartu anggota FKTBM
  16. Relawan Go Read yang diberi sumbangan pakaian layak, sepatu, tas dan alat tulis dari masyarakat harap dikumpulkan di Bank Buku untuk diserahkan kepada komunitas sosial lainnya guna disalurkan kepada pihak yang membutuhkan

MOTTO GO READ

Relawan Go Read diharapkan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pembangunan minat baca di Malang Raya, karena motto Go Read adalah:

"BERBAGI BUKU BERBAGI ILMU - BERBAGI BACAAN BERBAGI PENGETAHUAN"

Jika anda tertarik ingin bergabung dan menjadi relawan GO READ, anda juga bisa mendaftar dengan ketentuan dan syarat-syarat sebagai berikut,

Syarat Menjadi Relawan GO READ

  1. Minimal berijazah SMP
  2. Memiliki Kendaraan sendiri
  3. Sehat Jasmani dan Rohani (jika difabel harap menyesuaikan sendiri kendaraannya)
  4. Berjiwa sosial
  5. Komitmen dan peduli terhadap minat baca
  6. Tidak menuntut gaji, honor atau uang lelah
  7. Tidak menuntut uang BBM atau uang bensin
  8. Tidak menuntut uang makan, uang minum atau pun uang saku harian
  9. Taat lalu lintas, menggunakan helm SNI, memiliki SIM C untuk pengendara roda 2 dan SIM A untuk pengemudi mobil.
  10. Sanggup mengikuti pertemuan evaluasi yang dijadwalkan melalui grup WA
  11. Untuk tempat menyimpan buku, relawan diperbolehkan menggunakan kontainer plastic ukuran 30 liter - 50 liter, menggunakan kardus bekas air minum dalam kemasan, menggunakan stereofoam box, menggunakan obrok, menggunakan tas ransel, menggunakan karung maupun saran penyimpan yang aman dan tidak mengganggu selama perjalanan.
Beberapa relawan sudah bertugas di beebrapa wilayah, dan sebagian yang lainya belum ada relawan dan anda bisa ikut berkpntribusi disana.

Berikut ini merupakan data-data dan sekaligus contact person para relawan di masing-masing wilayah,

RELAWAN GO READ SAAT INI

  1. Wilayah Kota Malang Utara dan sekitarnya - MULYONO (HP 085 646 375 719)
  2. Wilayah Kota Malang Tengah dan sekitarnya - MOH. RUKHAN (HP 081 233 585 535)
  3. Wilayah Kota Malang Selatan dan sekitarnya - MANSYUR (HP 081 216 192 712)
  4. Wilayah Kota Malang Timur dan sekitarnya - SUNARKO (HP 085 100 670 554)
  5. Wilayah Kota Batu dan sekitarnya - FERY (HP 082 334 957 957)
  6. Wilayah Dau dan sekitarnya - JIMY (HP 081 555 108 7)
  7. Wilayah Jabung dan sekitarnya - EKO CAHYONO (085 646 455 384)
  8. Wilayah Jabung dan sekitarnya - FACHRUL ALAMSYAH ( 089 800 838 00)
  9. Wilayah Pakis dan sekitarnya - ANDIK (HP 082 257 903 071)
  10. Wilayah Tumpang dan sekitarnya - TANJUNG (HP 081 333 325 225)
  11. Wilayah Poncokusumo dan sekitarnya - IMRON (HP 082 335 504 445)
  12. Wilayah Singosari dan sekitarnya - SANTOSO (HP 081 235 707 676)
  13. Wilayah Singosari dan sekitarnya - AFIF (HP 085 748 113 464)
  14. Wilayah Lawang dan sekitarnya - SUNDOKO (HP 081 216 190 337)
  15. Wilayah Turen dan sekitarnya - YOGA (HP 085 749 657 241)
  16. Wilayah Gondanglegi dan sekitarnya - ACHMAD (HP 085 259 263 019)
  17. Wilayah Bantur dan sekitarnya - MUZAKI (HP 085 646 230 009)
  18. Wilayah Kepanjen dan sekitarnya - ADIT (HP 081 554 814 359)
  19. Wilayah Ngantang dan sekitarnya - EYANG WIWIK ( 082 143 179 426)
  20. Wilayah Pakisaji dan sekitarnya (belum ada)
  21. Wilayah Wagir dan sekitarnya (belum ada)
  22. Wilayah Dampit dan sekitarnya (belum ada)
  23. Wilayah Bululawang dan sekitarnya (belum ada)
  24. Wilayah Pujon dan sekitarnya (belum ada)

Aktivitas dan dokumentasi GO READ



Relawan siap berangkat mengambil buku sumbangan dan mengantar buku sumbangan ke TBM di Malang Raya. |gambar: fktbm-malangraya.or.id


Memilah buku di BANK BUKU dan siap diedarkan melalui GO READ |gambar: fktbm-malangraya.or.id


Di Belakang kontainer terdapat stiker dengan no HP milik relawan yang bisa dihubungi oleh masyarakat |gambar: fktbm-malangraya.or.id

Video GO READ



Dari penjelasan terkait dengan GO READ diatas, sudah saatnya memamng kita tidak hanya DIAM saat melihat data bahwa minat baca Indonesia rendah, namun jauh lebih penting adalah, APA YANG BISA KITA LAKUKAN supaya bisa berperan dan menjadi bagian untuk terus memacu dan memompa semangat budaya baca masyarakat di Indonesia!

