<data:blog.pageTitle/>

This Page

has moved to a new address:

http://duniaperpustakaan.com

Sorry for the inconvenience…

Redirection provided by Blogger to WordPress Migration Service
Dunia Perpustakaan | Informasi Lengkap Seputar Dunia Perpustakaan

Thursday, July 27, 2017

Kisah Perjuangan Dedek: Pejuang Literasi, Bikin Perpustakaan di Garasihingga Dikucilkan

Dunia Perpustakaan | Ada banyak kisah inspirasi terkait pejuang literasi di Indonesia. Diantara mereka ada yang mungkin bernasib baik karena sudah diliput media sehingga banyak pihak mengenalnya.

Namun masih banyak para pejuang literasi di negeri ini yang terkadang berjuang dalam "sunyi" tapi mereka terus berjuang untuk terus kampanyekan minat baca di daerah mereka masing-masing.

Namun semuanya sama-sama hebat dan luar biasa, mau diliput media ataupun tidak, mereka adalah pejuang dan pahlawan di bidang literasi.

Salah satu kisah inspirasi yang kami hadirkan kali ini adalah Dedek, pendiri dari TBM Ar-Rasyd di Baitussalam, Aceh Besar.

Kisah perjuanganya sudah diliput di beebrapa media, dan terbaru kami baca di kompas.com yang dipublikasikan 26/7/2017.

Untuk anda yang belum sempat membacanya, berikut ini kami lampirkan kisahnya, semoga bisa menginspirasi untuk pembaca.

------------------------------------

Udara cukup panas mencapai 35 derajat celcius berdasarkan catatan pengukur suhu. Namun perempuan dengan kostum blazer orange ini seolah tak merasakan panasnya udara. Dia tetap berdiri sambil mengawasi aktivitas sejumlah anak.

“Mereka sedang latihan penyelamatan diri jika bencana gempa disusul tsunami tiba-tiba melanda. Kalau sudah latihan, setidaknya mereka paham apa yang harus dilakukan saat bencana tiba,” jelas Alfiatunnur, pendiri Taman Bacaan Ar-Rasyid, Baitussalam, Aceh Besar.

Perempuan yang akrab disapa Dedek ini mengatakan, TBM Ar-Rasyid tidak hanya menyediakan buku bacaan bagi anak-anak saja, tetapi juga memberikan program kursus gratis, seperti kursus Bahasa Inggris, kursus matematika dan beberapa pelajaran sekolah lainnya.

“Yang mengajar ya relawan kita di sini, dan mereka semua masih mahasiswa dan setiap sore menjadi relawan di TBM sekaligus menjadi guru untuk kegiatan kursus, dan anak-anak di sini sangat senang ikut kursus dan bisa mendapat buku bacaan yang tidak ada di sekolah,” jelas Dedek.

Bagi Dedek, mendirikan TBM adalah cita-citanya sejak lama. Sejak tahun 2000, Dedek sudah aktif menjadi relawan dan bergerak di bidang pendidikan, perempuan dan anak.

“Kita tahu saat itu masyarakat Aceh hidup dalam konflik dan imbas terbesarnya adalah terhadap kehidupan perempuan dan anak, dan lebih miris lagi anak-anak terampas haknya, terutama hak pendidikan," jelasnya.

"Nah, sejak saat itulah kemudian saya bertekad untuk membantu anak dan perempuan di Aceh bersama teman-teman. Kami melakukan apa yang bisa kami lakukan, termasuk mengumpulkan aneka buku dan membagikannya kepada anak-anak di kamp pengungsian dan desa-desa,” kenang Dedek.

Hingga suatu saat, kisah Dedek, dia mendapat kesempatan dan peluang pasca-bencana gempa dan tsunami di Aceh untuk mewujudkan cita-citanya mendirikan sebuah Youth Centre di Aceh, yang di dalamnya terdapat sebuah taman bacaan masyarakat.

“Perjuangan yang panjang dan cukup melelahkan, saya dan beberapa teman berhasil mendirikan sebuah yayasan bernama Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Aceh (Yakesma) dengan perjalanan yang cukup berliku, dan kemudian juga mendirikan TBM,” jelas lulusan program beasiswa fullbright Amerika Serikat ini.

Energi Dedek sempat terkuras habis dalam proses pendirian Yayasan Yakesma, namun mendapat dukungan moral yang kuat dari komunitas Taman Bacaan Masyarakat Indonesia (TBMI).

Menyulap garasi

Pada tahun 2012, Dedek pun berhasil menyulap sebuah garasi di komplek Yakesma menjadi taman bacaan masyarakat.

“Perjalanan TBM tak semulus perkiraan saya. Meski dapat dukungan dari masyarakat sekitar, namun tidak sedikit juga yang menentang sehingga melarang anak-anak mereka datang ke TBM untuk menikmati buku," kenang Dedek.

"Belum lagi pengucilan yang kami terima dari pihak pemerintah, terutama dinas pendidikan yang tidak mengakui keberadaan TBM Ar-Rasyid, tapi saya tidak menyerah begitu saja. Bahkan kita sempat di-blacklist. Tapi justru dengan situasi seperti ini semakin membuat saya untuk terus bekerja keras agar bisa mandiri dan survive,” ungkapnya.

Gedung Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Ar-Rasyiid Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar.

Gedung Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Ar-Rasyiid Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar.(Daspriani Y Zamzami)

Di Yakesma sendiri, kata Dedek, mereka juga menampung anak-anak yang kurang mampu untuk bisa melanjutkan pendidikan.

“Ada 30-an anak di sini, dan sebagian mereka itulah yang kita berdayakan untuk menjadi relawan di TBM, khususnya yang sudah mahasiswa. Hal ini bertujuan agar mereka bisa mengaplikasikan semua ilmu yang diterima di kampus dalam kehidupan sehari-hari,” sebut pengajar di Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh ini.

Para relawan dilatih dan dididik dengan intens, untuk tidak hanya bisa berinteraksi dengan anak-anak yang berkunjung ke TBM, tetapi juga harus memiliki kreativitas yang bisa dikembangkan dan bermanfaat bagi diri mereka sendiri dan orang lain.

“Salah satunya adalah kreativitas mereka yang dituangkan dalam kisah singkat perjalanan TBM Ar-Rasyid, yang kemudian diikutkan dalam kompetisi GRCC Gramedia, dan alhamdulillah TBM ini terpilih menjadi terbaik di regional Sumatera. Selain itu, para relawan ini juga sudah berkesempatan melawat ke luar negeri untuk mengunjukkan kemampuan mereka seperti menampilkan kreasi seni. Pastinya ini sebuah kebanggaan bagi mereka,” katanya.

Dengan kreativitas para relawan ini, kini TBM Ar-Rasyid pun sudah mendapat tempat di hati masyarakat sekitar, bahkan juga di lingkungan pemerintah, terutama Dinas Pendidikan.

“Alhamdulillah kini TBM sudah terus dilirik untuk bisa menjadi mitra terutama bagi banyak pihak bahkan pemerintahan. Kita mulai banyak kerja sama, satu di antaranya adalah melakukan kegiatan program Gerakan Membaca Indonesia (GMI) yang akan dilakukan awal Agustus mendatang. Ini tak terlepas dari kiprah para relawan yang ada di TBM,” jelas Dedek, yang ditemui Kompas.com, Selasa (25/7/2017).

Ita, seorang relawan di TBM Ar-Rasyid mengaku mendapat kesempatan luar biasa bisa berada di lingkungan TBM Ar-Rasyid.

“Saya tidak pernah bermimpi bisa mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan dan kemudian bisa mengabdikan ilmu saya di TBM dengan mengajarkan anak-anak di sini,” ungkapnya.

Berada di Yakesma sejak tahun 2012, Ita mengaku sedikit banyaknya juga mengalami asam garamnya perjalanan TBM Ar-Rasyid.

“Awalnya kami hanya memiliki jumlah buku yang sedikit, namun kini sudah mencapai puluhan ribu. Bahkan buku-buku di TBM juga membantu saya dalam pendidikan,” ujar Ita.

Pojok baca

Ketua TBM Ar-Rasyid Periode 2017, Eni Darlia, menyebutkan, demi mengembangkan sayap TBM ke tengah masyarakat, TBM Ar-Rasyid pun membentuk empat pojok baca di empat dusun di sekitarnya. Masing-masing Dusun Lambateung, Dusun Rekompak, Dusun Keude Aron dan Dusun Gampong Meurah.

