<data:blog.pageTitle/>

This Page

has moved to a new address:

http://duniaperpustakaan.com

Sorry for the inconvenience…

Redirection provided by Blogger to WordPress Migration Service
Dunia Perpustakaan | Informasi Lengkap Seputar Dunia Perpustakaan

Tuesday, October 29, 2019

Perpustakaan Beijing Jingshan School yang Memukau

Dunia Perpustakaan | Sudah lama kami tidak memberikan referensi terkait dengan perkembangan perpustakaan-perpustakaan di berbagai negara.

Betapa kami agak terkejut dalam perkembanganya saat ini, kami mendapatkan informasi dari banyak sumber, tentang betapa masif dan cepat perkembangan perpustakaan di banyak negara.

Kemajuan-kemajuan yang kami maksud tersebut diantaranya terkait dengan renovasi besar-besaran terkait dengan design dan fasilitas perpustakaan di banyak negara.

Kali ini kita akan mengupas salah satu renovasi perpustakaan sekolah di Beijing Jingshan School yanga ada di China.

Baru-baru ini Beijing Jingshan School  melakukan renovasi total terkait dengan fasilitas perpustakaan di sekolah mereka.

Fasilitas perpustakaan sangat nyaman dan lengkap | gambar: archdaily.com
Perlu kita ketahui, Beijing Jingshan School merupakan sekolah menengah dan dasar, yang terletak di jalan Dengshikou di Beijing, Cina.

Beijing Jingshan School didirikan pada tahun 1960, dan merupakan pusat koneksi untuk Rencana Pendidikan Baru Asia UNESCO.

Untuk menopang kenyamanan siswanya, Beijing Jingshan School merenovasi total perpustakaan sekolah mereka dengan sangat megah, nyaman, dan sudah pasti sangat instagramable sehingga perpustakaan ini benar-benar menjadi tempat paling favorit di sekolah tersbut.

Perpustakaan ini terletak di dalam bangunan utama sekolah, sehingga semua siswa sangat mudah untuk menjangkau perpustakaan ini.

Untuk lebih lengkapnya, mari kita ulas setiap sisi dari bangunan di Perpustakaan Beijing Jingshan School sebagai berikut;

Bagian depan dari Perpustakaan Beijing Jingshan School | gambar: archdaily.com
Design dari depan, perpustakaan ini cukup simple tapi sangat modern, sehingga membawa kesan luas, nyaman, dan sangat menonjol dibandingkan dengan ruangan sekolah yang lain.

Ruang Informasi untuk pustakawan | gambar: archdaily.com
Saat masuk ke dalam, pengunjung akan disambut ruang informasi pustakawan. Melalui ruang informasi ini para siswa bisa menanyakan kepada pustakawan terkait dengan semua hal yang terkait dengan perpustakaan ini.

Rak buku tersusun dengan sangat rapi dan memudahkan siswa menemukan buku yang mereka cari | gambar: archdaily.com

Semua rak buku yang ada disini disusun dengan sangat rapi dan sangat menyesuaikan dengan bentuk ruangan sehingga sangat nyaman untuk para siswa yang hendak baca buku disini.

Siswa bisa memilih tempat baca sesuai dengan yang disuka | gambar: archdaily.com
Siswa bisa baca dengan santay dan nyaman | gambar: archdaily.com
Disediakan banyak busa yang bisa anda pakai duduk dimanapun yang anda suka | gambar: archdaily.com
Para siswa bisa memilih berbagai pilihan untuk membaca buku sesuai dengan yang mereka suka. Ada yang lesehan dengan disediakanya busa untuk duduk, ada juga siswa yang duduk diatas berdekatan dengan buku-buku yang ada di rak, yang pasti mau baca buku dimanapun, semua merasa nyaman.

Pencahayaan di setiap rak cukup terang. | gambar: archdaily.com

Pencahayaan di setiap rak buku cukup terang sehingga sangat memudahkan para siswa menemukan buku-buku yang mereka cari.

Ukuran rak juga disesuaikan dengan tinggi rata-rata siswa disana, sehingga dipastikan para siswa akan dengan mudah menjangkau buku yang terletak di setiap rak buku yang ada.
Kegiatan Belajar Mengajar bisa dilakukan di dalam perpustakaan | gambar: archdaily.com
Dengan fasilitas perpustakaan yang sangat lengkap dan nyaman ini, para guru dan siswa bisa juga melakukan kegiatan belajar mengajar di dalam perpustakaan.