STOP saling cela dan sibuk menghina di sosial media, mari bersatu padu sebarkan virus-virus budaya baca ke penjuru pelosok Indonesia, dengan cara dan sesuai kemampuan kita masing-masing.

Bagi masyarakat yang hendak menyumbang buku dapat menghubungi
  • Santoso Mahargono (HP 081 235 707 676)
  • Eko Cahyono (HP 085 646 455 384).
Buku yang sudah diambil dari penyumbang lalu dikumpulkan ke Bank Buku.

Sebarkan tulisan ini agar semakin banyak orang terinspirasi dan meniru kebaikan yang sudah mereka lakukan.

Labels:

Tuesday, February 14, 2017

Perpustakaan Unik di Australia ini Sedang Viral, Ini Penyebabnya!

Dunia Perpustakaan | Jika anda pegiat literasi atau pustakawan yang sedang kehabisan ide untuk kenalkan budaya baca.

Ada satu lagi inspirasi yang mungkin bisa di terapkan di Indonesia, tapi sepertinya memang ada resikonya.

Biasanya saat kita mendengar kata perpustakaan, biasanya yang terlintas di pikiran kita adalah sebuah bangunan yang berisi penuh dengan buku-buku.

Namun, ada yang berbeda dengan perpustakaan jalanan yang ada di Australia ini.

Bentuk perpustakaanya bukanlah seperti rak buku kebanyakan, melainkan hanya berbentuk kecil.

Perpustakaan unik ini mungkin jauh dari apa yang kita bayangkan sebelumnya.

Perpustakaan kecil ini lebih bisa disebut sebagai rak buku kecil yang dibentuk menyerupai seperti kotak surat, namun dibuat agar lebih besar supaya muat untuk menyimpan dan meletakan beberapa buku.

Kalau orang yang belum tahu, mungkin akan dianggap seperti kotak surat, namun ternyata di dalamnya berisi buku-buku.

Buku-buku tersebut merupakan buku siapapun tanpa terdata siapa pemiliknya.

Kalau boleh dibilang, ini semacam aktivitas masyarakat di Australia yang sedang berjuang supaya masyarakat disana suka membaca buku.

Bermodal sebuah kotak kecil yang ditaruh di depan rumah, kotak kecil itu pun kemudian diubah selayaknya menjadi sebuah perpustakaan.

gambar: streetlibrary.org.au
Yang menarik, siapapun boleh mengambil buku tersebut. Namun semacam ada aturan yang tak tertulis bahwa setiap mereka yang ambil buku disitu, maka disertai dengan membawa meletakan buku pengganti yang mereka ambil, begitu seterusnya.

Karena aksi yang begitu menarik dan memberikan manfaat untuk banyak masyarakat, akhirnya ide tersebut menjadi viral di sosial media, khususnya di wilayah Australia.

Dikutip dari ABCNews [14/2/2017], diberitakan jika di perpustakaan yang berbentuk kotak kecil tersebut, siapa pun bisa meminjam buku yang tersedia di dalamnya.

Salah satu pemiliki Street Library di Australia, Nic Lowe, mengaku jika perpustakaan tersebut diisi oleh berbagai buku.

“Orang-orang bisa datang dan menukar buku yang diinginkan,” ungkapnya di ABC News.

Uniknya lagi, tidak ada aturan khusus bahkan persyaratan bagi siapa saja yang ingin meminjam atau mengembalikan buku-buku tersebut. Menariknya, kotak tersebut selalu terisi dengan sendirinya.

Jika orang-orang memiliki kumpulan buku yang sudah dibaca, maka bisa ditaruh di perpustakaan jalan tersebut.
“Anda intinya mendaur ulang buku-buku tersebut ke tangan orang lain. Para pejalan kaki bisa melewati perpustakaan jalanan ini dan kamu juga bisa mendengar mereka jika membuka pintu perpustakaan tersebut dan menyapanya,” ungkap Lowe.
Saat ini telah ada sekira 150 perpustakaan jalanan yang tersebar di seluruh wilayah Australia.

Kalau cara tersebut dilakukan di Indonesia, kira-kira bisa berjalan tidak?

Atau jangan-jangan masyarakat hanya suka mengambil bukunya tanpa pernah mau berganti untuk mengisinya?

Labels: ,

Saturday, February 11, 2017

Purwakarta Siapkan Perpustakaan Keliling di Setiap Desa

Purwakarta Siapkan Perpustakaan Keliling di Setiap Desa!


Dunia Perpustakaan | Satu lagi sosok di negeri ini yang juga langsung bereaksi dengan aksi kepedulianya terkait minat baca di daerahnya, dialah Bupati Purwakarta yang akrab disapa di facebook dengan panggilan Kang Dedi Mulyadi.