“Di sini kami bertujuan untuk melibatkan masyarakat sebagai pengelola TBM sehingga keberadaan TBM semakin dekat dengan masyarakat, dan ini juga sekaligus bertujuan untuk meningkatkan kebiasaan warga untuk membaca. Jadi ada alasan untuk orangtua mengarahkan anak-anaknya untuk memilih TBM sebagai tempat bermain dan belajar,” jelas Eni.

Para Relawan TBM Ar-Rasyid dan anak-anak pengunjung TBM

Para Relawan TBM Ar-Rasyid dan anak-anak pengunjung TBM(Daspriani Y Zamzami)


Bagi Eni, menjadi relawan di TBM adalah sebuah tantangan yang menyenangkan. Setiap hari dia dituntut untuk bisa selalu menciptakan suasana baru yang penuh inovasi agar masyarakat bisa menjadikan membaca sebagai sebuah kebiasaan.

“Pojok-pojok baca tidak hanya kami tempatkan di tempat-tempat pengajian Al Quran dimana anak-anak beraktivitas sore hari, tetapi juga satu lemari buku kami tempatkan di sebuah warung kopi. Jadi jika ada warga yang duduk sambil ngopi, mereka bisa menikmati bacaan yang bisa menambah wawasan mereka,” sebut Eni.

Bahkan, kata Eni, ada juga satu pojok baca yang pengelolaannya dipercayakan kepada kelompok ibu-ibu pengajian, sehingga para ibu bisa mengarahkan anak-anak mereka untuk menjadikan buku sebagai teman bermain sehari-hari.

“Inovasi-inovasi seperti ini yang setiap hari kita kembangkan agar TBM bisa menjadi kebutuhan di masyarakat dan kreativitas serta inovasi ini selalu kita coba gali dalam setiap diskusi dan evaluasi dari para relawan di gedung TBM yang sebelumnya hanya sebuah garasi ini,” ungkap perempuan yang murah senyum ini.

Eni pun kemudian melanjutkan kegiatannya memandu anak-anak pengunjung tetap TBM melakukan simulasi penyelamatan diri saat menghadapi bencana gempa dan tsunami.

Labels: , ,

Thursday, August 25, 2016

Belajar dari Gus Dur dan Kekuatan "Membacanya"

Dunia Perpustakaan | Greg Barton penulis Gusdur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid dalam beberapa bagian bukunya menuliskan tentang kegandrungan Gus Dur membaca buku. Melalui catatan Barton kita dapat belajar betapa gemar dan cintanya Gus Dur terhadap buku.

Dikutip dari nu.or.id, [24/08/16], Kekuatan membaca Gus Dur seharusnya menginspirasi setiap santri di pesantren, para siswa secara umum yang sedang berjuang menggapai pengetahuan.

Gus Dur membaca buku jauh lebih banyak dibandingkan dengan sebayanya. Rumahnya penuh dengan buku. Apalagi Gus Dur berasal dari keluarga pencinta ilmu dan ahli ilmu. sebagai cucu dari KH Hasyim Asyari dan anak dari Kiai Wahid Hasyim tak mengherankan jika Gus Dur sudah sangat senang membaca di usianya yang sanga belia.

Gus Dur mungkin dianggaap oleh sebagian orang sebagai tokoh yang kontroversial. Namun satu yang tak mungkin kontroversi adalah kebiasaan baik Gus Dur yang dikenal sangat SUKA MEMBACA BUKU.
Ketika kuliah di Universitas Al Azhar salah satu tempat kegemarannya adalah perpustakaan. Ia terbiasa membaca di perpustakaan Universitas Amerika, Universitas Kairo, atau di perpustakaan Perancis.

Gus Dur terbiasa membaca di mana saja, apa saja, dan di mana saja, tanpa memilih tempat. Di rumah maupun di tempat menunggu bus ia membaca. Tak ada buku, potongan koranpun ia baca.

Bacaannya luas, tak sekedar kajian keagamaan. Ia membaca semua karya William Faulkner, novel-novel Ernest Hemingway, puisi Edgar Allan Poe dan John Done, Andre Gide, Kafka, Tolstoy, dan Pushkin. Ia juga membaca karya Marx dan Lenin.

Ia senang berdiskusi dengan mahasiswa dan kaum cendikiawan di kedai-kedai kopi Kota Kairo. Kedai-kedai kopi baginya merupakan sekolah untuk menyempurnakan pengetahuan Bahasa Arab juga debat-debat intelektualnya.

Ketika melanjutkan kuliahnya di Baghdad, kecintaannya terhadap buku semakin terakomodir. Apalagi di Universitas Baghdad mahasiswa diharapkan untuk berpikir kritis dan banyak membaca.

Semangat membaca Gus Dur memang luar biasa. Ia membaca bahkan sampai larut malam. Sehingga seringkali ia harus terkantuk-kantuk ketika kuliah. Di tengah padatnya aktivitas ia masih mengatur jadwal membacanya. Setiap sore ia sudah di perpustakaan universitas untuk membaca.

Selain pembaca yang tangguh, Gus Dur juga merupakan penulis yang sangat produktif. Sejak mahasiswa ia menulis esai untuk beragam majalah maupun surat kabar. Karya-karya tersebar luas dan dapat kita nikmati hingga saat ini.

Belajar dari Gus Dur

Kita tentu saja dapat banyak belajar dari seorang Gus Dur. Keteguhannya mencintai bangsa ini, membela mereka yang terpinggirkan tentu tak usah diragukan lagi. Aspek yang sering dilupakan adalah bagaimana kemampuan Gus Dur dalam membaca dan mengkaji beragam perspektif keilmuan. Membaca sebanyak-banyaknya buku yang tentu saja akan membuka kekayaan perspektif dalam memandang persoalan.

Keluwesan berpikirnya didukung oleh tradisi kuatnya membaca beragam buku. Ketika mahasiswa ia tak pernah memikirkan berapa uang yang yang ia miliki. Ia selalu memiliki uang yang cukup. Apalagi ia sudah menjadi salah satu kolumnis yang karyanya tersebar di berbagi media. Ia juga sudah aktif bekerja untuk kedutaan ataupun lembaga lainnya yang memanfaatkan kemampuan berbahasa arabnya yang sangat bagus.

Seperti yang dikisahkan oleh Barton, yang ada di benak Gus Dur adalah bagaimana ia memiliki uang untuk membeli buku dan menonton film. Lucunya, untuk mengelola keuangan ia serahkan kepada sahabat karibnya, Mahfudz Ridwan, mahasiswa asal Salatiga. Bahkan uang tersebut kadang digunakan Mahfudz untuk membantu mahasiwa lain yang kekurangan dana. Ia tak pernah memperdulikan uang, baginya yang penting ketika hendak membeli buku uang tersebut harus ada.

Gus Dur juga menunjukan kepada kita betapa ia memiliki pikiran terbuka dan ide-ide besar karena gemarnya ia melahap segala jenis bacaan. Seperti tokoh pendiri bangsa, Gus Dur sangat haus terhadap bahan bacaan.

Catatan menarik diungkap Najwa Shihab dalam tulisannya di Kompas (18/8), Menikam Kolonialisme dan Merdeka dengan Buku. Pada salah satu bagian ia menulis bahwa para tokoh bangsa merupakan orang-orang dengan pikiran terbuka dengan kepala penuh ide-ide besar yang membaca karya-karya besar dari berbagai belahan dunia.

Catatan ini patut direnungkan bersama. Apalagi saat ini kita cenderung malas untuk membaca. Sehingga mudah untuk menuduh dan menghakimi mereka yang berbeda ideologi, keyakinan keagamaan, madzhab, kelas sosial, bahkan beda jamaah pengajian. Malas membaca akut menjaringi beragam kalangan masyarakat.

Kita lebih gemar membaca status, cuitan, broadcast di media sosial dibanding membaca Al-Quran, kitab-kita karya ulama, maupun buku-buku karya penulis-penulis besar. Kita gemar menulis pesan-pesan penuh kebencian dibanding menuliskan kisah-kisah inspiratif penuh makna. Juga menyebarkan pesan-pesan penuh hasutan tanpa berpikir dan menakar serta mencari tahu kebenaraan akan pesan tersebut.

Kita malas mendiskusikan dan mendialogkan buku-buku tebal karena dianggap tak praktis dan membuang waktu saja. Mendiskusikan beragam hal dengan basis keyakinan diri semata bukan pada kematangan berpikir hasil membaca. Padahal ayat Al-Quran pertama yang turun memerintahkan kita untuk iqra, baca!