Hal ini memudahkan guru dan siswa untuk betah di perpustakaan, atau sekedar membuang kejenuhan karena siswa dan guru terlalu jenuh jika harus melakukan kegiatan belajar mengajar di kelas terus.

Singkatnya, perpustakaan di Beijing Jingshan School ini disipakan untuk para siswa agar mereka nyaman di perpustakaan, sehingga mereka tidak punya alasan untuk tidak datang ke perpustakaan.

Apa yang kita lihat dari fasilitas di Beijing Jingshan School ini menunjukan betapa negara China sangat serius untuk meningkatkan mutu Sumber Daya Manusia (SDM) warga negaranya, sehingga sebagai bukti keseriusan mereka yaitu dengan cara menyediakan berbagai fasilitas perpustakaan terbaik di setiap sekolah di China.

Jadi tidak berlebihan, dengan keseriusan yang dilakukan oleh pemerintah China tersebut, hari ini dan yang akan datang, China memiliki impian untuk bisa menjadi negara terbaik di dunia.

Bagaimana dengan Indonesia?

Semoga saja cepat atau lambat, negara kita juga sedang berjuang untuk menuju ke arah sana, Semoga!

Labels: ,

Saturday, September 14, 2019

Sinergitas Kepala Sekolah, Guru dan Pengelola perpustakaan Sekolah untuk memperingati Hari Kunjung Perpustakaan

Dunia Perpustakaan | Lampung Selatan, SMPN 1 Rajabasa, Lampung Selatan Menyiapkan souvenir bagi pengunjung perpustakan untuk menanamkan kecintaan pada buku. Ada pun salah satu caranya adalah dengan menggencarkan budaya membaca melalui Hari Kunjung Perpustakaan yang diperingati setiap tanggal 14 September .

Endang Suryani,S.Pd. MM, Kepala Sekolah SMPN 1 Rajabasa, mengatakan, langkah sekolah melestarikan Hari Kunjung Perpustakaan untuk menanamkan kecintaan membaca. Hal ini didukung oleh fasilitas perpustakaan, koleksi buku memadai dan antusiasme pelajar, serta duta baca dan sejumlah guru.

Menurutnya, kegiatan HKP tidak lepas dari langkah Presiden ke-2 RI, HM. Soeharto, yang menetapkan 14 September sebagai Hari Kunjung Perpustakaan.

Presiden Soeharto meresmikan 14 September sebagai Hari Kunjung Perpustakaan pada 1995. Peresmian tersebut berdasarkan surat Kepala Perspustakaan RI Nomor 020/A1/VIII/1995, pada 11 Agustus 1995.

Mengingat minat baca masyarakat Indonesia yang masih rendah dari negara lain, HKP sangat relevan dilestarikan hingga kini.

“Kegiatan positif tentunya akan didukung oleh sekolah, karena SMPN 1 Rajabasa sudah memiliki fasilitas sekolah serta telah dikukuhkannya duta literasi sekolah pada Agustus lalu,” tutur Endang Suryani, Sabtu (14/9/2019).

Sejarah HKP tersebut menjadi acuan, bahwa pemerintah memiliki peran ikut menumbuhkan ketertarikan membaca. Sekolah melalui dukungan orang tua, siswa dan guru, terus melakukan upaya melestarikan kegemaran membaca buku.

Pengukuhan siswa bernama Hamdani dan Helga Apriliani sebagai duta literasi oleh sekolah bekerjasama dengan TIEM SATGAS GERAKAN LITERASI SEKOLAH (GLS) , sekaligus menjadi bentuk keseriusan sekolah menanamkan budaya literasi .

Tugas duta literasi yang dikukuhkan sekolah salah satunya mengajak siswa SMPN 1 Rajabasa gemar membaca buku. Pada waktu senggang, fasilitas perpustakaan bisa dipergunakan untuk menimba ilmu melalui membaca buku. Terlebih dengan adanya HKP, menjadi motivasi pelajar akan adanya waktu khusus untuk kunjungan ke perpustakaan.

Labels:

Thursday, August 16, 2018

73 Tahun Merdeka, 34,19% Sekolah di Indonesia Belum Miliki Perpustakaan

Dunia Perpustakaan | Miris! kata ini masih terus harus kita suarakan untuk menggambarkan kondisi perpustakaan sekolah di Indonesia. Dalam aspek perbaikan tentunya kita tetap memberikan apresiasi kepada pihak-pihak yang ikut terlibat aktif dalam meningkatkan perbaikan di bidang perpustakaan ini.