Melalui akun sosialnya di facebook, Bupati Purwakarta ini akan membuat program satu desa, satu perpustakaan keliling.

Dikutip dari detik.com [8/2/2017], diberitakan jika Pemkab Purwakarta meluncurkan program satu desa satu perpustakaan keliling. Hal ini terinspirasi oleh sosok Abah Uju (68).

Abah Uju merupakan pegawai khusus perpustakaan keliling dengan status tenaga harian lepas (THL) Pemkab Purwakarta. Dia berkeliling desa dengan sepeda baru dari Pemkab Purwakarta.

[Baca juga: Abah Udju, 28 Tahun Bersepeda Pinjamkan Buku Gratis Tanpa Dibayar!]


"Abah Uju ini sosok yang inspiratif. Apa yang dilakukan Abah Uju akan diterapkan di setiap desa," ujar Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi saat memberikan sepeda kepada Abah Uju di halaman belakang Pendopo Kabupaten Purwakarta, Rabu (8/2/2017).

Dedi mengatakan nantinya Abah Uju, yang biasa berkeliling di Kecamatan Darangdan, tidak perlu lagi berkeliling hingga berpuluh-puluh kilometer. Pasalnya, di setiap desa akan ada satu petugas khusus yang disiapkan. "Jadi Abah Uju ini ketua 'geng' dari perpustakaan keliling," katanya.

Dalam waktu dekat, Pemkab Purwakarta pun akan mendatangkan 200 sepeda yang akan diberikan sebagai peralatan 'tempur' perpustakaan keliling. Dari jumlah tersebut, 192 akan disebar di setiap desa dan kelurahan. Sedangkan sisanya akan ditempatkan di pusat keramaian kota.

Lebih lanjut Dedi pun menginstruksikan agar pegawai di lingkungan Pemkab Purwakarta mengumpulkan buku atau majalah bekas untuk menjadi 'amunisi' perpustakaan keliling. "Saya juga mengajak masyarakat turut berpartisipasi menyumbang buku. Silakan buku dikumpulkan ke bagian Diskominfo Purwakarta," ucapnya.

Di tempat yang sama, Abah Uju berterima kasih atas perhatian pemerintah terhadapnya. Dia berharap, dengan program satu desa satu perpustakaan keliling, minat baca warga semakin meningkat.

Abah Uju mengungkapkan, semenjak dia diberitakan berbagai media, banyak orang menyumbang buku dan majalah ke rumahnya. Bahkan jumlahnya mencapai 500 ribu buku. Buku-buku tersebut kemudian didistribusikan olehnya ke setiap desa untuk dipinjamkan kepada warga.



"Yang paling favorit itu majalah. Anak-anak biasanya ada tugas kliping, jadi guntingin dari majalah. Ibu-ibu juga sama kan ada resep-resep di majalah. Ya kadang ada yang ngembaliin (buku) kadang nggak. Nggak apa-apa yang penting bisa bermanfaat," pungkas Abah Uju.



Seperti diketahui, sejak pertengahan tahun lalu Abah Uju diangkat menjadi THL Pemkab Purwakarta. Dia ditugasi membuka workshop pembuatan suling dan aneka kerajinan yang terbuat dari bambu di Pendopo Purwakarta. Sedangkan pada Sabtu, Abah Uju menjalankan aktivitas menjadi perpustakaan keliling.

Labels: ,

Thursday, January 19, 2017

Abah Udju, 28 Tahun Bersepeda Pinjamkan Buku Gratis Tanpa Dibayar!

Abah Udju, 28 Tahun Bersepeda Pinjamkan Buku Gratis Tanpa Dibayar!


Dunia Perpustakaan | Sudah lama tidak update memunculkan sosok inspirasi untuk para pustakawan dan pejuang literasi di Indonesia.

Walaupun agak terlambat, setidaknya membaca kisah ini tetap tidak akan ada kata terlambat, untuk mengambil inspirasi dari perjuangan Djudju Djunaedi atau Abah Udju (68).

Usianya boleh lanjut. Namun, Abah Udju selalu bersemangat mengayuh sepeda berkeliling desa di Purwakarta.

Dalam sehari, dia bisa mengayuh sepeda sejauh 15 km untuk meminjamkan bukunya ke masyarakat di perkampungan Purwakarta. Sejak tahun 1988, dia menjalankan perpustakaan keliling Saba Desa.

"Abah mulai tahun 1988, saat itu masih kerja di PTPN VIII. Sepulang kerja, jam 14.00 sampai sore saya mulai keliling meminjamkan buku," ujar Udju dikutip dari Kompas.com, Jumat (5/8/2016).

Awal mulanya, pada 1988-2002, dia menjalankan perpustakaan kelilingnya dengan berjalan kaki. Dia datang ke rumah-rumah di desanya, Gunung Hejo.

Pada tahun 2002, dia gabung Paguyuban Pasundan dan mendapatkan bantuan sepeda untuk perpustakaan kelilingnya. Namun di 2006, dia jatuh dari sepeda.