Tak heran jika Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kemudian mendeklarasikan Gerakan Literasi Sekolah untuk membudayakan tradisi membaca dan menulis.  Dari data UNESCO tahun 2012 misalnya menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001 yang berarti dari setiap 1.000 penduduk hanya satu orang yang berminat membaca. Data tersebut sungguh memprihatinkan

Melalui Gus Dur kita belajar agar tak selalu puas membaca dan belajar. Gus Dur mengajarkan kepada kita betapa pentingnya seseorang harus aktif membaca. Membaca beragam genre buku, beragam perspektif, dan belajar dari kehidupan. Tidak hanya terpaku pada ruang-ruang kelas yang formil. Gus Dur, seorang otodidak yang memberikan banyak pembelajaran bagi kita agar terus memperbahrui pemahaman atas beragam hal, tanpa pernah berhenti

Labels: ,

Thursday, August 18, 2016

Eko Cahyono, Penyulut Lentera Kecintaan Terhadap Buku

Dunia Perpustakaan | Hasil penelitian yang dilakukan oleh UNESCO pada tahun 2014 yang menyatakan bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah yaitu hanya pada angka 0,01 persen. Rendahnya minat baca yang dibarengi dengan ekonomi masyarakat yang masih belum stabil membuat membaca menjadi sebuah hal mewah yang dimiliki masyarakat.

Namun hasil yang mengenaskan mengenai berbagai angka minat serta keterampilan baca yang rendah di Indonesia ini ditampik oleh #PejuangMerdeka kita, Eko Cahyono.

"Sebenarnya minat baca orang Indonesia itu sangat tinggi, yang kurang itu hanya bahan bacaannya saja," jelas Eko.

"Lha bagaimana mau membaca kalau secara ekonomi mereka masih kesulitan untuk makan serta pemerintah belum menyediakan buku-buku yang mudah diakses untuk dibaca," sambungnya.

Dikutip dari malang.merdeka.com, [17/08/16]. Eko Cahyono merupakan salah satu pejuang literasi di Indonesia, dari perpustakaannya di desa Sukopuro, kecamatan Jabung dia aktif mendengungkan semangat cinta terhadap buku hingga ke berbagai daerah lain. Tak pelak berbagai penghargaan pernah diraih oleh pendiri Perpustakaan Anak Bangsa tersebut.

Saat ini, perpustakaan yang telah dirintisnya sejak 1998 itu telah memiliki sebuah ruang permanen dengan koleksi sekitar 57.000 buku yang hampir seluruhnya didapat melalui sumbangan. Ruang perpustakaannya juga seakan menjadi sebuah surga tersembunyi bagi penggemar buku untuk menghanyutkan diri mencari berbagai bahan bacaan dan bertukar ide.

Kecintaan Eko yang luar biasa terhadap buku tidak hanya terjadi dalam waktu satu malam saja. Pria kelahiran 28 maret 1980 ini mengakui telah mencintai buku sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Di masa sekolah ini lah, hampir setiap waktu istirahat pelajaran selalu dimanfaatkannya untuk membaca di perpustakaan.

Bahkan dia dapat menjelaskan bacaan pertama yang menggiringnya hingga menjadi cinta mati terhadap buku hingga saat ini.


Eko Cahyono saat Perpustakaanya masih di samping makam jauh sebelum perpustakaanya sebesar sperti sekaraang ini.
"Saya ingat waktu SD dulu yang pertama saya baca itu adalah majalah Intisari. Jadi waktu buka pintu perpustakaan, pintu itu menyenggol rak buku dan jatuhlah majalah Intisari yang pertama saya baca waktu itu," ujarnya.

Ketertarikan itu terbentuk berkat berbagai kata-kata mutiara yang ada di majalah Intisari. berawal dari situ lah, Eko mulai gemar membaca dan terus dilakukannya semasa SMP dan SMA. Selepas lulus SMA, dengan bermodal setumpuk koran bekas dan 400 majalah bekas, Eko mulai mendirikan perpustakaannya sendiri.

"Waktu itu perpustakaan saya masih ngemper, jadi koran dan majalah bekas itu saya pajang mulai pagi hari dan kalau sudah mulai sore saya bereskan," jelasnya.

Jauhnya jarak rumah Eko ke pusat kota Malang untuk mendapat sumber bacaan merupakan alasannya membuat perpustakaan di kampungnya ini. Majalah bekas yang menjadi modal awalnya membuka perpustakaan merupakan koleksi pribadinya yang didapat dengan membeli ke penjual buku bekas.

Setelah itu dia mulai berusaha untuk memperbanyak koleksi buku-bukunya. Cara yang dipilihnya adalah mengetuk dari satu rumah ke rumah lain untuk meminta buku. Hingga saat ini Eko mengaku telah mendatangi sekitar 1.700 rumah dan kini dia tidak perlu datang ke rumah-rumah untuk meminta karena sudah ada penyumbang buku yang terus menerus mengiriminya.

Seluruh koleksi buku yang dimiliki Eko itu dianggapnya hanyalah sebagai sebuah titipan dari pemilik buku sebenarnya. Dia hanya memposisikan dirinya sebagai makelar yang bertindak menyalurkan satu buku kepada orang lain yang lebih membutuhkannya.

Untuk menjalankan seluruh hal tersebut, Eko mengaku hanya bermodal kesenangan semata untuk menjalaninya.

"Saya buat perpustakaan ini ya hanya berdasar kesenangan saja, tidak ada visi, misi dan tujuan yang harus dipatok," ungkapnya.

Itu lah yang membuat Eko terus menjalaninya dengan senang dan merasa tidak memiliki beban. Walaupun berada di lokasi yang cukup jauh dari jalan besar, perpustakaan Eko memiliki cukup banyak anggota yang tidak hanya dari wilayah Malang saja namun hingga Kalimantan dan Jakarta. Hingga saat ini, terdapat 17.042 nama yang tercatat sebagai anggota dari Perpustakaan Anak Bangsa.

Hal yang unik dari perpustakaan ini adalah karena hubungan yang saling percaya serta bentuk perpustakaan yang tidak kaku. Tidak ada syarat berupa jaminan atau uang pendaftaran untuk dapat meminjam buku. Selain itu juga tidak ada batasan waktu dan jumlah untuk peminjaman buku. Selain itu, Eko juga tidak selalu mengawasi peminjaman di perpustakaannya, peminjaman buku dapat dilakukan secara mandiri dengan mencatat buku yang dipinjam.

Hal-hal tersebut tentu saja tidak dapat dilakukan terhadap perpustakaan lain yang memiliki berbagai batasan. Bentuk yang bebas ini sengaja dilakukan Eko agar masyarakat senang membaca dan tidak terbebani dengan berbagai hal-hal administratif yang dianggapnya menyebalkan.

Labels: ,

Saturday, August 6, 2016

Kisah Luar Biasa Abah Uju dan Ontel Pustakanya, Keliling Pelosok Purwakarta untuk Tumbuhkan Generasi Membaca

Dunia Perpustakaan | Hal sederhana namun sangat bermanfaat untuk kita semua, inilah yang yang dilakukan Abah Uju kakek usia 68 tahun yang sejak 1988 mengayuh sepeda ontel dengan buku di atasnya, rutinitas mengelilingi pelosok Purwakarta dengan sepeda ontel sungguh luar biasa.

Dengan usia yang tidak muda lagi kakek ini rela berkeliling sambil membawa buku bacaan, demi mewujudkan masyarakat yang lebih baik dan tumbuhkan generasi membaca, kakek ini patut mendapat julukan sebagai pahlawan literasi.

Kisahnya dimulai dari Desa Gunung Hejo Kecamatan Darangdan, Purwakarta di pelosok perkampungan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bandung Barat. Dia selalu menyempatkan berhenti di setiap desa lalu menawarkan buku bacaan kepada masyarakat termasuk anak-anak desa.

Abah Uju adalah pensiunan salah satu perusahaan BUMN yang bergerak di bidang perkebunan. Semasa bekerja dia kerap juga mengelilingi desa membawa buku di atas sepeda ontelnya, tak salah bila sepedanya disebut ‘Ontel Pustaka’.