Namun kita tidak boleh berpuas diri, karena faktanya berdasarkan data terbaru 2018 ini, masih banyak sekolah di negeri ini belum miliki perpustakaan.

Dahulu, saat APBN untuk pendidikan belum mencapai 20%, banyak pihak menyatakan, Seandainya APBN untuk pendididikan mencapai 20%, niscaya pendidikan di Indonesia akan maju. Namun faktanya, setelah APBN pendidikan diterapkan mencapai 20%, toh kabar sekolah ambruk, sekolah tak miliki perpustakaan masih terdengar hingga kini.

Kami kutipkan dari data yang beberapa saat lalu sudah dipublikasikan oleh beritagar.id , disebutkan bahwa berdasarkan Tim Lokadata Beritagar.id mengolah data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tentang jumlah dan persentase kondisi perpustakaan sekolah di 34 provinsi. Sebanyak 34,19 persen sekolah di Indonesia belum memiliki perpustakaan.

Ironisnya, dari masih sedikitnya sekolah yang sudah memiliki perpustakaan, ternyata rata-rata perpustakaan sekolah mereka sebagian besar dalam kondisi rusak.
Berdasarkan data yang sudah diperbaharurui pada 2018, provinsi dengan perpustakaan terbanyak mengalami kerusakan, baik ringan maupun berat, di antaranya Aceh (74,8 persen), Lampung (74,1 persen) Sulawesi Barat (72,7 persen) dan Papua Barat (72,5 persen).

Untuk bisa memiliki sekolah yang layak dan merata di Indonesia saja masih sulit, apalagi harus bermimpi untuk perpustakaan ada di setiap sekolah? | gambar: suaranusantara.com 
Di Pulau Jawa kecuali Jakarta, rata-rata kerusakan yakni mencapai angka, mulai dari 60 hingga 70 persen. Sementara di Nusa Tenggara dan Papua, kerusakan lebih parah akrena kerusakanya lebih dari 70 persen.
"Jumlah perpustakaan rusak itu karena banyak faktor dan bagus tidaknya pengelolaan pendidikan daerah indikatornya bukan hanya itu. Perlu dilihat juga siapa yang mengelola, apakah Dinas Perpustakaan atau Dinas Pendidikan," kata Najeela.


"Daerah yang pencapaian (standar perpustakaan dan pendidikan) tidak optimal, ini yang harus didukung. Yang terjadi justru malah diberi hukuman dan bukan dibantu seperti penambahan biaya BOS. Itu kan aneh," katanya.

Najeela juga melihat kesenjangan di Jakarta dan kota besar lainnya dibandingkan dengan di daerah. Siswa sekolah di Jakarta, punya akses yang lebih banyak terhadap perpustakaan sekolah dengan fasiltas seperti koleksi buku yang mendukung. Kondisi tersebut jarang bisa dirasakan oleh mereka yang tinggal di Papua.

Untuk menyikapi kesenjangan ini, Najeela menyarankan perlunya perbedaan politik anggaran untuk membangun perpustakaan dan fasiitas sekolah lainnya yang sesuai dengan konteks dan kondisi kemampuan tiap daerah.

"Politik anggaran harus beda, masalahnya semua disamakan padahal ekosistem dan kondisi daerah beda. Juga tidak ada peningkatan kapasitas pemerintah daerah, ada yang paham soal perpustakaan, ada yang tidak tahu sama sekali," katanya.

Jika merujuk aturan, tiap perpustakaan harus memenuhi standar nasional, meliputi koleksi, sarana dan prasarana, pelayanan, tenaga, penyelenggaraan, pengelolaan, dan integrasi dengan kurikulum.

Namun, lagi-lagi untuk pemenuhan standar tersebut membutuhkan uang.

Labels:

Monday, August 13, 2018

Jadilah Kepala Sekolah yang Peduli Nasib Perpustakaan Sekolah dan Pustakawan

Dunia Perpustakaan | Kalau secara teori, semua orang pasti sepakat bahwa perpustakaan sekolah itu adalah jantung dari sebuah sekolah. Hal tersebut dikarenakan perpustakaan sekolah yang dikelola dengan baik akan mampu meningkatkan mutu dan mendukung kwalitas SDM dari para siswa dan guru juga karyawan di sekolah tersebut.