Sepedanya rusak parah dan giginya ompong. Saat itu, dia kembali berjalan kaki. Hingga 2009 ia mendapatkan sepeda kembali dari salah satu stasiun televisi swasta.

Karena usianya tak lagi muda, dia mendirikan ketua kelompok membaca di setiap desa. Jadi ia mendrop buku di ketuanya untuk disebarkan kepada pembaca. Buku tersebut baru akan diambilnya sepekan kemudian.

"Sekali pergi paling banyak bawa 50 buku dan majalah. Sebagian di tas, sebagian di sepedanya," tuturnya.

Buku tersebut tidak disewakan. Jika ada orang yang memberikan sejumlah uang, ia bersyukur. Namun tidak pun, tidak apa-apa. Karena baginya ini adalah pengabdian.

"Saya pinjamkan buku ke kampung-kampung tanpa dapat bayaran, tanpa ditulis, karena nilainya ibadah. Kalau ditulis, enggak jadi ibadahnya," ucapnya.

Buku yang dia pinjamkan juga banyak yang tidak kembali. Namun dia tidak pernah khawatir akan kehabisan buku. Yang ada, bukunya terus bertambah.

Buku-buku tersebut datang dari sumbangan. Awalnya ada yang memberikan ratusan majalah Tempo ke dirinya.

Lalu dia membuat surat pembaca di berbagai media hingga dia pun tiap pekan datang ke kantor pos untuk mengambil buku dan majalah dari masyarakat.

Dari perjuangannya, dia mengantongi beberapa penghargaan, di antaranya Nugra Jasadarma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional. Dia pun mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, termasuk Pemkab Purwakarta.

"Dari Pemkab Purwakarta dapat buku, uang, dan umrah," tutupnya.

Labels:

Saturday, January 14, 2017

Desa ini Kembangkan Usaha Pertanian melalui Perpustakaan Desa!

Dunia Perpustakaan | Perpustakaan Desa Bajang | Dengan adanya dana Rp 1 Milyar untuk setiap desa, sudah seharusnya bahkan bisa dikatakan sewajibnya, setiap desa mampu menyediakan fasilitas perpustakaan yang baik di setiap desa di seluruh Indonesia.

Keberadaan perpustakaan desa jika dikelola dengan baik dan benar, pastilah akan memberikan dampak positif bagi warga desanya.

Salah satu contohnya yaitu di perpustakaan desa di Desa Bajang, Kecamatan Pakong, Pamekasan, Madura.

Sebagian petani di perdesaan di Kabupaten Pamekasan, kini mulai mengembangkan usaha pertanian dengan memanfaatkan sarana buku-buku tentang pertanian di perpustakaan desa.
"Pemanfaatan perpustakaan desa untuk usaha pertanian masyarakat yang ada di desa ini, karena buku-buku yang tersedia memang kebanyakan tentang pertanian, pekebunan dan peternakan," kata Kepala Desa Bajang Moh Mokri dikutip dari antarajatim.com, Jumat (13/1/2017).
Salah satu kegiatan di Perpustakaan Desa Bajang, tidak hanya membaca tapi juga diberikan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan SDM masyarakat desa. |gambar: bajang.blogdesa.net
Dalam diskusi bertajuk "Pemanfaatan Fasilitas Perpustakaan Desa untuk Usaha Pertanian" yang digelar aparat desa bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan di ruang pertemuan perpustaan itu terungkap, masyarakat sangat terbantu dengan keberadaan perpustakaan desa.

Selain buku yang tersedia memang banyak yang berkaitan dengan bidang pertanian, juga buka yang tersedia di perpustaan itu, kebanyakan berisi petunjuk teknis dan cara strategis pengembangan usaha pertanian.

Melalui buku-buku yang ada di perpustaan desa itu, petani juga banyak menerapkan konsep keilmuan yang mereka peroleh dari buku. Salah satunya tentang teknik penyimpangan pakan ternak dan pengelolaan budidaya ikan lele di ladang petani.

Salah seorang petani asal Dusun Sannip, Desa Bajang, Kecamatan Pakong, Pamekasan Moh Bari mengaku, keberadaan perpustaan desa sangat membantu dirinya dalam menyiasati usaha pertanian dan peternakan.

"Yang paling bermanfaat dan kami rasakan langsung adalah cara membuat pupuk kompos," katanya.

Desa Bajang, Kecamatan Pakong, Pamekasan merupakan salah satu desa yang memiliki perpustakaan sebagai sarana penunjang usaha pertanian masyarakat.

Pada 16 Desember 2016, Bupati Pamekasan Achmad Syafii memberikan penghargaan sebagai Perpustakaan Paling Aktif di Bidang Advokasi.

Penghargaan itu dilakukan setelah perpustaan yang diberi nama Al-Hikmah itu berhasil meraih juara 1 di tingkat nasional dalam kategori advokasi pengembangan perpusataan berkelanjutan pada perpustakaan di tingkat desa.