Dikutip dari sumber purwakartapost.co.id, [05/08/16]. “Setelah abah pensiun, setiap pagi sudah bisa berkeliling, dulu abah baru bisa keliling bawa sepeda dan buku dari jam 2 siang sampai jam 5 sore. Sehari biasanya bisa sampai ke 10 desa. Minat baca masyarakat terutama anak-anak harus terus dikawal dengan penyediaan buku. Sayangnya, literatur bukunya masih sangat kurang,” jelas kakek dengan dua anak ini.

Uniknya setiap kali ada yang meminjam buku tidak semua buku dikembalikan karena ada saja peminjam yang menyimpannya atau lupa. Tapi baginya itu bukanlah suatu masalah yang menghambat dirinya tetap keliling membawa buku di atas sepeda ontel.

“Abah mah ikhlas saja karena yang terpenting tujuan abah untuk menjadikan masyarakat gemar membaca dapat tercapai. Pembaca buku-buku yang Abah bawa dapat mencapai 560 orang dengan satu koordinator di masing-masing desa,” paparnya.

Kecintaannya akan buku dan ilmu pengetahuan menghantarkannya untuk mengisi salah satu ruang rumah menjadi perpustakaan mini. Dari perpustakaan mini ini banyak dukungan mengalir termasuk dari Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi. Bupati Dedi bahkan sempat memberi bantuan agar Bah Uju berangkat umroh.

“Mulai banyak perhatian berupa sumbangan buku. Lalu Abah buat ruangan di rumah Abah menjadi perpustakaan mini. Pemerintah, swasta, mahasiswa bahkan masyarakat banyak yang menyumbang buku. Koleksi buku dan majalah milik abah sekarang sudah mencapai 15.438 buah,” papar Bah Uju.

Abah Uju dan perpustakaan sepedanya | gambar: detikNews
Saking senangnya melihat keikhlasan Bah Uju, Kang Dedi sapaan Bupati Purwakarta pada tahun ini mengangkat Bah Uju sebagai pegawai tenaga harian lepas (THL) dengan honor Rp 2,5 juta setiap bulannya. Tugas Bah Uju setelah diangkat sebagai THL adalah mengajarkan masyarakat cara membuat seruling bambu di halaman Pendopo Pemkab Purwakarta. Tugas ini karena Bah Uju ternyata mahir membuat seruling bambu.

“Abah diminta oleh Pak Bupati untuk mengajarkan cara membuat suling di pendopo. Kata Pak Bupati ada honornya. Abah mah Alhamdulillah saja dengan catatan Abah tidak bisa meninggalkan tugas Abah,” timpal Bah Uju.

Niatan besaran kedepannya Pemerintah Kabupaten Purwakarta akan membangun ‘Saung Baca’ dan menginstruksikan kepada seluruh pegawai agar memberikan sumbangan berupa buku atau majalah untuk menambah literatur di ‘Saung Baca’ yang akan dikelola oleh Bah Uju.

“Kita bangunkan ‘Saung Baca’ dan tambah koleksi bukunya. Keikhlasan pengabdian Abah Uju harus diapresiasi oleh seluruh masyarakat Purwakarta,” pungkas Kang Dedi saat mengunjungi perpustakaan mini milik Bah Uju.

Labels: ,

Saturday, July 30, 2016

Kepala Desa ini Kampanyekan Gemar Membaca, dengan Dirikan Rumah Baca

Dunia Perpustakaan | Keinginan Barno selaku Kepala Desa Bringinan, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo untuk mencerdaskan masyarakat layak mendapat dukungan semua pihak. Ditengah sosial ekonomi masyarakat Desa Bringinan yang serba pas-pasan dan sebagian besar mata pencaharian warganya yang menjadi petani, Barno mempunyai inisiatif mendirikan rumah baca.

Tekad Barno tersebut akhirnya tercapai pada awal bulan puasa Ramadhan kemarin yang merealisasikan pendirian rumah baca.

“Alhamdulillah kami bisa mewujudkan impian mendirikan rumah baca bagi segala usia, mulai anak-anak hingga orang dewasa,” kata Barno, Dikutip dari jurnalpost.com [07/16].

Dia menambahkan rumah baca tersebut dibangun di atas pekarangan miliknya dan berasal dari biaya sendiri.

“Awal menjabat sebagai kades kami mempunyai cita-cita mendirikan rumah baca agar anak-anak di desa kami tidak hanya sekedar bermain dan mengaji dan nyatanya tahun ini bisa kami wujudkan,” ujar mantan TKI Malaysia bangga.

Disisi lain, Barno juga prihatin ternyata minat baca masyarakat sangat berkurang.

“Kami sangat berharap dengan rumah baca ini bisa ikut mencerdaskan bangsa,” paparnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan dengan adanya rumah baca di Desa Bringinan, masyarakatnya bisa proaktif dan komunikatif untuk menambah ilmu pengetahuan dari membaca.

“Walau pada awalnya kami ingin menyasar kalangan anak tapi pada kenyataan banyak orang tua yang minat untuk datang dan membaca,” tambahnya.

Disisi lain untuk menghilangkan anggapan banyak orang yang beranggapan bahwa Desa Bringinan adalah desa tertinggal.

“Buktinya sekarang desa kami bisa sejajar dengan desa lainnya,” imbuhnya.

Barno juga berharap dengan adanya rumah baca dapat meningkatkan ilmu pengalaman pengetahuan masyarakat desa.

“Selain sebagai rumah baca, di tempat ini juga kami jadikan rumah aspirasi dan rumah diskusi bagi semua warga Desa Bringinan,” terangnya.

Suasana Perpustakaan Desa Bringinan Jambon Ponorogo | gambar: jurnalpost.com
Pihaknya mempersilahkan warga melakukan diskusi atau musyawarah serta menyampaikan aspirasi tentang apa saja demi kemajuan desa.

Hingga kini rumah baca yang dia kelola baru memiliki sekitar 500 judul buku dari berbagai bidang ilmu, mulai buku sejarah, pertanian, kesehatan, cerita, komik dan lainnya.

“Kami sangat berharap kepada semua pihak untuk ikut berpartisipasi menambah koleksi buku di rumah baca ini,” ringkasnya.

Labels: ,

Monday, July 25, 2016

Galeri Kreatif Wadah Edukasi Bagi Anak-anak di Desa Bantur

Dunia Perpustakaan | Muzaki, pemuda asal Desa Rejoyoso, Bantur, Kabupaten Malang, ini getol menggerakkan pendidikan di desanya. Dia menjadikan rumahnya sebagai tempat untuk belajar anak-anak. Selain itu, dia mendirikan 9 perpustakaan dan beberapa komunitas sosial.

"Saya percaya anak-anak di kampung nggak kalah dengan anak kota.’’ Itulah salah satu kalimat yang terdengar di pertemuan Forum Komunikasi Taman Baca Masyarakat (FKTBM) Malang Raya di Perpustakaan Anak Bangsa, Jabung, dua bulan lalu. Muzaki adalah pelopor gerakan edukasi melalui Komunitas Galeri Kreatif di Kecamatan Bantur yang dia dirikan pada 2011.

Muzaki menjelaskan, Galeri Kreatif merupakan rumah singgah yang berada di Dusun Rejoyoso RT 37, RW 05, Desa Rejoyoso, Kecamatan Bantur. Forum itu merupakan wadah edukasi bagi anak-anak di desa Bantur untuk tumbuh dan berkembang dalam bidang apa pun. Misalnya, pengembangan diri, keterampilan, konsultasi pendidikan, hingga akar tumbuhnya berbagai macam komunitas dan sembilan TBM di Bantur.

Alumnus SMK Assalam Bantur tersebut menyatakan, ide mendirikan Galeri Kreatif itu bermula dari lingkungan anak-anak TKI di desanya. Menurut dia, pendidikan anak-anak TKI kurang terurus. Karena itu, dia mendedikasikan diri dengan cara memberikan perhatian yang lebih untuk mereka.

Menurut Muzaki, di Malang Selatan, memang bukan hal aneh jika beberapa orang tua terpaksa harus bekerja ke luar negeri untuk mengadu nasib. Sebab, perekonomian di sana memang tergolong sulit. Mayoritas anak di sana tumbuh dan besar tanpa didampingi orang tua.

Selain itu, ekonomi yang sulit membuat kondisi semakin runyam. Itulah alasan yang membuat Muzaki rela terjun langsung untuk membuat perubahan dengan cara mendirikan Galeri Kreatif. Pemuda yang lahir pada 25 Desember 1990 tersebut mengaku sempat mengalami masa sulit.

Berawal dari kisah hidup yang sulit mendapatkan buku untuk dibaca, Muzaki harus berkunjung ke Masjid Kepanjen dulu untuk meminjam.