Namun sayangnya, teori tersebut tak seindah dengan realita di lapangan.

Kami sudah berkali-kali berinteraksi dengan pustakawan maupun guru yang merangkap untuk mengurusi soal perpustakaan sekolah. Mereka selalu sering mengeluhkan atas kondisi perpustakaan sekolah mereka.

Walaupun akhir-akhir ini kami bersyukur karena semakin sering bertemu dengan kepala sekolah yang mereka sangat peduli memajukan perpustakaan sekolah juga sangat menghargai profesi para pustakawan/pengelola perpustakaan di sekolah mereka.

Namun tetap saja, kalau dihitung jumlahnya masih jauh lebih banyak kepala sekolah yang belum peduli akan keberadaan perpustakaan di sekolah mereka.

(Baca juga: Nasib Pustakawan Swasta dan Pustakawan PNS serta Dinamika Perpustakaan di Sekitar Kita)

Kami sendiri sudah berkali-kali dihubungi pengelola perpustakaan sekolah yang selalu berkeluh kesah atas nasib perpustakaan mereka yang kurang terurus.

Diantara curhatan tersebut mulai dari minimnya anggaran, minimnya gaji pustakawan, minimnya fasilitas perpustakaan, minimnya koleksi buku, rusaknya rak buku dan meja kursi baca, dan lain-lainya.

Jika kebetulan saja anda kepala sekolah yang sedang membaca tulisan ini, dan mungkin anda memiliki berjuta alasan untuk melakukan pembelaan atas ketidakmampuan anda dalam mengelola perpustakaan sekolah yang ada di sekolah anda, kami sarankan berhentilah membuat berjuta alasan tersebut.
Tidakkah kalian wahai para kepala sekolah diingat oleh siswa dan guru sebagai kepala sekolah yang peduli dengan perpustakaan sekolah anda? Atau justru anda ingin dikenang sebagai Kepala Sekolah yang sangat tidak peduli dengan perpustakaan Sekolaha Anda? | gambar: kingdown.wilts.sch.uk

Hal itu karena semakin anda mencari-cari dalih dan pembenaran atas masalah ketidakmampuan anda mengelola dan memajukan perpustakaan anda, maka dipastikan itu akan menjadikan anda semakin tidak mau mengurusi kondisi perpustakaan sekolaha nda.

Padahal solusinya sudah sangat banyak.

Jika anda ingin tahu bagaimana supaya bisa menjadi kepala sekolah yang bisa memajukan perpustakaan sekolah di sekolah anda, maka belajarlah dan terus belajar kepada kepala-kepala sekolah di Indonesia yang sudah semakin banyak yang bisa dan mampu memajukan perpustakaan sekolah mereka.

Hampir setiap tahun selalu ada lomba-lomba perpustakaan sekolah, mulai dari tingkat kota/kabupaen, propinsi, hingga nasional. Jika memang anda serius ingin memajukan perpustakaan sekolah anda, belajar dan teruuuuslah belajar kepada mereka agar bisa terus lebih baik.

Jika kalian beranggapan bahwa masalah ada pendanaan, carilah tahu kepada kepala sekolah yang sudah lebih dahulu mampu memajukan perpustakaan sekolah mereka, bagaimana mereka bisa memperoleh dana untuk memajukan perpustakaan sekolah mereka, begitu seterusnya.

Pada akhirnya, semua sangat ditentukan akan NIAT atau TIDAKNYA kepala sekolah untuk MAU dan MAU untuk memperjuangkan perbaikan perpustakaan di sekolah mereka.

Jika kepala sekolah MAU dan NIAT untuk memajukan perpustakaan sekolah, apapun dan bagaimanapun caranya, pasti akan ada jalan untuk bisa memajukan perpustakaan sekolah mereka.

Namun kalau sudah tidak ada niat, maka akan ada BERJUTA ALASAN untuk tidak akan pernah peduli dan memajukan perpustakaan di sekolah mereka.

Jadilah Kepala Sekolah yang akan dikenang kebaikan anda saat menjabat kepala sekolah karena peduli memajukan perpustakaan sekolah di sekolah anda, daripada akan diingat menjadi kepala sekolah yang sangat tidak peduli dengan nasib perpustakaan dan pustakawan di sekolah yang anda pimpin.

Pilihan anda pada tindak-tanduk dan kebijakan anda, wahai Kepala Sekolah!

Labels: ,