Menurut Kepala Desa Bajang Mokri, jumlah buku yang tersedia di perpustakaan itu sebenarnya masih sedikit, yakni sekitar 1.700 buah. Namun yang menjadikan perusahaan itu berhasil meraih juara karena dinilai dari sisi manfaat bagi masyarakat di desa itu.

"Jadi masyarakat disini benar-benar memanfaatkan dan mempraktikkan langsung isi buku tentang pertanian dan peternakan di lapangan," katanya.

Bagaimana dengan desa anda? Sudahkah desa anda memiliki perpustakaan desa? Jika belum, segeralah mengajukan ke kepala desa anda untuk segera membangun fasilitas perpustakaan dan internet di desa anda.

Labels: ,

Monday, January 9, 2017

Hudson Siahan, Polisi yang Relakan Motornya Jadi Perpustakaan Keliling di Perbatasan!

Dunia Perpustakaan | Jika memang ada pemberitaan buruk tentang Polisi, tentunya kita juga harus berimbang jika sebenarnya ada juga Polisi yang baik hati. Salah satunya yaitu kisah kebaikan anggota Polisi bernama Brigadir Hudson Siahaan, yang rela menjadikan motor dinasnya jadi perpustakaan keliling.

Kisah ini bermula dari hobi membaca Brigadir Hudson yang kemudian prihatin melihat kondisi minat baca warga di perbatasan Indonesia - Malaysia.

“Awalnya saya prihatin melihat anak-anak di pedalaman yang memang kurang sekali minat membacanya, setiap hari keluar masuk desa dan dusun kebanyakan anak-anak hanya bermain dan membantu mengasuh adiknya," ungkap Brigadir Hudson Siahaan, di Dusun Bantan, baru-baru ini, dikutip dari okezone.com [9/1/2017].

Aktivitas Brigadir Hudson Siahaan saat melayani anak-anak dengan buku yang dibawanya | gambar: okezone.com
Brigadir Hudson Siahaan yang merupakan Anggota Kepolisian Sektor Sekayam, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat, kemudian merelakan motor dinasnya untuk dijadikan perpustakaan keliling bagi anak-anak di perbatasan Indonesia-Malaysia, Kecamatan Sekayam.

Sejak dipindah tugaskan ke wilayah perbatasan kurang lebih satu tahun lalu dan menjadi Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) di Desa Bungkang, Brigadir Hudson kerap keluar masuk desa dan dusun di pedalaman perbatasan. Dari sana ia melihat minat baca anak-anak masih sangat kurang.

Awalnya, ia mengaku bingung bagaimana membawa buku-buku cerita ke pedalaman. Lantas, ia pun menyulap motor dinas yang memiliki kotak box berisi mantel itu menjadi tempat untuk membawa buku bacaan bagi anak-anak di pedalaman.

“Sebelumnya saya minta izin dulu kepada Kapolsek untuk membawa buku baca dari taman bacaan Kemala Cinta Indonesia," ujar Hudson Siahaan.

Atasanya pun menyambut baik ide membawa buku bacaan ke desa-desa dan dusun. Dalam satu hari, ia bisa menyambangi tiga hingga empat dusun untuk meningkatkan minat baca masyarakat dan anak-anak di perbatasan.

Hudson mengatakan, biasanya ia menyambangi dusun setelah anak-anak pulang sekolah. Kedatanganya pun selalu disambut meriah oleh anak-anak. Selain membawa buku bacaan, ia juga menyediakan makanan ringan seperti permen dan camilan agar anak-anak tidak bosan saat membaca.

"Untuk sekali kunjungan saya membawa paling sedikit 100 buku, berbagai jenis. Untuk dewasa dan orangtua paling banyak dibaca tentang budidaya tanaman, kalau dewasa biasanya sih novel dan cerita daerah. Untuk anak-anak biasa dibawa buku mendongeng dan sejenisnya," jelasnya.

Kadang kala, cerita Hudson, ia harus membacakan cerita bagi anak-anak yang belum lancar membaca.

Kades Dusun Bungkang, Erzan mengatakan semangat Brigadir Hudson Siahaan sangat tinggi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, bukan hanya sebagai pengayom, ia juga memotivasi warga untuk gemar membaca.

“Sudah dua bulan ini Pak Hudson mondar mandir di Desa Bungkang membawa buku-buku bacaan, setiap kedatanganya selalu ditunggu anak-anak bahkan kerap ramai yang mengerumuninya," ucap Erzan.

Dia menambahkan, minat membaca anak-anak memang kurang terutama di pedalaman perbatasan. Dengan rutinnya Brigadir Hudson menyambangi warga di Desa Bungkang membuat minat membaca mulai meningkat, terutama di kalangan anak-anak.

“Sekarang anak-anak sudah rajin membaca, diharapkan orangtua juga seperti itu. Karena buku merupakan jendela dunia," pungkas Erzan.

Labels: , ,

Friday, January 6, 2017

Ingin Berkontribusi untuk Negeri, Pemuda ini Bangun Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara

Ingin Berkontribusi untuk Negeri, Pemuda ini Bangun Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara.