’’Saat itu saya masih SMK. Bersama sahabat saya, Ika Puji Astuti, kami berburu buku dengan jarak hampir 40 km,’’ kata pria yang mengabdi di Yayasan Assalam, Bantur. Selain itu, dia menyisihkan uang saku untuk membeli buku-buku favoritnya.

Anak dari pasangan Sayedi dan Khotimah itu mengungkapkan, dirinya berasal dari keluarga yang sederhana. Orang tuanya bekerja sebagai petani jagung dan tebu yang hasilnya tidak seberapa. Kondisi tersebut menuntut Muzaki untuk mandiri. Meski lahir di desa, semangat dedikasi sosialnya benar-benar patut diacungi jempol.

Muzaki yang getol menggerakkan pendidikan di kawasan Malang selatan | gambar: Radar Malang
’’Setelah lulus SMK, impian saya untuk membantu anak-anak itu timbul,’’ ungkapnya.

Dikutip dari jawapos.com, [24/07/16]. Saat itu, Muzaki berpikir untuk membuka TBM terlebih dulu. Sebab, dia mengerahkan SDM anak-anaknya untuk memajukan desa. Muzaki akhirnya merelakan ruang tamu rumahnya di kampung untuk dijadikan perpustakaan.

’’Modal awal masih buku-buku saya, lalu berkembang karena disumbang buku-buku bekas oleh adik-adik di kampong. Buku-buku tersebut kami jual, lalu kami belikan buku-buku bacaan yang baru,’’ ucapnya.

Langkah awal memang tidak mudah. Sebab, anak-anak desa tak langsung tertarik membaca buku. Mereka perlu dirangsang dengan kegiatan yang lain agar minat baca itu keluar. Apalagi, mereka juga lebih tertarik menonton televisi.

Tak kurang akal, Muzaki membuat jebakan Batman dengan cara mengajak mereka ikut perlombaan Agustus seperti lomba sepak bola, memasak, keterampilan, menari, dan melukis. Dari kegiatan tersebut, akhirnya perpustakaan menjadi salah satu tempat kegiatan untuk mengenalkan buku-buku bacaan kepada anak-anak.

Tak hanya itu, kegiatan outbond juga diadakan untuk merangsang daya imajinatif anak-anak. Saat ini ada 84 anggota yang bergabung dalam komunitas itu.

Menurut dia, Galeri Kreatif merupakan wadah atau sarana konsultasi anak-anak yang ingin bersekolah ke kota. ’’Kami siap menemani mereka dalam hal administrasi dan mencarikan beasiswa,’’ ujarnya.

Selain itu, ada sekitar 20 anak yang sudah menempuh pendidikan di salah satu universitas di Malang. ’’Kami ingin memastikan anak-anak desa bisa menempuh pendidikan tinggi dan menapaki masa depan yang sama dengan anak kota,’’ tuturnya.

Pengembangan TBM dan beberapa kegiatan yang lain tentu memerlukan biaya. Untuk membiayai kegiatannya tersebut, saat kuliah, Muzaki sempat berjualan makaroni, snack, dan carang bersama teman-temannya.

’’Dulu kalau pas Jumat, kami kulak jajanan itu ke Turen, lalu dibungkus lagi, kemudian dijual eceran ke toko-toko,’’ ungkap pria yang suka membaca tersebut.

Dari perjuangan tersebut, hingga sekarang, Galeri Kreatif tetap eksis serta mampu melahirkan sejumlah komunitas. Di antaranya, Komunitas Telusur Sejarah yang mengedapankan edukasi sejarah bagi anak-anak dan remaja.

Ada pula Pelopor Pemuda Rejoyoso. Uniknya, dia juga mendirikan Persatuan Tukang Rejoyoso. Persatuan tukang itu, kata Muzaki, sangat mengedepankan profesionalitas. Mereka dijamin bisa mengerjakan pekerjaan membangun rumah dengan baik. Sebab, Muzaki telah memompa semangat para tukang dalam merancang rumah dan mendiskusikan pekerjaan mereka.

Dalam bidang kesehatan, ada Saka Bakti Husada yang merupakan persatuan para bidan. Ada juga komunitas CCD (cosplay-cosplay dewe). Yakni, kelompok sanggar kreatif kegiatan anak-anak yang dididik. Yang tak kalah penting adalah sembilan komunitas TBM yang tersebar di beberapa desa di Bantur.

Untuk misi ke depan, dia bersama teman-temannya ingin mencanangkan Kampung Cerdas Ceria. Yakni, sebuah kampung yang mempunyai banyak TBM dan komunitas sosial serta peduli dengan bakat dan minat anak.

’’Penginnya kayak kampung Inggris di Pare, Kediri. Tak hanya menjadi lahan edukasi, namun juga jadi kampung wisata edukasi di Bantur,’’ tutur pria yang lahir di Bantur tersebut.

Labels: ,

Wednesday, July 20, 2016

Luar Biasa! Tukang Becak Ini Rela Mengajar Gratis untuk Anak Gelandangan

Dunia Perpustakaan | Ratemat Aboe suka mengajari anak-anak tentang pengetahuan sejak dia muda hingga di usianya yang kini mencapai 78 tahun. Dulu dia bercita-cita mencerdaskan anak-anak dan kini terkabul. "Anak pintar itu banyak, tapi pintar belum tentu cerdas," ungkapnya saat ditemui pada Minggu (17/7).

Pria yang akrab disapa Aboe itu masih mengajar anak gelandangan dan tidak mampu. Aboe mengungkapkan, hal itu berawal saat dia masih hidup di Surabaya dan bekerja sebagai petugas transmigran gelandangan Jawa Timur pada 1979-1989.

Dari situ timbul niat untuk mengajari anak-anak tunawisma. Sebab, rata-rata mereka tidak bisa membaca dan menulis. "Anak gelandangan saat itu mulai saya ajari dengan menulis dan membaca A I U E O," jelasnya.

Pria yang pernah bekerja menjadi tukang sapu tersebut mengaku tidak memiliki pendidikan yang tinggi. Dia hanya mengenyam sekolah pamong, yaitu sekolah binaan pemerintah Belanda untuk menanggulangi desa-desa yang masyarakatnya masih buta huruf. "Saya memang bodoh, tapi saya suka membaca," terangnya.

Aboe yang kelahiran Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, mengungkapkan, dia pindah ke Malang pada 1993 setelah menyatakan pensiun dini. Karena tidak mempunyai pekerjaan apa-apa, dia menjadi penarik becak. "Sampai pensiun pun saya tidak naik pangkat dan gaji saya dipotong," katanya.

Aboe biasa mangkal di depan kantor kwartir cabang (kwarcab) pramuka di kawasan Pasar Splendid. Dalam sehari, pendapatannya antara Rp 30 ribu-Rp 50 ribu. Gajinya berkurang banyak karena masyarakat lebih memilih menggunakan motor. "Dulu, biasanya ya bisa dapat Rp 100 ribu per hari," ungkapnya.

Dikutip dari jpnn.com, [19/07/16]. Berawal dari Kwarcab Pramuka Kota Malang, dia mengajari anak-anak gelandangan. Pada 2010 kwarcab mengumpulkan anak gelandangan di seluruh Kota Malang untuk dibina. "Dari situ saya memberikan masukan kepada kwarcab mengenai cara mendidik gelandangan yang benar," jelasnya.

Aktivitas Ratemat Aboe saat mengajar anak-anak secara gratis di rumahnya | gambar: jpnn.com
Setelah dia mengarahkan pihak kwarcab, pada 2012 ada sekumpulan mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang datang untuk membantu mengajari anak-anak gelandangan. Namun, itu hanya bertahan 4 minggu karena ketidakcocokan metode pembelajaran antara anak kampus dan Aboe.

Selang beberapa minggu, datang mahasiswa Universitas Islam Malang (Unisma) untuk mengajari anak-anak gelandangan di rumahnya. Namun, itu pun hanya bertahan satu minggu karena anak-anak menjadi jarang datang untuk belajar di sana.

Semuanya berubah setelah Komunitas DNE (Dulur Never End) datang. Komunitas yang awalnya fokus pada bakti sosial itu menjadi komunitas sosial pendidikan setelah bertemu dengan Aboe. "Berkat DNE, semakin banyak komunitas yang menyumbang tenaga maupun materi untuk pengajaran anak gelandangan ini," katanya.