Dunia Perpustakaan | Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara | Saat banyak orang terjebak untuk selalu sibuk saling mencela dan mencaci-maki di sosial media, sekelompok anak-anak muda di daerah Malang ini justru melakukan aksi bernama Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara (GPAN).

Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara (GPAN) merupakan gerakan yang dipelopori oleh Imam Arifa’illah.

Tujuan dari dibentuknya Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara yaitu untuk menyediakan sumber belajar untuk anak-anak, sehingga dengan cara tersebut diharapkan wawasan dan informasi dapat diperoleh dengan mudah.

Awal berdirinya Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara bermula dari ide Imam Arifa’illah yang memiliki impian agar dirinya bisa mengabdi, berkontribusi, dan melakukan hal terbaik untuk negeri ini.

Pria yang akrab disapa Imam ini, kemudian melakukan kontemplasi berkaitan dengan masalah pendidikan, kemiskinan, dan sosial untuk mencari solusi atas problema tersebut, khusunya sulitnya anak-anak kurang mampu untuk memperoleh sumber belajar dan semakin rendahnya minat yang ada.

Masalah inilah yang menjadi latar belakang terbentuknya komunitas Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara pada tanggal 25 April 2015.

“Saya mencoba mengamati permasalahan di lingkungan sekitar. Saya menggali masalah mengenai pendidikan, kemiskinan, dan sosial untuk dicari jalan keluar yang baik”, ungkap pria kelahiran Lamongan ini.

Dikutip dari malangtoday.net [4/1/2017], Misi dari GPAN adalah menjadi komunitas terbaik untuk mengembangkan Perpustakaan Anak Nusantara diberbagai daerah yang membutuhkan.

[caption id="attachment_2964" align="aligncenter" width="807"] Kegiatan Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara | gambar: malangtoday.net[/caption]

Sedangkan untuk Visi Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara yaitu menyiapkan sumber belajar, mendidik generasi emas, mendorong minat baca dan mendukung terciptanya perpustakaan anak nusantara di beberapa daerah.

Semangat yang dimiliki Imam, ia tularkan ke rekan-rekanya, sehingga sekarang ini, GPAN memiliki 10 koordinator regional yang tersebar di Pulau Jawa dan Sulawesi yang mencakup wilayah Bandung, Jogja, Madiun, Kediri, Malang, Pasuruhan Lamongan, Probolinggo Jember, dan Palu.

Untuk GPAN regional Malang sendiri yang sekarang diketuai Deviana Safitri dan dibantu 80 lebih anggota , memiliki 3 program pokok mendidik, membagi buku, dan mengembangkan perpustakaan yang dikemas menjadi berbagai macam kegiatan, seperti Bocah Pustaka yang melakukan pengabdian di Ponpes Roudlatul Nashichin Karang Widoro, Dau, Malang, Donasi 100 Al-Qur’an dan Cinta Literasi untuk kegiatan internalnya.

Deviana berpesan kepada generasi muda untuk tidak melupakan lingkungan sekitar, terlebih untuk memperhatikan generasi emas yang belum mampu mengenyam pendidikan secara layak.

“Jangan lupa peduli dan berbagi untuk sekitarmu,   apalah arti ijazah,  IPK tinggi, nilai bagus, tapi sayang jika kamu tidak peduli dengan lingkungan mu sendiri karena masih banyak anak anak di sekitar kita yang membutuhkan uluran tangan kita ”, ujar perempuan berkacamata ini.

Semoga saja kedepan di negeri ini semakin banyak anak-anak muda seperti Imam Arifa’illah dan timnya untuk membentuk Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara.

Soalnya alangkah rugi dan sia-sianya mereka anak-anak muda yang seharusnya mengisi kemerdekaan ini dengan aksi dan karya nyata tapi justru malah sibuk saling mencela di sosial media.

SilahkanShare untuk sebarkan inspirasi di kalangan anak muda generasi penerus bangsa.

Labels:

Wednesday, January 4, 2017

Miliarder Kelas Dunia Ini Sukses Berbisnis dari Sebuah Buku!

Miliarder Kelas Dunia Ini Sukses Berbisnis dari Sebuah Buku!


Dunia Perpustakaan | Hampir setiap orang jika ditanya ingin kaya, pasti akan menjawab dengan cepat, Pasti! Namun aneh dan lucunya, tidak semua orang MAU dan MAMPU mengikuti apa yang orang-orang sukses dan kaya raya lakukan.

Padahal salah satu yang menjadi kebiasaan orang-orang sukses pasti selalu dekat dengan aktivitas membaca buku.

Salah satu orang sukses dan kaya raya karena rajin membaca buku yaitu pendiri dan CEO Boston Beer Jim Koch.

Selama tiga dekade terakhir, pendiri dan CEO Boston Beer Jim Koch berhasil membawa bisnis keluarganya, yang dimulai pada 1870-an kian membesar.

Dikutip dari liputan6.com, Pada tahun lalu saja, nilai pasar bisnis bir ini mencapai US$ 2 miliar dengan pendapatan tahunan US$ 960 juta. Koch pun masuk daftar miliarder terkaya di dunia versi Majalah Forbes.

Yang menarik, salah satu hal paling penting yang mendorong Koch berhasil mengangkat bisnis keluarganya bukan dari Harvard, di mana ia menghabiskan delapan tahun belajar dan mengumpulkan tiga gelar, BA, JD dan MBA. Tapi dari sebuah buku.

Melansir laman CNBC, Selasa (4/10/2016), ini dimulai tak lama setelah dia memulai usahanya Boston Beer dan memperkenalkan produk minuman bermerek Samuel Adam.

Ia menyadari bahwa agar bisnisnya sukses, pertama-tama harus belajar bagaimana cara menjual. Perihal penjualan ini, alumni Harvard Business School mengaku tidak pernah mempelajari dari kampusnya menuntut ilmu.

Menurut dia, meski universitas menawarkan berbagai puluhan kursus tentang pemasaran, namun itu tidak terbukti berhasil.

Pada akhirnya, Koch memutuskan mendatangi sebuah toko buku dan membeli satu buku berjudul "How to Master the Art of Selling" buah karya Tom Hopkins.

"Buku itu bergambar seorang lelaki dalam setelan poliester murahan pada sampulnya," kenang dia.

Dia mengaku merasa mendapatkan beberapa hal baik dari buku tersebut. "Dari situ saya belajar. Bagaimana membantu pelanggan mencapai tujuan mereka sehingga harus belajar untuk mendengarkan dan berempati," tutur dia.

Dia mengaku, mencari tahu cara menjual Samuel Adams ternyata menjadi hal yang paling menantang secara intelektual dalam perjalanan bisnisnya.

"Kau punya 30 detik ketika berjalan ke bar. Anda harus mencari tahu siapa pelanggan, berapa tingkat ekonomi mereka serta bagaimana mereka menghasilkan uang, siapa pembuat keputusan. Apa proses pemikiran mereka, apa gaya komunikasi mereka sehingga secara intelektual Anda ditantang," dia menandaskan.

Usai membaca kisah diatas akan tetapi anda masih malas membaca buku, seharusnya kita malu jika kita ingin sukses dan kaya tapi tidak mau mengikuti cara-cara orang sukses yang rajin membaca buku!

Labels:

Wednesday, November 2, 2016

Kisah Pustaka Bergerak yang Terus Bergerak Tebar Literasi hingga Pelosok!

Kisah Pustaka Bergerak yang Terus Bergerak Tebar Literasi hingga Pelosok!


Dunia Perpustakaan | Kita memang tidak boleh berhenti untuk memberikan berbagai aksi dari para pejuang literasi.

Bahkan jika perlu, kalaupun anda sudah pernah mendengarkan aksi mereka, namun saat anda kembali membaca kisah dan perjuangan mereka, anggap saja anda baru pertamakali mendengarnya.

Hal ini juga mungkin yang harus anda lakukan saat mendengar nama pejuang literasi yang satu ini, ya! Muhammad Ridwan Alimuddin.

Muhammad Ridwan Alimuddin bagi anda yang sudah sering mengikuti update terbaru dari duniaperpustakaan.com ini mungkin nama Muhammad Ridwan Alimuddin bukan hal baru lagi.

Karena melalui aksinya, mantan wartawan yang satu ini memang sungguh luar biasa.

Untuk anda yang berlum tahu terkait dengan Muhammad Ridwan Alimuddin, berikut ini sedikit kisah tentang Muhammad Ridwan Alimuddin yang beberapa waktu lalu sudah dipublikasikan di dw.com/id.

Pustaka Bergerak tak kenal lelah bangkitkan minat baca dengan perahu, motor, becak bendi,dll. hingga ke pedalaman. Di Mandar, Nusa Pustaka dibangun sekaligus jadi museum maritim.

#Perpustakaan di Mandar


Nusa Pustaka adalah perpustakaan milik Muhammad Ridwan Alimuddin di Desa Pambusuang Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi barat yang diresmikan Maret 2016.

#Armada pustaka


Mengandalkan Armada Pustaka untuk membuka ruang baca ke masyarakat Sulawesi Barat, Muhammad Ridwan Alimuddin mendirikan ativitas literasi lewat Nusa Pustaka di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

#Ridwan, pejuang literasi


Muhammad Ridwan Alimuddin dulunya merupakan mantan wartawan. Ia punya kepedulian luar biasa terhadap buku dan usaha membangkitkan minat baca hingga ke pelosok.

#Dengan perahu


Dengan perahu atau sampan, Ridwan berkelana membawa buku ke pulau-pulau kecil, agar bisa sampai kepada anak-anak di pelosok terpencil yang haus buku bacaan .

#Museum maritim


Perpustakaan ini sekaligus merupakan museum maritim Mandar. Saat ini Perpustakaan Museum Nusa Pustaka mengoleksi lebih dari 6000 buku dan beberapa artefak kebaharian. Misalnya tiga unit sandeq, replika perahu, beberapa alat bantu kerja nelayan dan artefak bangkai perahu Mandar.