DNE kini memiliki 40 anggota dan 20 volunteer (sukarelawan). Komunitas tersebut diketuai Gabriel Iryanto. Komunitas yang didirikan sejak 2006 itu bertujuan membuat perpustakaan dan taman baca sebagai penunjang pengajaran anak bimbingan Aboe.

Aboe mengakui, anak-anak bimbingannya sering mendapatkan nilai bagus di sekolah setelah mendapatkan bantuan dari DNE. Selain itu, DNE memberikan nama "Rumah Belajar Kakek Aboe" untuk tempat pengajaran anak gelandangan tersebut.

Saat ini Aboe mengajar 30 anak pengemis, gelandangan, nyepek (pengatur lalu lintas jalanan), dan warga tidak mampu di sekitar rumahnya, Jalan Tanjung Putra Yudha I atau biasa disebut Desa Sukun Sidomulyo.

Ada anak-anak yang sekolah, mulai TK hingga SD kelas VI. Ada pula yang tidak sekolah. "Saya mengajari anak-anak tersebut karena miris saat melihat mereka mengemis di perempatan lampu merah," katanya.

Labels: ,

Wednesday, June 8, 2016

6 Jurus Jitu Menjadi Penulis 'Best Seller' Ala Stephen King

Dunia Perpustakaan | Anda masih malas menulis? Lalu ingin bisa belajar dan memulai menulis?

Jika jawaban anda adalah iya, silahkan lanjutkan membaca tulisan ini sampai tuntas, dan jika memang anda tak punya semangat untuk ingin bisa menulis, sebaiknya anda bisa close tulisan ini.

Seharusnya di era media menulis seperti sekarang ini yang ebgitu mudah, tentunya tak punya alasan untuk tak bisa menulis.

Dengan adanya medsos, anda bisa memanfaatkan medsos untuk belajar memulai menulis. Tak masalah jika harus diawali dengan menulis update status di medsos seperti facebook, twitter, dan yang lainya.

Untuk memulainya juga tak harus lajhngsung panjang-panjang. Semua harus dimulai dari semampunya namun disertai kemauan untuk terus belajar dan belajar.

Untuk menambah semangat anda dalam menulis, berikut ini kami hadirkan sosok inspirasi Stephen King yang semoga saja bisa menambah semangat anda untuk mau menulis.

Sosok Stephen King sudah lama menjadi sumber inspirasi bagi para penulis atau bahkan calon penulis dari seluruh dunia. Sebagai seorang penulis kontemporer dan novelis legendaris, ia telah melahirkan puluhan buku yang memukau banyak orang.

Kesuksesan Stephen terbukti dengan sejumlah karyanya yang diangkat ke layar lebar sebagian karyanya juga pernah diadaptasi untuk beberapa acara tv seri dan film pendek.

Sejumlah karyanya seperti 'In The Tall Grass', 'The Shining', 'Dreamcatcher',  'The Mist' dan 'Carrie' adalah sedikit dari sekian banyak karyanya yang telah difilmkan.

Melansir dari laman resmi Barnes and Nobles & Liputan6.com, Stephen King dipandang sebagai raja novel sepanjang hidupnya ia telah menulis 50 novel yang mendapat sambutan luar biasa dengan 350 juta bukunya terjual laris di seluruh dunia.

Jadi, apa rahasia Stephen King hingga bisa sukses seperti sekarang?

Berikut tips dari sang raja novel untuk siapa saja yang gemar menulis dan ingin karyanya mendunia.

Stephen King | gambar: getty images

#1. Rajin Membaca dan Menulis

Stephen menjelaskan bahwa untuk menjadi seorang penulis, seseorang harus rajin membaca untuk mendapatkan sumber inspirasi dan juga rajin menulis untuk mendapatkan kelihaian dalam merangkai kata-kata.

“Tidak ada jalan pintas. Anda harus luangkan waktu dan energi untuk membaca dan menulis,” katanya seperti dikutip dari The Guardian.

Dalam kurun waktu 41 tahun, Stephen memperkaya ilmunya dengan membaca ratusan buku dan juga menghasilkan puluhan buku karya imajinasinya sendiri.

#2. Jangan Takut Salah

Menurut sang novelis, seseorang tidak harus mendapatkan nilai bagus atau mahir dalam kelas bahasa untuk menjadi seorang penulis. Tujuan utama menulis sebuah karya fiksi bukan untuk mementingkan ketepatan tata bahasa tetapi untuk menceritakan sebuah kisah menarik kepada pembaca yang mampu membuat mereka hanyut seakan mereka adalah pemeran utama dari kisah anda.

#3. Ciptakanlah Sebuah ‘Happy Ending’

Sebagai seorang pemenang sejumlah penghargaan, Stephen menyarankan agar penulis menghasilkan sebuah karya yang bersifat membahagiakan atau kalau tidak pun, setidaknya elemen zero-to-hero atau kepahlawanan ada dalam kisah yang ditulis.

“Menulis itu bukan soal menghasilkan uang, menjadi terkenal, mendapatkan seorang kekasih dan teman. Pada akhirnya, menulis adalah sebuah bentuk upaya untuk membuat hidup sang penulis dan pembaca lebih berarti dan lebih berwarna. Kisah Anda harus bisa membuat orang mau bangkit, mau menjadi lebih baik, mau menyelesaikan sesuatu, dan mau meraih kebahagiaan,” jelasnya seperti dilansir dari Forbes.

Walaupun banyak dari karyanya ber-genre horor, Stephen selalu berusaha menyelipkan makna-makna positif tertentu seperti keberanian dan perjuangan melawan rasa takut. Untuk kisah non-fiksi, ia menilai banyak pembaca gemar dengan kisah yang menonjolkan aksi seorang pahlawan sebagai salah satu karakter utamanya.

#4. Gunakan Imajinasi

Kerap kali seorang penulis ragu untuk memainkan imajinasinya karena dikuasai oleh rasa takut. Takut tidak dihargai, takut dibilang aneh, takut dipandang ‘abnormal’ karena merasa tidak sesuai dengan pandangan masyarakat pada umumnya.

“Rasa ketakutan melahirkan tulisan yang buruk,” kata Stephen.

Sebagai seorang ahli pengarang cerita fiksi, ia menjelaskan bahwa hal-hal di luar kepala atau yang tidak umum justru dianggap normal. Seperti dilansir New York Times, tulisan Stephen King tidak beda jauh dengan karya penulis terkenal di abad 20, Agatha Christie. Keduanya sama-sama berpotensi untuk menggerakkan imajinasi namun perbedaannya ada di genre: Stephen fokus lebih kepada horor dan Agatha kepada cerita misteri.

#5. Jaga Kesejahteraan Lahir dan Batin

Kondisi badan dan akal pikiran yang sehat akan membuahkan hasil yang positif dan produktif. Untuk Stephen, menjaga kesehatan fisik dan hubungan pernikahannya merupakan dua hal penting yang bisa jadi penentu bagus atau tidaknya karya yang ia tulis.

“Kombinasi antara kesehatan yang baik dan hubungan yang stabil mempermudah saya berpikir, bekerja dan berkarya,”terangnya.

#6. Fokus

Pusatkan pikiran kepada satu hal, yaitu kisah yang akan anda ceritakan. Jauhkan telefon genggam, matikan televisi dan apapun yang berpotensi untuk mengganggu konsentrasi. Demikian saran Stephen. Menurutnya, ketenangan memberikan energi kepada seseorang untuk melakukan satu hal dengan efektif dan maksimal.

Labels: ,

Saturday, May 21, 2016

Mengenang Bung Karno, Sosok yang Gemar Membaca

Dunia Perpustakaan | Ir. Soekarno (Bung Karno) sang proklamator dan sekaligus presiden pertama di Indonesia ini adalah sosok pemimpin besar. Putra Sang Fajar ini sangat kharismatik, berwibawa, tegas, nasionalis, hingga revolusioner.

Semangat dan jiwa Nasionalisme tidak pernah pudar saat menorehkan dan memperjuangkan Indonesia hingga menjadi negara yang berdaulat, bahkan menjadi negara yang disegani oleh bangsa lain.

Bung Karno dikenal sebagai salah satu sosok yang menguasai informasi dan pengetahuan demi terwujudnya sebuah negara bangsa, ujar Sekretaris Jenderal Asia Africa Reading Club, Adew Habsta.

Dia mengatakan Bung Karno juga tergolong orang yang membaca segala hal dengan tertib, runut dan berakar pada khazanah budaya bangsanya. Terlebih dalam merumuskan landasan ideal dan pandangan hidup sebuah bangsa.

Hal ini Adew ungkapkan di sela gelaran tadarus buku bertema “Menjadi Bangsa Pembaca” bersama Perpustakaan MPR RI di Bandung, Jumat, seperti dalam keterangan tertulis MPR.

“Dari pengamatan yang mendalam terhadap segala kenyataan zaman saat itu, melalui pembacaan dan pengembaraan yang intens atas teks yang berkutat pada roh kebangsaan, maka dengan sendirinya telah menghimpun pelbagai gagasan pemikiran ihwal yang menjadi landasan kekuatan dalam gerak hidup berbangsa dan bermasyarakat," tutur dia.

"Dan kehadiran Pancasila kiranya menjadi panduan dalam berpola yang lebih terarah. Bung Karno telah menjadi juru bicara paling jitu untuk kebersatuan negeri yang luas ini,” kata Adew. Yang dikutip dari antaranews.com  [20/05/16].

Kegiatan Presiden Sukarno saat sedang meninjau pameran buku | Foto: wiki.archive.id

Menurut dia, menjadi bangsa pembaca dengan kebangkitan nasional mempunyai kaitan yang tentu saja sangat lekat.

“Mana mungkin seseorang akan bangkit, tanpa ada upaya pembacaan atas diri dan lingkungan sekitarnya. Membaca menjadi salah satu cara yg ampuh untuk memetakan diri, menempatkan minat, memunculkan potensi, lebih jauh menumbuhkan motivasi demi prestasi terbaik," kata penggiat literasi dan kepustakaan di kalangan remaja, pemuda dan dewasa itu.

Selain itu, lanjut dia, tanpa membaca, mustahil semua orang akan mengenal dirinya, pun identitas kebangsaannya.

“Tak ada pilihan lain, jika memang hendak bangkit bersama menuju peradaban yg lebih mulia, maka membaca kiranya menjelma sebentuk ikhtiar yang berkomitmen dan konsisten dalam menjaga diri dan keutuhan tatanan bangsa,” pungkas Adew.

Labels: ,

Thursday, May 12, 2016

Sebarkan Budaya Gemar Membaca di Papua Barat, Melalui Noken Pustaka

Dunia Perpustakaan | Untuuk anda yang masih asing dengan kaa Noken, anda perrlu taahu yang namanya Noken yaitu berbentuk tas tradisional yang biasa digunakan oleh masyarakat Papua yang dibawa dengan menggunakan kepala dan terbuat dari serat kulit kayu.

Nah, jika orang kebanyakan di Papua bawa Noken untuk bawa barang dan sejenisnya, lain halnya dengan yang dilakukan oleh Agus Mandowen, yang justru menjadikan noken bukan untuk membawa barang seperrti orang kebanyakan di Papua, tapi justru untuk membawa buku.

Membawa noken penuh buku, para relawan Noken Pustaka mendatangi kawasan ramai orang dan pelosok yang belum terjangkau perpustakaan.

Tiap orang yang ditemui Agus Mandowen di kampung itu tampak seperti bergegas menghindar. Upayanya menyapa dengan ramah tak membawa hasil. Ada yang langsung masuk ke rumah. Ada pula yang mengibas-ngibaskan tangan, meminta dia pergi.

”Saya heran sekali. Apa yang salah dengan saya,” kenang Agus tentang peristiwa yang dialaminya pada Januari lalu itu.

Baru setelah berhasil mengajak bicara seorang warga di Kampung Arowi, Manokwari, itu, Agus jadi tahu penyebabnya. Ternyata, dia dikira pedagang buku.

Maklum, Agus membawa sebuah noken yang penuh buku.

”Dikiranya saya jualan. Padahal, buku-buku itu untuk dibaca secara gratis,” ujar pria yang juga atlet angkat berat andalan Papua Barat tersebut, lantas terkekeh.

Agus adalah salah seorang relawan Gerakan Ayo Membaca Noken Pustaka Papua.

Agus Mandowen rajin membawa noken yang berisi buku untuk dipinjamkan masyarakat di Papua secara gratis
Gerakan tersebut dipelopori Misbah Surbakti dan resmi dideklarasikan pada 15 Desember 2015. Berbarengan dengan kegiatan Pramuka di SMPN 19 Manokwari, tempat Misbah mengabdi sebagai guru.

Misbah mendirikan Noken Pustaka Papua berdasar rasa keprihatinan. Suatu hari pria asal Medan, Sumatera Utara, tersebut menyaksikan bagaimana seorang siswanya kesulitan menjawab soal ulangan.

Dia menyimpulkan, itu terjadi karena kurangnya kemampuan siswa dalam menyimak soal. ”Ini disebabkan kurang terampil atau kurang membaca. Anak-anak yang biasa membaca lebih mudah menangkap inti pesan dari sebuah tulisan,” tuturnya.

Mengutip Badan Pusat Statistik Papua Barat, angka melek huruf di Papua Barat pada 2015 sebenarnya sudah mencapai 96,88 persen. Tapi, bisa membaca jika tak dibarengi dengan ketersediaan fasilitas untuk membaca tentu percuma.

Juga, Misbah tahu, di lingkungan sekitar Manokwari serta Papua Barat, masih banyak anak yang senasib dengan siswanya tersebut. Karena itu, dia memutar otak. Mencari cara untuk membuat kegiatan nonformal yang melebur di tengah-tengah masyarakat. Misbah lantas berdiskusi dengan beberapa rekan di Jawa Tengah.

Dari sanalah lahir ide melakukan gerakan ayo membaca itu. Kalau kemudian diberi nama Noken Pustaka, alasannya, noken alias tas khas Papua yang merupakan karya budaya kaum ibu tersebut melambangkan harapan hidup.

Agus Mandowen saat hadir di acara Mata Najwa | gambar: akun twitter Najwa Shihab

”Warga pergi ke kebun dengan membawa bekal untuk satu hari gunakan noken. Juga kalau gendong bayi,’’ ujarnya.

Dalam melaksanakan kegiatan yang menyadarkan pentingnya membaca itu, Misbah dibantu beberapa relawan. Sambil membawa buku yang dimasukkan ke noken, Misbah dan ”pasukannya” mendatangi warga.

Mereka menyisir anak-anak ataupun orang dewasa di pelosok atau yang belum tersentuh perpustakan. Juga tempat-tempat di mana anak-anak dan orang ramai berkumpul. Misalnya para-para atau pantai.

”Agus Mandowen yang paling rajin mengunjungi anak-anak untuk membimbing membaca,’’ kata Misbah.

Beragam pengalaman, baik yang lucu, menguji kesabaran, maupun mengharukan, dialami Misbah dan para relawan. Agus, yang rutin mendatangi lokasi rekreasi Pantai Pasir Putih, Manokwari, misalnya, harus berkali-kali menjelaskan bahwa buku-buku yang dibawanya tidak dijual.

”Di awal-awal dulu, entah berapa kali dalam sehari saya harus jelaskan bahwa buku-buku yang saya bawa ini tidak dijual,” kata Agus.

Agus adalah atlet angkat berat kelas 105 kg. Pada pra-PON di Bandung tahun lalu, dia menduduki posisi keenam.

Bagi dia, berkeliling membawa buku bak pemanasan untuk menjaga kondisi fisik. Karena itu, dia dengan senang hati melakukannya kendati tak dibayar sepeser pun.

Dia juga tak mengeluh ketika peminat buku-buku yang dibawanya ke suatu kampung ternyata sedikit. Misalnya yang dia alami di Kali Dingin, Distrik Manokwari Barat, pada suatu siang pertengahan April lalu. Hanya tiga anak yang menghampiri.

Militansi Agus juga ditunjukkan para relawan lain seperti Novela, Yohana, dan Grisella. ”Relawan kami beragam. Ada yang atlet, ibu rumah tangga, remaja, dan mahasiswa. Mereka punya minat baca dan tertarik menyalurkannya kepada suadara-saudaranya yang lain,’’ ujar Misbah.

Dukungan untuk Gerakan Ayo Membaca Noken Pustaka kian luas setelah Misbah mengunggahnya ke Facebook. Budayawan Nirwan Ahmad Arsuka yang turut menggerakkan Kuda Pustaka di Jawa Tengah dan Perahu Pustaka di Sulawesi Barat menghubungi Misbah. Dia memuji Noken Pustaka.

”Teruskan saja dilaksanakan di tengah masyarakat, jangan hanya di sekolah,’’ ujar Misbah, mengulangi pernyataan Nirwan.

Dengan mendapat dorongan dari budayawan nasional, Misbah tambah bersemangat. Dia meminta dukungan Nirwan agar membantu menyedikan buku-buku  pelajaran, cerita bergambar, dan lainnya.

Noken Pustaka memang tak punya donatur tetap. Buku-buku berasal dari sejumlah pihak yang memiliki kepedulian dan keprihatinan yang sama. Di antaranya, alumni SMA Lab School Jakarta, penulis, pegiat literasi, penerbit Gramedia, Komunitas 1001 Buku, dan perorangan lain.

Koleksi mereka beragam. Mulai buku pendidikan usia dini, SD, SMP, SMA/SMK, hingga perguruan tinggi. Juga novel dan literatur bagi guru-guru muda plus buku-buku untuk ibu-ibu. Khususnya buku keterampilan memasak.

Uluran tangan para donatur masih diharapkan. Terutama buku-buku cerita ringan bergambar. Semakin beragam buku yang disumbangkan semakin baik. Sebab, karakter masyarakat yang didatangi para relawan juga macam-macam.

Mereka yang bermukim di pesisir pantai, misalnya, lebih cocok dikenalkan dengan lingkungan perairan dan pesisir. ”Buku-buku tentang laut, tentang ikan, supaya anak-anak bisa mengembangkan diri. Murid SD juga umumnya lebih suka membaca buku pelajaran atau cerita bergambar,” katanya.

Misbah sebenarnya sudah melaporkan Noken Pustaka kepada pemerintah setempat. Dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Manokwari dan perpustakaan daerah.

Dia berharap perpustakaan daerah dapat menghibahkan sejumlah buku untuk disebarkan kepada warga. ”Tapi sayang, sampai hari ini belum ada respons,” tuturnya.

Tapi, tanpa uluran tangan pemerintah pun, Noken Pustaka terus berkembang. Secara bertahap, gerakan tersebut menjangkau semua distrik/kecamatan di Manokwari.

Cara menjangkau warga pun semakin beragam. Mulai dengan Para-Para Noken, Rumah Baca Noken, Posko Noken, Motor Noken, Sepeda Pustaka, Pondok Noken, sampai Perahu Noken yang kini sedang diupayakan.

Sumber: pontianakpost.com

Labels: ,

Tuesday, April 12, 2016

Inspiratif: Dari Pojok Nusantara, Kini Jadi Pojok Cerpen

Inspiratif: Dari Pojok Nusantara, Kini Jadi Pojok Cerpen.


Dunia Perpustakaan | Masa muda adalah dimana masa-masa ini penuh dengan keinginan, dan jiwa semangat yang tinggi. Seperti yang dilakukan Wijaya Kusuma Eka Putra (24), yang mampu membangun usaha penerbitan dan toko buku sendiri.

Awalnya, dari sebuah kehausan akan literasi. Ketika akses membaca buku itu sulit diperolehnya semasa kecil karena keterbatasan wilayah yang ditinggalinya. Kini, Wijaya Kusuma Eka Putra, 24, tak hanya mampu mengumpulkan ribuan buku, tetapi juga membangun usaha penerbitan dan toko buku sendiri.

Eka, demikian anak muda kelahiran Sleman ini disapa. Dibesarkan di Bumi Cendrawasih, nyaris membuat Eka tak mengenal literasi. Buku-buku yang hanya dapat dibacanya ketika kali pertama dapat membaca, hanyalah majalah anak-anak. Itu pun majalah yang mungkin ketinggalan jaman karena baru beredar di tempat tinggalnya tiga bulan setelah diterbitkan.

Ayahnya seorang transmigran dari Jawa yang hijrah ke Serui, Papua. Agar anak-anaknya tetap mengenal buku atau literasi, majalah anak-anak yang cukup populer kala itu seolah menjadi buah tangan yang sangat bermanfaat.

“Ayah sering membelikan majalah tersebut, sehingga sejak itu aku menjadi tidak kaku pada literasi. Apalagi majalah itu banyak mengulas berbagai pengetahuan,” ujar Eka saat berbincang santai dengan Harianjogja.com di Dongeng Kopi, belum lama ini.

Di daerah-daerah terpencil seperti Indonesia Timur, persoalan literasi terkadang menjadi masalah utama. Toko buku hampir tidak ada di wilayah tempat tinggalnya saat masih berada di Papua.

Bahkan, fasilitas dan akses ke perpustakaan kurang memadai. Buku-bukunya pun sebagian besar tidak rekomendasi bagi anak-anak seusianya kala itu.

Seperti anak-anak remaja seusianya, selepas menamatkan bangku sekolah dasar, masa remaja kurang peduli pada literasi. Namun, bermunculannya roman-roman populer seperti Laskar Pelangi karya Andrea Hinata, Ayat-Ayat Cinta dan sejenisnya, kembali menarik Eka pada dunia buku.

Dikutip dari harianjogja.com [11/04/16]. “Itu kali pertamanya mulai membaca buku-buku yang lebih tebal. Bahkan, aku cukup rakus membacanya,” ungkap Eka.

Hobi itu tak lantas pudar ketika Eka mulai hijrah ke Jogja untuk kuliah. Alumni jurusan muamalat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Jogja ini justru kian getol berburu buku. Di kampus inilah dia menyadari minat akan literasi begitu kuat.

Di sanalah kali pertamanya Eka mengenal karya-karya dari sejumlah penulis ternama, sebut saja Hamzah Rangkuti, Joni Aryadinata, Senogumiro dan lain sebagainya.

Tak cukup puas membaca buku di perpustakaan kampus. Eka bahkan rela menyusuri perpustakaan yang ada di seluruh Jogja, dari kampus-kampus, perpustakaan kota hingga perpustakaan daerah.

“Kalau bosan, aku akan ke perpustakaan kota, perpustakaan provinsi, di sana bukunya bagus-bagus. Paling jauh ke perpustakaan Bantul, di mana di perpustakaan ini aku bisa menemukan buku yang selama ini sulit ditemukan, seperti puisi karya Wiji Tukul hingga cerpen-cerpen dunia terjemaahan Sapardi,” papar Eka. Holy Kartika N.S

Rajin Beli Buku Hingga Buka Lapak Di Kampus


Ketika buku terlalu banyak yang dibaca, hasrat ingin memiliki buku mulai mengusik pemuda kelahiran Sleman, 31 Desember 1991 itu. Sedikit demi sedikit, sebagian uang yang diperolehnya disisihkan untuk membeli buku.

Bahkan, demi buku, terkadang Eka melebihkan uang kiriman dari orang tuanya. Eka juga sempat mengajar les matematika hanya demi mendapatkan uang untuk membeli buku-buku favoritnya.

“Sampai pada titik, di mana aku tidak bisa terus membohongi orang tua. Akhirnya terpikir untuk menjual buku, setelah melihat banyak buku yang tertumpuk di kamar, beberapa dobel. Buku-buku seperti teenlit dan yang sudah tidak lagi relevan, lalu aku jual,” tukas Eka.

Media sosial yang cukup marak kala itu, Facebook, memberinya ruang yang lebih luas untuk berinteraksi dengan sesama penikmat buku dan dengan para pedagang buku. Lewat akun Pojok Cerpen, banyak pecinta buku, penulis hingga penerbit membaur berbincang hingga berbagi info tentang buku.

Lewat media sosial itulah, sirkulasi usaha buku mulai dirintisnya. Mulanya, buku-buku lama miliknya yang tak lagi relevan dijajakan melalui situs jejaring sosial tersebut. “Lalu buku yang tidak aku punya, kujual untuk membeli buku yang aku suka,” ungkap Eka.

Tak cukup memajang buku-buku di akun Pojok Cerpen miliknya. Di kampus, Eka juga melakukan pendekatan persuasif kepada teman sekampusnya agar mau membeli buku-buku miliknya. Bahkan, tak jarang Eka menggelar lapak di ruang-ruang publik di dalam kampus dengan menggandeng organisasi kampus yang disinggahinya.

“Semakin lama, apa yang aku lakukan itu semakin besar dampaknya. Akhirnya, aku harus mulai membedakan jualan buku sebagai bisnis, dan jualan buku sebagai pemenuhan kebutuhanku. Sebagai bisnis, usaha ini harus memenuhiku secara personal dan kita harus punya tabungan. Secara hobi kita tidak perlu beli buku,” jelas Eka.

Labels: ,