#TebarVirusLiterasi


Tujuan utama dibangunnya Nusa Pustaka adalah agar buku-buku dapat dimanfaatkan secara maksimal, mudah diakses masyarakat yang ingin membaca dan meminjam buku setiap saat.

#Bisa membaca dimana saja


Nusa Pustaka itu menampung sedikitnya 6.000 buku bacaan, baik buku sastra, komik, budaya, maritim, maupun buku ilmu pengetahuan umum. Anak-anak bisa membaca di mana saja dengan santai, bahkan di luar perpustakaan.

#Dukungan sahabat


Motivator dan penulis Maman Suherman setia menemani perjuangan Ridwan. Ketika Maman ikut berlayar bersama perahu pustaka, perahu terbalik di lautan pada 13 Maret 2016, tepat pada hari peresmian Nusa Pustaka. Hampir semua warga di pantai bergegas berupaya menyelamatkan mereka dan buku-buku yang karam ke laut.

#Minat besar


Masyarakat setempat khususnya anak-anak amat antusias menyambut Nusa Pustaka. Bahkan ketika masih persiapan pembangunannya pun beberapa pelajar setiap hari sudah mampir ke Nusa Pustaka untuk bisa membaca buku.

#Dukungan dari manca negara


David Van Reybrouck, sejarawan dari Belgia memberikan dukungan bagi inisiatif ini. Penulis karya sastra non-fiksi, novel, puisi dan drama ini berkunjung ke Nusa Pustaka dan berdiskusi dengan masyarakat setempat.

#Andalkan berbagai armada demi ilmu pengetahuan


Armada Pustaka selain memiliki Perahu Pustaka, juga menyebar buku lewat Motor Pustaka, Sepeda Pustaka, Bendi Pustaka dan Becak Pustaka, yang menjadi tonggak gerakan literasi bersama.

#Bendi pustaka


Delman atau bendi lazimnya juga disulap oleh para pegiat literasi ini menjadi perpustakaan keliling di Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

#Sang sais Bendi Pustaka


Rahmat Muchtar, keua dari kiri, adalah sais Bendi Pustaka. Ia berfoto bersama Maman dan Ridwan.

Labels:

Thursday, September 29, 2016

Ikatan Pustakawan Indonesia Dukung Wujudkan Way Kanan Membaca

Ikatan Pustakawan Indonesia Dukung Wujudkan Way Kanan Membaca.


Dunia Perpustakaan | Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Provinsi Lampung mendukung untuk mewujudkan Way Kanan membaca. Sebab membaca merupakan aspek terpenting dalam dunia pendidikan, sehingga penanaman budaya baca harus terus ditingkatkan guna menuju masyarakat informasi (information society).

"Membaca adalah aspek penting dalam pembelajaran. Oleh karena itu, perlu disosialisasikan dan dikampanyekan di masyarakat, khususnya kalangan mahasiswa. Untuk itu, IPI sangat mendukung program bapak Bupati guna mewujudkan Way Kanan membaca," kata Ketua Pengurus Daerah (PD) IPI Provinsi Lampung, Eni Amaliah, dalam seminar Pendidikan The Power of Reading di kampus STAI Ma’arif, Baradatu, Way Kanan, Senin (26/9/2016).

Seminar yang diikuti 100 peserta dari berbagai perguruan tinggi di kabupaten tersebut merupakan roadshow program IPI peduli di 15 kabupaten/kota di Lampung. Selanjutnya, Eni menjelaskan dengan membangun budaya baca di lingkungan perguruan akan terwujud masyarakat Indonesia yang berwawasan dan tanggap akan perubahan serta berpengetahuan guna meningkatkan intelektualitas mahasiswa.

Hal senada disampaikan Bupati Kabupaten Way Kanan Raden Adipati Surya, dalam sambutannya yang diwakili Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Way Kanan Musadi Muharam. Menurut dia, membaca merupakan tradisi akademis yang harus dilestarikan mahasiswa.

Oleh karena itu, budaya membaca sebagai karakter yang dimiliki bangsa Indonesia perlu ditumbuhkankembangkan untuk mewujudkan masyarakat Way Kanan yang lebih maju dan berdaya saing di 2021.

Sementara Ketua IPI Kabupaten Way Kanan, Eko Prasetyo, mengatakan kegiatan program IPI peduli ini adalah kesekiankalinya dilakukan di Kabupaten Way Kanan dengan bekerja sama dengan PD IPI Provinsi Lampung.

Dikutip dari Lampost.co, [28/09/16]. "Kami targetkan program ini menyebar hingga di 14 kecamatan, sehingga seluruh masyarakat Kabupaten Way Kanan mendapatkan informasi secara merata dan bersama-sama mendukung program bupati untuk mewujudkan Way Kanan membaca," ujar dia.

Seminar pendidikan yang mengusung tema Maksimalisasi pemanfaatan perpustakaan sebagai sumber informasi untuk membangun karakter bangsa melalui kebiasaan gemar membaca ini menghadirkan narasumber Ketua DPRD Kabupaten Way Kanan Nikman Karim dan Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah (KPAD) Way Kanan Musadi Muharram.

Labels: